
Sial! Gara-gara Joe tadi malam yang tak ingin melepaskan ku, jadinya aku tidak bisa berjalan dengan normal sekarang.
Gerutu Tania kesal.
Ia melangkah, menyeimbangkan diri dengan langkah Joe, berusaha tetap berjalan berdampingan dengan nya. Rasa sakit yang ada di bagian perut bawah pun ia tahan.
“Joe, bisakah kau berjalan dengan pelan.” Ucap Tania menengadahkan kepalanya kearah samping.
“Kenapa?” tanya Joe datar.
“Masih berani bertanya kenapa? Semua ini karenamu.” Decak Tania menahan suaranya.
“Karena Aku?” Joe menghentikan langkah nya. “Bukankah kau juga sangat menikmatinya tadi malam.” Bisik Joe kemudian.
“Joe, bisa-bisa nya kau…”
Tanpa ingin mendengar kelanjutan ucapan Tania. Joe lantas mengangkat tubuhnya kedalam pangkuan nya. Sontak saja hal itu membuat Tania sangat terkejut.
“Joe, Kau!”
“Ssstt! Diamlah. Biar aku menggendongmu sampai kedalam ruangan.” Ucap nya lembut.
“Tapi Joe, disini…”
“Kenapa? Apa kau malu?” tanya Joe.
“Tidak, bukan seperti itu, aku hanya…”
Lagi-lagi Joe menyela perkataan Tania.
“Sudah diamlah, nikmati saja. Jika tidak, maka aku tak akan segan-segan mencium bibir mu disini sekarang.” ancam Joe.
Tania diam. Ucapan Joe barusan berhasil membungkam mulutnya. Bagaimana pun Joe adalah pria yang nekat, dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya. Hingga akhirnya, Tania memilih menurut apa yang di lakukan Joe sekarang.
“Hmm, begini lebih bagus.” Senyum Joe.
Di langkahkan nya kaki nya seraya menggendong Tania didalam pelukan nya. Membuat para karyawan yanga ada disana, mulai membicarakan nya.
“Wah, so sweet banget.” Salah satu karyawan terlihat mengagumi keduanya.
“Presdir kita terlihat begitu menyanyngi istrinya. Andai saja pria seperti ini stok nya tidak terbatas, aku juga ingin mempunyai satu.” Timpal karyawan lainnya.
“Kau dengar, mereka semua menginginkan perlakuan seperti ini dari pasangan nya.” kata Joe.
Tania menjawab dengan menyunggingkan senyum nya.
Mereka belum tau saja, jika pria ini begitu gila jika sedang di ranjang.
Gumam Tania.
Langkah demi langkah Joe tapaki. Membawa sang istri tercinta didalam dekapan nya. Menyusuri setiap sudut kantor yang mereka lewati. Hingga akhir nya, saat mendekati pintu ruangan nya. Disana sudah ada Bayu, Wulan dan juga Katty disana.
“Kalian, sedang apa disini?” Tanya Joe mengerutkan dahinya.
Sementara Katty yang ada disana terlihat menatap sinis kearah Tania yang masih di rangkul erat oleh Joe.
Dasar gadis kampung! Entah pelet apa yang di pakai nya sehingga membuat Joe bisa bersikap seperti ini padanya.
Gumam Katty.
__ADS_1
Karena dulu setahu Katty. Joe sangat menjaga wibawa nya di depan khalayak ramai. Namun hari ini, Joe malah menggendong Tania dari pintu masuk gedung kantornya hingga sampai di depan ruang kerja nya.
“Joe.” Sapa Katty.
Joe tak menggubris. Pandangan nya kini menatap lekat kearah Bayu yang juga ada disana.
“Begini Bos, hari ini kita ada pertemuan mendadak dengan Nona Katty. Katanya proyek yang akan kita jalankan ada sedikit perubahan.” Jelas Bayu.
“Apa kau tidak bisa menelfonku jika ada hal mendadak seperti ini?” tanya Joe.
“Sudah, tapi Bos tidak menjawab.” Jelas Bayu.
Joe merogoh kantong celananya, mengambil ponsel nya. Di tatap nya kelayar ponsel, memeriksa panggilan masuk dari Bayu.
“Oh tidak, aku lupa mengganti mode ponselnya.” Lirih Joe.
“Sepertinya Bos kita telah melewatkan waktu yang sangat panas tadi malam. Sehingga membuat mode diam di ponselnya.” Senyum Bayu sumringah, di susul kekehan Wulan saat itu juga.
Katty semakin menatap sinis kearah Tania. Kekesalan nya semakin bertambah saat melihat begitu banyak bekas merah hasil jerih payah Joe tadi malam yang bertengger indah di leher Tania. Merah pekat, menandakan sang
pembuat begitu bergairah saat membuat nya.
Katty mengepalkan tangan nya.
Sial! Kenapa aku jadi semakin kesal saat melihat bekas merah itu. Pasti, tadi malam Joe melakukannya dengan sangat baik.
Gumam Katty.
“Ehm,” Tania mengeluarkan suaranya.
Tatapan sinis dari Katty membuat Tania merasa tak nyaman.
“Kau kenapa? Sakit?” Joe menatap khawatir kearah Tania.
“Hmm, benarkah?” tanya Joe kembali seolah masih tak percaya.
“Benar.” Dengan cepat Tania menjawab.
“Kalau begitu Aku akan segera membawa mu masuk kedalam. Perjalanan tadi pasti membuatmu lelah.” Joe kini melangkahkan kakinya menuju ke pintu ruangan nya.
Ceklek!
Bayu membuka pintu ruangan Joe. Melihat Joe yang tengah menggendong Tania membuat Bayu berinisiatif melakukan nya.
Joe pun melangkah masuk kedalam. Namun baru saja dua langkah kakinya menapaki ruangan nya, Joe pun kini kembali menoleh.
“Wulan, ambilkan air dingin dan bawa kemari.” Titah Joe dengan suara datar. “Ingat untuk bergerak secepat mungkin. Aku tak ingin kesayangan ku menunggu lama hingga membuat dahaga nya kering.” Tambah Joe lagi.
“Baik Tuan, segera Saya laksanakan.” Angguk Wulan.
Ia pun lalu segera membalikkan badan nya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Joe pun kian melangkahkan kakinya memasuki ruangan nya. Dengan gerakan sambil berjalan, Joe kemudian memerintahkan Bayu untuk segera menutup pintu ruangan nya.
“Bayu, tutup pintunya. Rapat masalah pengembangan proyek akan kita adakan dua puluh menit lagi.”
“Baik Bos!”
Dengan segera Bayu pun menutup pintu ruangan Joe disana.
Di dalam ruangan.
Joe menurunkan Tania dan mendudukkan-nya diatas sofa besar yang ada di ruangan nya. Dengan gerakan lembut yang di lakukan Joe. Kini Tania sudah duduk disana dengan baik.
__ADS_1
“Sayang, duduk disini dulu ya. Sebentar lagi Wulan pasti akan datang membawakan minuman untuk mu.” Ucap Joe lembut.
“Hmm, ya.” sahut Tania.
Tania pun kini mulai menggerakkan tangan nya kearah pinggang.
“Kenapa? Sakit?” Tanya Joe.
“Hmm, karenamu.” Ketus Tania.
“Baiklah.”Joe kini ikut duduk disamping Tania. “Karena ini ulahku, maka sekarang juga Aku akan bertanggung jawab.” Meraih tangan Tania dan menaruh nya di sofa.
“Apa yang kau lakukan!” Tania terperanjat di tempatnya.
“Tidak ada, hanya membantumu meredakan rasa nyeri saja.” Joe mulai menekan pelan pinggang Tania.
Perlahan, lembut dan penuh perasaan. Joe memijat-mijat kecil pinggang Tania.
Hmm, tak ku sangka. Ternyata Joe bisa melakukannya juga.
Tania merasa nyaman sekarang.
Rasa sakit itu perlahan berkurang seiring pijatan dari tangan Joe sekarang.
“Gimana? Enak kan?” bisik Joe yang mendekatkan wajah nya di belakang telinga Tania. Membuat aroma tubuh Tania otomatis tercium olehnya.
Hmm, wangi sekali..
“Lumayan.” Sahut Tania.
Gerakan Joe mulai memutar, yang awalnya hanya di bagian pinggang saja kini sudah naik keatas menggerayangi tubuh Tania. Sontak saja hal itu membuat Tania merinding hingga secara reflek mengeluarkan suara, rintihan kecil disana.
“Joe, emm…” Tania memegang kedua tangan Joe, menghentikan aktivitasnya sekarang. “Joe jangan, sekarang ini kita di kantor.” Kata Tania, berharap Joe mengerti.
“Kenapa memang nya? Ini kantor ku, apa yang kulakukan semuanya terserah padaku.” Kata Joe seraya menyibak rambut Tania dari belakang.
“Emm, tapi Joe, kau sedang ada rapat sekarang. Para pegawaimu sedang menunggu kehadiran mu disana.” Berusaha mengingatkan Joe akan tugas nya.
“Aku tidak peduli, biarkan mereka menunggu. Yang ku tau saat ini adalah, Aku menginginkanmu.” Mulai menciumi belakang leher Tania.
Sementara itu, di luar ruang.
Wulan berjalan dengan sangat tergesa-gesa dengan sebotol air mineral di tangan nya. Setibanya di depan ruangan Joe, ia melihat Katty dan Bayu yang masih setia berdiri disana. Mungkin mereka menunggu Joe keluar, begitu pikir nya.
Tanpa berbasa-basi dengan mereka. Wulan pun kini melewatinya, berjalan kearah pintu ruang presdir lalu membukanya.
Ceklek!
Tanpa mengetuk terlebih dahulu. Segera, Wulan pun masuk kedalam dan melihat.
“Ups, sorry.”
Apa yang terjadi selanjutnya ya? Apa yang sebenarnya di lihat Wulan hingga membuatnya mengucapkan kata maaf? Kalian penasaran kan, Ra juga^^ maka dari itu stay terus untuk episode selanjutnya ya.
Mampir juga ke karya Ra yang lainnya, dengan judul.
1. Ternyata ini Cinta
2. Pengantin yang tak Dirindukan
3. Pengantin yang tak Dirindukan (2)
Happy reading! terimakasih^^
__ADS_1
TBC.