
Pagi ini seperti biasa Joenathan bangun lebih awal dari Tania. Dengan handuk yang dililitkan nya di pinggang nya, Joe kemudian masuk kedalam kamar. Beberapa titik air terlihat masih menempel didada bidang nya. Joe lalu melangkah masuk kedalam sembari mengusap-usap kepalanya dengan sehelai handuk kecil di tangan nya untuk mengeringkan rambutnya.
Sembari berjalan melewati ranjang, ia menoleh kearah sana dan melihat Tania masih tertidur pulas. Tidur yang sembarangan, membuat selimut nya tersingkap sehingga kini terpampang sudah setengah bagian bawah nya.
Joe tersenyum melihat nya, niat awal ingin mengambil pakaian didalam lemari namun kini ia malah memutar posisi kearah ranjang menghampiri istrinya. Setibanya disana, di perhatikan nya posisi tidur Tania lalu ia menggelengkan kepala.
Sungguh gadis yang sembrono, bisa-bisanya dia tidur dengan posisi yang seperti ini. Tidak tahukah dia, jika dengan seperti ini maka akan memancing jiwa kelelakian ku.
Joe kembali menggelengkan kepalanya. Dengan senyum jahat, ia kini mulai menyusupkan tangan nya kesana.
Slup!
Tangan nya kini mulai menjelajah kesana kemari sesuka hati. Membuat Tania yang awalnya tertidur pulas akhirnya terjaga.
“ Joe!” Pekik nya saat menyadari jemari Joe mulai menyentuh area terlarang nya.
“ Selamat pagi sayang.” Joe memasang senyum manis tanpa dosa. “ Kamu nakal ya, masih pagi namun sudah berani menggoda.” Di lentikkan nya jari telunjuknya kearah hidung Tania.
Tania mengerutkan dahinya.
Siapa yang menggodamu? Bukankah tadi kau sendiri yang menyusupkan tangan mu dan membuatnya bergerilya manja di sekitar tubuhku.
“ Sayang, jika kau memang belum puas dengan permainan kita semalam kau boleh mengatakan nya langsung. Jangan malah menggodaku seperti ini.” Bisik nya sembari mengelus lembut telinga Tania.
“ Ampun Tuan, saya tidak berani. Bukan saya yang menggoda, namun Tuan sendiri lah yang datang kesini dan mencoba menggoda saya dengan menyusupkan tangan yang bergerliya manja ditubuh saya. Sehingga membuat saya yang awalnya tertidur pulas kini malah terjaga karena tangan Tuan yang sangat nakal itu.” Ucap Tania formal sembari mengatupkan kedua tangan nya dan menempelkan nya didahinya.
Membuat Joe tersenyum tipis kearahnya.
“ Tanganku datang kesini karena ada yang memanggil.” Joe kini membelai rambut Tania.
“ Memanggil? Maksudnya?” Tania menurunkan tangan nya sembari menatap bingung kearah Joe.
“ Seseorang tadi dengan sengaja memperlihatkan sebagian tubuh bawahnya kepadaku. Ya karena aku adalah seorang lelaki normal, maka aku tak akan menyia-nyiakan nya.” Tatapnya kearah bawah.
Apa maksudnya? Sebagian tubuh bagian bawah?
Tania terdiam sejenak memikirkan apa yang baru saja diucapkan suaminya.
Mungkinkah?
Dengan cepat ia menoleh kearah bawahnya.
“ Aaaaaaaa….” Jerit Tania hingga memenuhi isi kamar, lalu kemudian dikatup-kan nya mulut nya dengn sebelah tangan nya agar suara itu berhenti cukup sampai disana.
__ADS_1
“ Kenapa kau menjerit?” Tanya Joe yang kini mulai menghentikan aktivitas nya dengan rambut Tania.
“ Kau! Berani-beraninya kau melihat kearah sana!” Dengan cepat di perbaiki selimutnya dengan segera lalu menutup diri hingga ke ujung kaki.
“ Kenapa aku tidak berani? Memang nya tubuh mu ini bagian mana nya yang aku belum lihat?” Tanya Joe sembari melirik kearah bawah. “ Lagi pula sekarang kau ini istriku, apapun yang ada ditubuhmu semua itu adalah hak ku. Jadi terserah aku mau melakukan apa terhadapmu.” Ungkapnya kini.
“ Joe! Tidak puaskah kau menyiksaku selama beberapa hari ini!” Keluh Tania.
“ Menyiksa? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau sendiri juga sangat menikmati setiap aku melakukan nya.” Goda Joe. “ Meskipun mulutmu berkata tidak, namun tubuhmu seolah meminta lagi dan lagi.” Pungkas nya sembari
tersenyum licik.
Aaaaa… Joe! Dasar sialan!
Jeritnya dalam hati.
Terlihat kekesalan dari raut wajah Tania. Sementara Joe, kini tersenyum puas karena nya.
“ Berhubung perutku sangat lapar, jadi kali ini kau ku maafkan. Namun tidak untuk lain kali, jika kau masih terus menggodaku seperti ini maka aku tidak akan bisa mentolerirmu lagi.” Ucap Joe seolah merasa benar.
***
Sementara itu di kamar Bayu.
“ Bayu sialan! Bisa-bisanya dia menyuruhku mengerjakan semua ini. Bukankah hotel ini bintang lima, ada pelayan hotel yang bisa mengerjakan ini semua. Namun, kenapa dia malah membebankanku dengan semua ini.” Lirihnya.
Disekanya keringat nya yang mengucur deras disana dengan tangan nya.
“ Sepertinya tadi ada yang sedang mengujatku, mengataiku dengan kata-kata sialan.”
Tiba-tiba saja ada Bayu di belakang nya.
Hah! Apa dia ada di belakang ku?
Wulan berhenti di tempat nya lalu menoleh kearah belakang.
******!
“ P-pak Ba-Bayu.” Ucap nya gagap.
Bayu kini terlihat menyilakan kedua tangan nya di dada nya.
“ Baru saja kamu menjalani hukuman, apa itu belum cukup?” Tanya nya sembari menyodorkan kepalanya mendekat kearah wajah Wulan.
__ADS_1
Terlihat keringat yang tadi sudah diseka nya kini kembali keluar disana.
“ Ti-tidak P-pak!” Seru Wulan sembari mengalihkan pandangan nya.
“ Hmm, sekarang kau berani membuang muka saat aku sedang bicara kepadamu.” Bayu melontarkan segala tuduhan agar gadis itu semakin merasa bersalah kepadanya.
Wulan kini mulai mundur beberapa langkah, hingga kini tapak kakinya menyentuh dinding di belakang nya, yang membuat dirinya sudah tak bisa kemana-mana.
“ Hmm, sekarang kau malah ingin menjauh dariku.” Ucapnya sembari tersenyum sinis.
Wulan mendelik, matanya kini melotot kearah Bayu yang saat ini memperhatikan nya.
“ Hmm, bahkan sekarang kau berani mempelototiku.” Tambahnya lagi sembari menatap dingin kearah Wulan.
Sehingga kini semakin banyak saja kesalahan yang sudah Wulan perbuat.
Mati aku, bisa-bisa nya aku seceroboh ini.
Gumam nya.
“ Ti-tidak Pak, bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya….”
Belum selesai Wulan menuntaskan kalimatnya, namun kini bibirnya terkatup dengan jari telunjuk Bayu yang sengaja di tempelkan disana.
“ Ssssttt, jangan dilanjutkan.” Bayu kian mendekatkan diri kearah nya.
Membuat Wulan sama sekali tak bisa berkutik karena nya. Wajahnya juga kian merunduk mendekat kearah Wulan, menatap matanya bahkan juga sesekali memperhatikan bibirnya.
“ Sepertinya aku harus memberi hukuman lebih untukmu.”
Dielusnya beberapa kali permukaan merah muda itu dengan sangat lembut.
Glek!
Matilah aku, sepertinya Pak Bayu adalah lelaki berengsek.
Bayu semakin dekat, jarak yang memisahkan mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Kedua tangan nya yang saat ini sudah di genggam erat dengan sebelah tangan Bayu membuat Wulan tak bisa kemana-mana. Kini ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Jika saja pria itu berani menggila terhadapnya, maka ia akan mencari kelengahan nya untuk bisa segera kabur dari sana.
Sementara itu Bayu kini mulai mengarahkan bibirnya perlahan kearah bibir Wulan, hingga saat pertama kali akan mendarat tiba-tiba saja sebuah bunyi yang berasal dari luar mengangetkan dirinya.
Tin tong! Tin tong!
Bel berbunyi membuat Bayu yang saat itu hampir merealisasikan “ hukuman “ nya harus terhenti karena suara tersebut. Di hembuskan nya dengan berat nafas nya, lalu kini tangan nya terlihat mengepal menandakan ketidaksenangan nya akan situasi itu.
__ADS_1
Bayu kini melepaskan kedua tangan Wulan lalu berbalik pergi menuju kearah pintu untuk membuka nya.