CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 213


__ADS_3

“Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Joenathan.


Saat ini keduanya sedang berdiri di depan sebuah ruang dengan pembatas dinding kaca. Hal itu membuat mereka dapat melihat cengan jelas apa yang ada di dalam sana.


“Apa kau melihat bayi yang ada di sana?” Sam menunjuk ke arah inkubator yang di huni oleh seorang bayi lelaki yang ada di sana.


“Ya,” Joenathan mengangguk.


“Perhatikan dengan seksama ke arah bayi itu.”


“Dia…”  menilik dengan jelas. “Dia terlihat sangat mirip denganku dan hidungnya seperti Tania,” mengerutkan alisnya. “Astaga… apa jangan-jangan bayi ini adalah…” tak melanjutkan lagi kalimatnya.  Mulut Joenathan malah terkatup dengan mata membelalak. Nalurinya seketika mengatakan, jika bayi yang ada di sana itu adalah miliknya. Anaknya bersama Tania.


“Sam, katakan di mana Tania sekarang! kau memanggilku ke tempat ini karena ingin mempertemukanku dengan Tania kan? Kau tau tentang dia kan? Dan bayi itu, itu … pasti adalah anakku dengan Tania, kan?!”


Sejenak Sam terdiam, hingga kemudian menganggukkan kepalanya. Yang berarti, apa yang ditanyakan oleh Joenathan saat ini memang benar adanya. Bayi itu memang miliknya dengan Tania, bayi itu adalah darah dagingnya, anaknya Joenathan.


“Astaga…” lagi-lagi Joe mengatupkan mulutnya. Ditatapnya kembali ke arah Inkubator yang saat ini di huni oleh bayinya, hingga membuat buliran cairan kristal bening tanpa terasa memenuhi pelupuk matanya hingga akhirnya jatuh membasahi pipinya.


“Itu Anakku Sam, itu Anakku.” menggoyang-goyangkan bahu Sam dengan tangis haru yang saat ini Joe rasakan.


“Ya, Joe, itu anakmu.” mengangguk sekaligus kembali membenarkan apa yang Joe katakan.


Rasa bahagia kini sangat terasa melingkupi hati Joenathan sekarang. Tangis haru memecah saat Joe tau jika ternyata yang ada di dalam sana adalah bayinya. Segera, syukur ia panjatkan kepada sang maha pencipta atas


karunia yang telah ia berikan. Namun, di tengah rasa syukur itu seketika pikiran Joe kembali gundah saat mengingat tak adanya Tania di sana.


Jika bayi itu telah lahir, lantas kemana Tania saat ini. Kenapa dia tidak bersama anaknya, apa jangan-jangan Tania…

__ADS_1


“Sam, katakan di mana Tania sekarang!” seru Joe seraya kembali memegangi bahu Sam. Namun kali ini sangat terasa karena Joe yang mencengkeramnya kuat.


“Dia ada di dalam ruangan tempat kita bertemu tadi,” ujar Sam memberitahukan.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Joenathan segera pergi meninggakan tempat itu. Joenathan lantas bergegas kembali ke tempat di mana ia tadi pertama kalinya bertemu dengan Sam.


_________


“Anda mau kemana, Tuan?” tanya Malik. Posisi badannya kini tampak menghalangi, seolah tak membiarkan Joenathan untuk masuk ke dalam ruangan yang sedang dijaganya.


“Biarkan di masuk.” suara seseorang membuat Malik yang tadinya bersikukuh untuk menghalangi, sekarang malah memberi jalan.


“Baik Tuan.” menunduk dengan membungkukkan badan.


Tau jika dirinya sudah diizinkan masuk ke dalam ruangan tersebut. Joenathan pun tidak tinggal diam. Pria itu lantas dengan segera membuka pintu yang ada di depannya dan kemudian segera masuk ke dalam.


Joenathan kemudian melangkah perlahan menuju ke arah ranjang, di mana tempat Tania berbaring sekarang.


“Sayang,” lirih Joe kembali sembari terus melangkah pelan. Saat ini Joe sudah berada tepat di samping Tania dan duduk di kursi yang ada di sana.


Tak sadar, Tania masih tertidur dengan pulasnya. Selang-selang terlihat terpasang di tubuh Tania, membuat Joenathan yang kala itu melihatnya tak kuasa menahan airmata.


“Sayang, maafkan aku karena tidak ada saat kau berjuang untuk tetap bertahan.” Joenathan menundukkan kepala. Ia menyapu air mata yang saat itu membanjiri pipinya, menggunakan tangan kirinya. Sementara sebelah tangan kanan, kini perlahan mulai meraba tangan yang terlilit selang infus.


Rasa hangat, nyaman lantas menjalar ke tubuh Tania. Perasaan akrab dengan sentuhan,  serta dapat merasakan adanya Joenathan di sana membuat wanita itu lantas terjaga dari tidurnya. Ia membuka mata, perlahan menatap sekitar. Hingga akhirnya ia mendapati


jika itu benar, ternyata telah ada Joenathan di sana.

__ADS_1


“Joe,” lirih Tania. Suaranya terdengar sedikit serak, dengan gerakan tubuh hendak sedikit bangun dari tidurnya. Namun, hal itu tidak dibiarkan oleh Joenatahn. Pria itu lantas memegangi, serta merebahkan kembali tubuh Tania di pembaringan.


“Jangan bangun, tidurlah.” Tersenyum sembari menatap lembut ke arah Tania.


“Joe, anak kita sudah lahir. Kau sudah menjadi Bapak, sementara aku sudah sah menjadi seorang Ibu sekarang.” kabar Tania tentang kelahiran anaknya.


Joe mengangguk dengan senyum yang disunggingkan. “Hmm, ya,


aku tau.”


“Kau…”


“Sam yang memberitahuku. Dan tadi, dia juga membawaku untuk melihat anak kita.” Joenathan menyela perkataan Tania, dengan menjawab apa yang sebenarnya Tania ingin tanyakan. “Kau tau sayang, bayi kita terlihat sangat


mirip denganku. Tapi hidung nya, persis sekali seperti dirimu.” menjentikkan tangannya pelan ke arah ujung hidung Tania.


“Awww!” ringis Tania. “Joe, pelanlah karena aku ini masih sakit,” jelasnya kepada Joenathan agar kedepanya bisa lebih bisa mengontrol tangannya, tak asal dalam menjentik ke arah hidung Tania.


Ya… meskipun terbilang pelan, namun mengingat kondisi Tania yang masih rentan. Membuat ujung hidung yang dijentikkan dengan dua jari Joenathan itu begitu terasa.


“Maaf!” kalimat sesal yang terlontar kemudian. Mengatupkan kedua tangannya dengan wajah memelas. Terlihat lucu hingga membuat Tania tersenyum melihat tinggkahnya.


Hadirnya Joenathan di tengah-tengah kesakitan yang masih melanda diri, ternyata mampu membuat seorang Tania tampak lebih bersemangat. Hal itu terlihat jelas dari ekspresi yang tergambar di wajah Tania. Gerakan tangan yang berulang menyentuh wajah Joenathan, serta bibir mengulum senyum yang terus terpancarkan. Sam melihtanya, dibalik pintu yang sedikit terbuka. Sengaja mengintip apa yang sedang terjadi di dalam, dan ternyata ia mendapati


wajah Tania penuh bahagia dengan adanya Joe di sana.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2