
Makanan sudah tersaji. Perut yang lapar sudah terisi. Meskipun Caffe yang Roy buka ini baru, dan juga tidak terlalu mewah. Namun, desain tempatnya sangatlah unik, dengan tetap mengutamakan unsur modern masa kini. Pelayanannya pun sangatlah bagus, gerak cepat tanpa harus menunggu lama. Setiap ada tamu-tamu yang datang. para karyawan yang bertugas sebagai pengantar menu makanan, sudah mengikuti mereka dari belakang. Jadi, tak perlu sibuk untuk memanggil mereka ditengah keramaian yang ada.
Makanan-makanannya, juga sangat lezat. Tak kalah, dari masakan koki-koki restoran bintang lima. Hal itu terbukti, dari makanan yang, Joe, makan saat ini. Tak bersisa sedikitpun. Apalagi, Tania, wanita itu sudah meghabiskan seluruh makanannya lebih dulu dibandingkan dengan, Joenathan.
Ya, Tania sangat lahap. Dia memesan tiga porsi makanan dengan satu jenis menu yang sama. Dan, Tania, ternyata sanggup menghabiskan itu semua. Bahkan, tambahan dua porsi makanan yang lainnya, juga habis disantap.
Joe, sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. Tak, menyangka jika porsi makan, Tania, seperti itu.
“Sayangku, apa kau mau nambah lagi?” Joe, bertanya sembari mengedarkan pandangan kearah perut, Tania, yang terlihat masih rata.
Keman dia membawa makanan-makanan itu ya?
Joe, sungguh tak habis pikir, dengan apa yang baru saja ditontonnya.
“Alhamdulillah, sudah kenyang. Heheh,” Tania terkekeh kecil sambil mengusap perut ratanya.
Lagi-lagi, Joe, dibuat geleng-geleng kepala melihatnya.
“Melihat sayangku yang makan seperti tadi, membuatku jadi kepikiran. Apa beberapa hari ini sayangku tidak makan?” wajah Joe, terlihat sangat serius saat bertanya.
“Makan!” Tania menjawab dengan sangat cepat. “Bahkan, dalam sehari aku bisa makan hampir sepuluh kali!” timpal, Tania, lagi.
“Benarkah? Tapi, kenapa aku tidak pernah melihatmu makan sama sekali?” tanya Joe, yang penasaran. Karena, memang selama ini, Joe, sendiri tidak pernah sekalipun melihat, Tania, menyantap makanannya.
“Aku, makan saat kau sedang sibuk. Sengaja, menyuruh pelayanmu untuk tidak memberitahumu. Karena, jika tidak, aku mengancam untuk tidak akan makan apapun yang mereka suguhkan jika melapor kepadamu,” jelas Tania.
“Kau, sengaja menyembunyikannya dariku?”
“Ya!” menjawab dengan raut wajah tanpa dosa.
“Berani sekali kau ya,” Joe, memicingkan mata. “Padahal, setiap hari. Aku selalu gelisah, takut kau kekurangan gizi karena tidak makan,” Joe kembali menimpali.
__ADS_1
“Itu hukuman untukmu karena sudah berani berbuat jahat kepadaku. Hahah!” dengan enteng, Tania, menjawab. Yang kemudian, disusul gelak tawanya.
“Tania, kau—“ Joe, tak menuntaskan kalimatnya. Itu semua karena, Tania, yang dengan cepat menyanggahnya.
“Apa, mau marah? Silahkan,” Tania dengan tenang mempersilahkan.
Ya, Tuhan… berat sekali cobaanmu ini, sabar-sabar.
Batin Joe.
Dari arah dapur. Terlihat, seorang pria dengan tinggi yang sama dengan, Joe, sedang berjalan kearah mereka. Melihat, pandangan, Tania, yang mengarah kepadanya. Pria itupun lantas melemparkan senyum hangatnya. Begitu
juga kepada, Joe. ia seolah tak sungkan melemparkan senyum yang sama saat, Joe, mulai ikut meliriknya.
Ya, Joe, penasaran. Sekilas, Tania, terlihat tersenyum kearah sosok yang ada dibelakangnya. Membuat, Joe, tak tahan untuk melihatnya. Sebenarnya, siapa yang telah mampu membuat istrinya itu tersenyum seperti itu sekarang. Sangat lembut, dan juga penuh dengan kehangatan.
Roy, telah mendekat. Dan, kini ia juga sudah berdiri tepat dihadapan samping Tania dan juga Joenathan.
“Hai, Kak Roy!” Tania, balas menyapa. “Hari ini, Nia, sengaja bawa, Joe, untuk makan di sini. Mengenal, masakan, Kak Roy, yang luar biasa enaknya,” puji Tania. Yang kemudian, melirikkan matanya kearah, Joenathan.
Joe, mengangguk. Ya, walau bagaimanapun yang dikatakan, Tania, barusan memang benar. Masakan, Roy, sungguh sangat luar biasa. Sehingga, membuat, Joenathan, haruss mengakui itu.
“Sayangku, memang benar. Masakan, Kak Roy, memang sungguh nikmat,” tukas, Joe.
Terlontar sebuah pujian. Namun, juga terselip sebuah cibiran. Dibalik cara, Joe, saat menyampaikan.
“Terimakasih, atas pujiannya. Tuan Joe, sungguh sangat pandai sekali menyanjung,” Roy, berusaha tetap merendah diri. Tak ingin, terlalu tinggi. Karena sudah tau, dengan siapa saat ini sedang berbicara. Terdengar manis, tapi tak menutup kemungkinan juga untuk nanti menyerang.
“Joe, berkata benar, Kak. Makanan yang ada di sini, semuanya terasa lezat. Lihat saja, Nia dan Joe, menghabiskan semuanya di sana, tanpa sisa.”
Tunjuk, Tania, kearah sisa-sisa piring kotor yang ada di sana. Dan, Roy juga ikut menyaksikannya.
__ADS_1
“Kalau begitu, terimakasih karena sudah mau mencicipi makananku. Aku, berharap. Jika lain kali kalian akan kembali lagi kesini, untuk menyicipi makanan-makanan yang lainnya,” Roy, menyunggingkan senyumnya.
“Pasti, kami akan kembali lagi kesini,” Joe, menimpali. “Tapi, sekarang, aku, ingin berbicara sesuatu dulu kepadamu,” tambah, Joe, lagi.
“Sesuatu, apa itu?” Roy, mengernyitkan dahi. Penasaran, dengan apa yang sebenarnya, Joe, inginkan.
“Aku, ingin berinvestasi di Caffemu ini. Menyumbangkan sedikit modal, supaya, Kak Roy, lebih bisa mengembangkan usaha ini dengan lebih maju.” kata, Joe.
Joe, sengaja memanggil, Roy dengan sebutan 'kakak' agar pria itu tau posisinya.
Roy, terdiam. Sementara, Tania, hanya tersenyum mendengarnya. Hingga kemudian, Tania, pun juga berusaha mendorong, Roy, agar mau menerima kerjasama yang ditawarkan.
Jarang-jarangkan, Joe, melakukan hal seperti ini. Biasanya, setiap kali bertemu dengan pria yang berada di sekitar, Tania. Joe, akan menunjukkan wajah tidak bersahabatnya. Bahkan, ia akan selalu menyinggungnya, dengan kalimat-kalimat pedas yang telah terangkai indah di bibirnya. sehingga, tak perlu lagi naskah u tuk mengingat semuanya.
“Kak, Roy. terimalah,” pinta, Tania. wanita, itu juga sangat ingin melihat usaha Roy ini berkembang jauh lebih pesat.
“Berhubung saat ini, Tania, sedang hamil. Maka, kami akansering-sering datang ke tempat ini. Jadi, ku harap, Kak Roy, dapat menyediakan tempat khusus untuk kami.” Joe, kembali mengutarakan keinginannya.
“Apa! Nia, hamil!” wajah, Roy seketika berubah. “Wah… selamat, Nia. Selamat atas kehamilannya, sebentar lagi kau dan Joe, akan menjadi pasangan yang sempurna. Berganti status menjadi orangtua, dari anak-anak kalian nantinya.”
Senyum, Roy semakin melebar. Ingin sekali rasanya, ia memeluk Tania sekarang. Namun, niat itu terpaksa Roy urungkan, karena ada, Joe, di sana. Roy, tidak ingin, jika, Joe, tiba-tiba murka kepadanya. Terlebih, di dalam sana banyak sekali para pengunjung berdatangan.
“Kak Roy, makasih,” Tania, membalas, Roy, dengan melemparkan senyum yang sama terhadapnya.
“Hmm, sama-sama.”
Pria ini, sungguh sama sekali tidak cemburu ataupun sedih saat mengetahui jika sayangku sedang hamil. Apa jangan-jangan, dia memang sudah benar-benar mengikhlaskan, Tania, untukku?
Pertanyaan itu tercetus begitu saja.
“Ngomong-ngomong, Tuan Joe. Aku, mau menerima tawaranmu yang tadi. Sepertinya, cukup menarik! Dan juga, setelah kerjasama yang terjalin ini. Aku, Roy, akan membuat tempat ternyaman untuk kalian berdua di sini. Sehingga, Anda dan Tania, akan merasa nyaman dan juga puas dengan kenyaman ini.” Tukas, Roy, dengan gurat wajah yang sangat bersemangat.
__ADS_1
TBC.