CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 178


__ADS_3

“Eh, sa-sayang!” Joe, berseru seketika tersadar dalam lamunannya.


“Kau, kenapa?” tanya, Tania, dengan tatapan yang terlihat menelisik.


Sebenarnya, Tania, sudah tau. Namun, ia berpura-pura polos seakan tidak tau.


“Aku, e—“ Joe, tak menghabiskan kalimatnya. Kedua alisnya sedikit terangkat, dengan senyum kecut yang tersungging di bibirnya. Tangannya, kini terlihat menggaruk-garuk kepalanya, yang tiba-tiba saja terasa gatal.


“Joe,” Tania, mengerutkan dahinya. Menatap, Joe, dengan tatapan heran.


Sadar akan dirinya yang terlihat salah tingkah. Joe, pun lantas segera memperbaiki sikapnya, berusaha sesantai mungkin sekarang.


“Sayang, kenapa belom tidur?” tanya, Joe, berusaha mengalihkan pembicaraan.


Tania, tau akan hal itu. Dan, sepertinya ia memutuskan untuk tak lagi mempermasalahkannya.


“Perutku terasa lapar, sehingga membuatku tak bisa tidur,” keluh, Tania, sembari mengelus pelan perutnya yang rata.


“Lapar?” Joe, menaikkan kedua alisnya. Matanya, terlihat menatap kearah perut, yang saat ini sedang diusap pelan oleh, Tania.


Tania, menjawab dengan menganggukkan pelan kepalanya.


“Kenapa tidak menyuruh pelayan untuk membuatkan sesuatu untukmu?” tanya, Joe, yang kembali menatap wajah, Tania.


“Tidak, Joe!” Tana, menggeleng.  “Sekarang sudah waktunya mereka istirahat, dan aku tidak ingin mengganggu.”


“Itu, sudah tugas mereka. Jadi, kau tak perlu sungkan. Lagipula, aku selalu membayar mereka lebih dari gaji yang seharusnya mereka terima,” tukas, Joe, meyakinkan.


“Tidak, aku tidak mau,” Lagi, Tania, menggeleng pelan.


“Tidak mau?” Joe, mengerutkan dahinya. Merasa heran dengan sikap, Tania.


“Aku, tidak mau mereka memasak untukku, karena—“ kali ini, Tania, yang tidak menuntaskan kalimatnya. Wanita itu terdiam, terlihat ragu untuk kembali melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.


“Karena apa?” Joe, kini telah memegang bahu, Tania. “Katakan saja, tidak perlu sungkan,” suara, Joe, terdengar berusaha meyakinkan.


“A-aku… i-ingin kau yang memasaknya untukku,” suara, Tania, terdengar terbata-bata saat mengutarakan keinginannya. Sementara kedua jemarinya tampak beradu dengan wajah yang terlihat menunduk.

__ADS_1


“Sayangku, ingin aku yang memasak untukmu?”


Perlahan, Tania, kembali menganggukkan kepalanya.


“Apa, kau yakin? Aku ini tidak bisa memasak lo,” Joe, terlihat menatap serius wajah, Tania.


Dan lagi, Tania, menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.


Joe, menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Rasanya, berat sekali untuk mengiyakan. Namun, mengingat, Tania, sendiri yang datang ke kamarnya hanya untuk meminta hal itu. membuat, Joe, tak dapat menolak. Sehingga kini, mau tak mau ia terpaksa mengiyakan permintaannya. Padahal, Joe, sendiri tidak yakin dengan kemampuannya.


“Hmm, yasudah! Sekarang, sayangku, kembali saja ke kamar. Nanti, setelah makanannya selesai dimasak. Aku, akan membawakannya kemari untukmu,” tukas, Joe, dengan sedikit rasa keyakinannya.


“Tidak! Aku tidak ingin kembali ke kamar,” Tania, segera menolak. “Aku, ingin ikut denganmu ke dapur. Ingin melihat sendiri, bagaimana caramu memasak untukku!”


“Apa kau yakin?”


“Hmm, ya.”


“Baiklah, sekarang juga kita pergi ke dapur untuk membuatkan makanan untukmu.”


Joe, pun kini meraih tangan, Tania, untuk ikut bersamanya.


Terlihat, Joe, sedang bergelut dengan masakannya. Celemek, terpasang di badannya. Dengan sebuah spatula yang di tangannya. Joe, terlihat membolak-balikkan masakannya. Ini adalah udah kesekian kalinya, Joe, mengulang. Mengingat, sudah beberapa kali masakannya menghitam.


Ya, Joe, tau ini adalah pengalaman pertamanya dalam terjun langsung di dapur. Namun, meskipun begitu, Joe, tetap ingin menyuguhkan makanan terbaik untuk istri tercintanya.


Api dipadamkan, disusul piring yang telah disiapkan. Diangkatnya masakannya itu, lalu kemudian, Joe, menaruhnya diatas piring yang sudah disediakan. “Akhirnya,” terlihat raut wajah, Joe, cukup lega saat masakannya


yang sekarang sudah tersajikan. Joe, pun lantas dengan bangga membawanya kearah meja dan menghidangkannya di sana.


“Sayang, silahkan cicipi hasil dari masakanku. Semoga, kau suka ya.”


Sedari tadi, Tania, terlihat duduk disebuah kursi yang ada didekat meja. Matanya, tak pernah lepas memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya. Berulang kali, Tania, tak dapat menahan senyumnya. Saat, melihat Joe yang terus berjuang demi bisa menyajikan sepiring nasi goreng kepadanya.


Ya, Tania, memilih meminta dibuatkan nasi goreng oleh, Joe. karena, menurutnya masakan itulah yang paling gampang dilakukan. Namun, sayangnya, pesepsinya ternyata salah.  Joe, malah berulang kali mengulangnya. Karena, berulang kali pula, Joe, menghanguskan masakannya.


Ah, Joe… ia tampak begitu lucu saat panik ketika masakannya gosong di wajan. Hahahah!

__ADS_1


Tania, tertawa didalam hatinya.


Sendok sudah berada di tangan. Dan, sekarang sudah saatnya, Tania, mencoba masakan. Makanan, yang dimasak langsung oleh, Joe, si Ceo Playboy yang dulunya terkenal begitu arogan. Yang hanya taunya mempermainkan perasaan, wanita-wanita yang ada didekatnya.


Ya, Cinta. Disaat sang Ceo Playboy Jatuh Cinta, ternyata semuanya bisa berbanding terbalik. Hal yang dulunya sama sekali tak pernah dilakukan, menganggap wanita hanya sebagai sebuah pelampiasan. Sekarang ini, malah berbanding terbalik, terlihat takluk dihadapan seorang wanita biasa.


Tak ingin berlama-lama. Menghadapa makanan yang ada didepannya. Tania, pun kini mulai menyendokkan nasi itu lalu mengarahkannya ke mulut.


“Bagaimana rasanya?” tanya, Joe, dengan segenap kekhawatirannya. Takut, jika masakannya itu meracuni, Tania.


Sejenak, Tania, terdiam. Mulutnya terus terkatup, tak mengeluarkan suara. Terlihat gerakan dari bibirnya, seolah sedang mengunyah apa yang sedang ada dimulutnya.


Tidak terlalu buruk!


Tania, sedikit memiringkan lehernya. Ternyata, Joe, mempunyai bakat dalam hal memasak. Terbukti, dengan nasi goreng yang disantapnya kini. Meskipun baru pertama kali membuat, ternyata rasanya lumayan juga.


Tania, lantas kembali menyendokkan nasi itu dan mengarahkannya ke mulut. Ini, sudah kali kedua ia memasukkan makanan itu ke mulutnya. Namun, ia sama sekali belum memberikan sepatah katapun komentar dari rasanya.


Joe, terlihat kebingungan. Karena, Tania, yang tak kunjung berkomentar. Apakah, masakannya benar-benar enak, sehingga Tania terus memakannya hingga lupa memberikan komentar. Ataukah, mungkin, Tania, tak berkomentar karena masakannya itu sama sekali tak enak. Sehingga, ia merasa sungkan untuk mengatakannya, dan memilih memakannya karena tak ingin mengecewakannya. Pikiran, Joe, mulai bertanya-tanya.


“Sayang, hentikan!” Joe, menahan tangan, Tania, saat hendak memasukkan makanan buatannya itu untuk yang kesekian kalinya.


Tania, pun melirik kearah, Joe.


“Joe, aku lapar. Bisakah kau melepaskan tanganku, dan membiarkanku makan dengan baik?”


Jawaban, Tania, membuat, Joe, tercengang. “Kau sungguh menyukai masakanku?”


“Ya,” angguk Tania.


“Apa, itu tidak terasa buruk?”


“Tidak, aku rasa ini sangatlah nikmat. Jika, kau tidak percaya, cobalah!” Tania, lantas menyodorkan sesendok nasi itu kearah mulut, Joe.


Joe, memakannya. Merasakan, hasil dari jerih payahnya.


Ternyata, ini tidak buruk. Pantas saja, Tania, sangat lahap. Ternyata, aku juga mempunyai bakat dalam bidang memasak, hahahah!

__ADS_1


Joe, sangat bangga pada dirinya sendiri. Apalagi, melihat, Tania, yang terus melahap makanannya sampai habis. Membuat, Joe, semakin tertarik untuk memasakkan sesuatu untuknya dilain hari.


TBC.


__ADS_2