CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 152


__ADS_3

Hingar bingar kehidupan kota begitu terasa. Di setiap sudut ruangan semua meja terisi hampir tak tersisa. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Silih berganti seperti lalunya angin.


Meskipun terbilang baru, namun strategis. Membuat Caffe Kita yang saat ini sedang di rintis oleh Roy terlihat maju pesat. Roy sepertinya mempunyai bakat bisnis kuliner. Terlebih lagi, pria itu memasak sendiri apapun yang minta.


Di sudut sana, terlihat seorang wanita mengembangkan senyumnya. Keramaian itu membuatnya senang, sudah lama rasanya ia tak duduk seperti ini. Bersantai, sambil memperhatikan para muda-mudi yang tengah bercanda. Serta melihat pasangan kekasih yang terlihat mesra.


Dulunya, saat mereka masih kuliah. Tania dan Wulan sering sekali melihat pemandangan seperti ini. Membuat semangat memacu, apalagi setelah sedikit bergosip saat melihat para muda-mudi yang berpakaian terlalu terbuka.


Pacaran dengan gaya alay. Suap-suapan di sudut meja, tanpa memperdulikan orang-orang sekitar. Semuanya hampir setiap hari mereka lihat. Hal itu ternyata membuatnya teringat akan sosok sahabatnya Wulan.


Aaa… Wulan, aku sangat merindukanmu.


Batin Tania.


Di raihnya ponselnya, yang ia letakkan didalam tas lila miliknya. Mencari nomo ponsel Wulan, lalu kini segera menghubunginya.


Tut.. tut..


Panggilan tersambung,  agak lama. Lalu kini akhirnya terjawab.


“Hallo,” sapa Wulan.


“Wulan, apa kau lagi senggang?” Tania, langsung menanyakan maksudnya.


“Hari ini, begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Memangnya ada Nia, tumben kau bertanya seperti itu?” Wulan mengernyitkan dahinya. Di tengah pekerjaan yang sedang di mulainya.


“Saat ini, aku sedang berada di Caffe nya ka Roy. Dan aku sangat ingin, kau juga ada di sini. Kita bisa bersenang-senang bersama di sini. Sama seperti sebelum aku menikah, dan kau belum bekerja sesibuk ini.” ucapnya sedih.


Entah mengapa, belakangan ini emosi Tania sering tidak stabil. Bisa senang dengan hal-hal yang kecil. Bahkan bisa sedih dengan hal-hal yang kecil pula. Sungguh tak dapat di terka. Mungkin itu pengaruh hormonal Ibu hamil.


“Maaf, Nia, kali ini aku nggak bisa. Tau sendiri kan, suamimu. Jika aku tidak menyelesaikan semua ini dengan waktu yang sudah di tetapkan. Bisa habis aku nanti di damprat olehnya. Belum lagi, belakangan ini Bayu sering sekali mencari kesempatan dariku.” jelas Wulan.


“Hmm, yasudah, nggak apa-apa. Kamu lanjut kerja ya, semangat!” serunya sambil tersenyum.


Ya, Wulan benar. Sebagai atasan, Joe selalu bersikap semena-mena dengan karyawannya. Jika suasana hatinya sedang baik, maka baik pula sikap yang di terima karyawannya. Namun, jika suasana hatinya begitu buruk. Buruk pula yang di terima karyawannya. Biasanya, mereka akan di buat pusing oleh Joe yang meminta mereka menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat.


Apalagi Bayu. Belakangan ini, Tania juga sering melihatnya mencari kesempatan dari Wulan. Pernah sekali, Tania melihat Bayu menindas Wulan, saat sedang di dapur kantor. Menyuruhnya, melakukan ini dan itu, padahal itu sama sekali bukan hal yang harus di lakukan oleh Wulan.


Tania datang, masuk kedalam menghampiri keduanya. Baru setelah itu, Bayu pergi meninggalkan mereka saat Tania menegurnya, akan membuat pengaduan kepada Joe, atas apa yang di lakukan olehnya.


Dari ujung sana. Terlihat, seorang pelayan Caffe datang menghampiri Tania. seorang pria, membawakan secarik kertas, pulpen dan juga selembar kertas menu yang sudah di press agar tak mudah rusak. Pria, itu kini sudah berdiri di depan Tania, menyunggingkan senyum, seraya menyodorkan menu yang di bawanya.


“Selamat siang Nona. Silahkan di pilih menunya.” Senyum itu masih terukir di bibirnya.


Tania mengambil menu itu. Lalu kini, ia terlihat memilih dan memilah, menu apa yang akan di pesan olehnya.


Oya, bukankah kata Kak Roy, hari ini aka nada launcing menu terbaru.


Seketika, hal itu terbesit di benaknya.


“Mas, ada menu baru kan disini. Yang mana ya? kok sepertinya tidak ada di buku menu ini?” tanya Tania.

__ADS_1


“Oh, itu, ini Mba, disini.” tunjuk pria muda yang berdiri di sampingnya.


“Ooo, ini, belum ada foto tampilannya ya?” tanya Tania lagi.


“Iya, Mba, belum. Soalnya, ide ini baru tercetus hari ini. Dan Tuan Roy, belum sempat membuat fotonya, hanya tulisan saja untuk sementara.” jelas pria itu.


“Emm…” Tania mengangguk-anggukan kepalanya.


“Jadi, Mba, mau pesan yang mana?” tanya pria itu kini.


“Emm, nggak jadi deh. Saya, mau langsung ke dapurnya saja. Pengen langsung lihat sendiri, bagaimana proses memasak makanan ini.” sebuah ide tercetus begitu saja di benak Tania.


Pria itu mengerutkan dahinya, menatap bingung kearah Tania. Ini, pertama kalinya ada seorang pelanggan yang meminta terjun langsung dalam hal membuat makanan. Menu baru lagi.


Memangnya, Tuan Roy, akan mempersilahkan gadis ini masuk kedapurnya. Percaya diri sekali dia.


Batin pria itu.


“Ekhm, Mas, Mas.” Tania berulang kali memanggil.


Membuat pria itu tersentak dalam lamunannya.


“Eh, i-iya Mba.” Menjawab dengan gugup.


“Hmm, dimana dapurnya?” Tania bertanya, seraya menaikkan kedua alisnya.


“I-itu Mba, sebelumnya, saya tanyakan dulu kepada atasan saya ya. Soalnya, saat ini, Bos saya sendiri yang membuat menu baru itu, dan beliau sedang bertempur di dapur.”


“Hmm, ya, katakan kepada Bos mu. Aku, Tania, ingin sekali memasakn dengannya.” Ucapnya seraya menarik garis senyumnya.


***


“Tuan, diluar ada seorang wanita cantik yang ingin melihat bagaimana Tuan membuat menu baru ini.” Pelayan pria itu menyampaikan keinginan Tania.


“Siapa?” Roy mengernyitkan dahinya.


“Katanya, namanya Tania, Tuan.” jelas pria itu.


Mendengar nama Tania. Roy, yang belakangan ini jarang sekali tersenyum itu, kini tiba-tiba saja melebarkan senyumnya. Hal itu membuat si pria takjub, dan juga penasaran, akan apa hubungan mereka yang sesungguhnya.


“Bawa dia masuk kesini sekarang juga.” titah Roy.


“Baik Tuan.” dengan cepat, si pria mengangguk, Lalu kini ia kembali berbalik meninggalkan tempat itu. membawa rasa penasaran, yang seharusnya tak boleh ada di benaknya.


Beberapa saat kemudian.


“Kak Roy!” Tania menyerukan suaranya, saat baru sampai di depan pintu dapur. Melihat punggung Roy dari kejauhan. Entah mengapa, membuat wanita itu tak tahan untuk tak memanggilnya.


Roy yang saat itu baru saja selesai menata makanan, segera menoleh kearah Tania. Seulas senyuman terukir di bibirnya. Saat mendapati, sosok wanita yang di kagumi, kini telah hadir di depannya. Roy menyambutnya dengan hangat, membuat pelayan itu semakin di landa rasa penasaran. Mungkinkah itu pacarnya, atau jangan-jangan adiknya. Soalnya, jika di lihat dari wajah, ada sedikit kemiripan diantara mereka. Begitu pikir si pelayan.


Setelah mengantarkan Tania hingga pintu dapur. Di pelayan lelaki tadi akhirnya pergi dengan membawa sejuta tanya di benaknya.

__ADS_1


Tania melangkah, masuk kedalam dapur  yang terlihat sangat bersih dan juga rapi. Meskipun di pakai untuk memasak. Namun, taka da sedikitpun kotoran yang berceceran di lantai, ataupun di wastafelnya. Meja-meja tempat memotong bahan-bahan makanan juga terlihat bersih dan juga rapi. Peralatan memasak yang modern, juga tertata dengan indah di setiap tempatnya.


“Ah, kak Roy, Nia kangen.” Tania memeluk Roy dari samping. Nasihat Joe yang menyuruhnya untuk berjag jark dengan setiap lelaki, kini seolah terlupakan. Rasa rindu, lama tak jumpa membuat Tania abai akan segala hal.


“Hahaha, Nia, lama tak berjumpa tingkahmu ini semakin terlihat seperti anak kecil saja.” Roy memegang tangan Tania, yang kini sedang memeluknya erat.


“Kak Roy, Nia itu kangen.” Lagi, Tania mengucapkan rasa kerinduannya.


“Hmm, ya, aku juga sama sepertimu. Tapi, ya mau gimana lagi. Sekarang itu, kau sudah bersuami. Jadi aku sudah tak boleh terlalu merindukanmu lagi.” ujar Roy. “Ngomong-ngomong, kamu memelukku seperti ini, memangnya boleh sama suamimu?” tanya Roy di selingin gelak tawa.


“Astaga, aku lupa!” segera, Tania buru-buru melepaskan pelukannya. “Maaf, ya Kak Roy, Nia khilaf. Padahal, Joe sudah sering mewanti-wanti Nia agar menjaga karak dari lelaki, termasuk Kak Roy.” ucap Tania jujur.


“Hmm, ya, aku tau. Maka dari itu, aku tadi mengingatkanmu. Berdosa loh, bagi seorang istri jika tak mengindahkan nasihat suaminya.” petuah Roy.


Tania tersenyum, dengan tangan yang sudah terlepas dari tubuh Roy.


“Iya, Kak, makasih nasihatnya. Hehehe…” terkekeh kecil di sana.


“Ingat, jangan ulangi lagi ya. Untung saja suamimu tidak ada di sini sekarang. karena jika dia ada, aku tak tau apa yang akan di lakukannya sekarang terhadapku.”


“Jujur sih, sebenarnya, aku juga sangat senang di peluk olehmu seperti tadi. Hehehe.” gelak Roy kini.


“Iih.. kak Roy! Baru saja ngasih nasihat, tapi sekarang kau sendiri malah menikmati pelukan dari wanita bersuami.” celetuk Tania.


Roy hanya tersenyum, lalu terkekeh mendengar celotehan Tania. Wanita itu, memang paling bisa menghadirkan warna disaat sedang bersamanya.


Sore harinya. Setelah beberapa jam bergelut di dapur. Kini, tubuh Tania terasa sedikit lelah. Ia , lantas beristirahat di ruangan Roy. Ruangan ber-AC, dengan segala fasilitas kerja yang lengkap.


“Huuffft… akhirnya, hari ini aku melepaskan rasa rinduku memasak di dapur, memasak menu makanan untuk para pelanggan.” Tania menyandingkan kedua telapak tangannya. Lalu kini menariknya keatas, mereganggkan urat-urat persendiannya.


Tania, lantas merebahkan tubuhnya di atas sofa. Guna, menghilangkan sedikit rasa lelahnya.


Hari semakin sore. Tania terjaga. Di sana, ia tak melihat siapa-siapa. Masih sendiri, tanpa adanya sang pemilik ruangan. Setelah merapikan pakaiannya, dan juga sedikit menata rambutnya. Tania lantas berdiri dari tempatnya.


Tania melangkah keluar, meninggalkan ruangan. Pergi menuju dapur, untuk berpamitan dengan Roy. Di sana, Tania melihat. Roy semakin sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun sebenarnya, ada koki lain juga yang ikut membantu.


“Kak Roy, Nia pamit ya, sudah sore.” Tania kini sudah berdir di depan pintu.


“Hmm, ya, hati-hati di jalan ya.” wanti Roy.


“Pasti Kak.” Tania mengacungkan jempolnya. “Selamat bekerja, semoga semakin kaya raya dan juga cepat membawa kakak ipar ke rumahku.” celetuk Tania di selingi candanya.


Roy, mendelik. Sementara seluruh pekerja yang ada di sana spontan terkekeh, mendengar hal yang di ucapkan Tania.


Sementara wanita itu, terlihat santai sambil berlalu pergi darisana. Roy menoleh, mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan. Membuat para pekerja yang awalnya senyam-senyum dan juga terkekh. Kini, diam seketika sambil kembali melanjutkan kerjanya.


Di pinggir jalan. Tania terlihat berdiri, seraya melirik ke ujung jalan. Berharap, ada sebuah taksi yang lewat di ujung sana. Namun, sudah sekitar tiga menit menunggu, belum ada satupun taksi yang lewat. Tania masih menunggu, dengan memegangi tas yang di sandangkannya di bahu.


Di ujung jalan. Terlihat seorang wanita tengah mengendarai mobilnya. Ia melihat, Tania yang sedang berdiri di sana, di bibir jalan. Hal itu membuat wanita itu tersenyum sinis. Seketika pikiran kotor merasuk otak. Wanita itu melajukan kencang mobilnya, merapat ke bibir jalan. Lantas menabrak Tania yang sedang berdiri di sana.


Bruuk!

__ADS_1


“Aaaaaa!!!”


TBC.


__ADS_2