
“Aku harus kuat!”
Sepasang tangan kini terlihat mengatup, menutupi raut
kesedihan yang sedang terpancar dari seorang gadis yang saat ini tengah duduk
di sana, di depan warung kecil pinggir jalan. Dengan sebuah botol air mineral
yang berada di sampingnya.
Di sebuah bangku panjang, gadis itu melepaskan
kesedihannnya, kefrustasiannya akan masalah yang hari ini dihadapinya. Baru
saja ia mendapati kesenangan akan pekerjaannya itu di sebuah perusahaan besar
dan ternama, tapi hari ini gadis itu terpaksa mengundurkan diri dari sana
disebabkan oleh seorang lelaki yang membuatnya hampir gila di sana.
“Ya, aku harus kuat! Aku
harus kuat!” kembali gadis itu menguatkan dirinya.
Jikalau saja kejadian itu
tidak terjadi hari ini. Kalimat yang berulang kali terucap itu tidak terlontar
hari ini. Mungkin Wulan tidak akan mengambil keputusan besar seperti ini. Tapi
itu semua telah terjadi, keputusan besar itu telah di ambil. Serta kebencian
gadis itu sudah semakin dalam kepada sosok lelaki yang saat ini mempunyai
jabatan penting di sana.
Wulan sudah tak sanggup lagi
menahan semuanya. Harga diri, beserta rasa yang tak ingin ditindas membuatnya
harus kuat menjalani semuanya.
__ADS_1
Ya, ini bukan sebuah akhir.
Kehilangan pekerjaan yang selama ini di dambakan oleh ribuan orang yang ada di
luar sana bukan sebuah akhir dalam hidupnya. Masih ada banyak cara, masih ada
banyak jalan yang bisa dilaluinya.
Sejenak Wulan mengingat,
akan cerita dari seorang sahabatnya yang kini telah menyandang status sebagai
nyonya besar dari perusahaan besar tempatnya bekerja itu. Sahabatnya itu
bercerita, jika Roy salah satu chef tempatnya bekerja dulu, saat ini telah
membuka usahanya sendiri, dan itu maju dengan sangat pesat.
Kak Roy, haruskah aku
kesana?
Sejenak, Wulan berpikir
mengambil sebuah keputusan untuk datang dan berkunjung ke sana.
Hari demi hari telah
berlalu. Minggu pun terlewati bersamaan dengan bulan yang kian berganti. Di
sana di Caffe itu, Wulan telah mendapatkan kesenangannya. Bekerja meskipun
hanya menjadi seorang pelayan. Namun hal itu sudah sangat cukup baginya,
teman-teman seperjuangannya mereka semuanya sangat baik dan ramah, berikut pula
sang pemilik tempat yang selalu bersikap baik padanya. Tak ada lagi yang
menindas, tidak ada lagi yang mencerca. Semua menyayanginya, menyayangi Wulan,
membuatnya seolah sudah merasa cukup dengan pekerjaannya.
__ADS_1
***
Di sebuah rumah yang bermukim di tempatnya para kalangan
elit teratas. Terlihat seorang wanita telah siap dengan dress yang
dikenakannya. Tangannya kini terlihat bergerak kearah perutnya, mengusapnya
lembut dengan gerakan memutar.
“Kamu sudah siap sayang?” tanya Joe yang saat itu datang
dari belakang.
“Sudah,” Tania mengangguk.
Gerakan tubuh Joe sekarang terlihat menunduk, dengan tangan
yang menyentuh kearah perut sembari menempelkan telinganya di sana. “Sayang Papa,
tolong baik-baik di sana, ya.” ucapnya lembut.
Tania tersenyum, “Iya, Papa. Aku pasti akan baik-baik kok di
dalam sini. Aku kan juga sayang Mama,” balas Tania dengan suara imutnya.
Terlihat rona kebahagiaan begitu terpancar di sana, di kedua
raut wajah sepasang anak manusia itu. Kehamilan Tania seolah menjadi berkah
tersendiri, di kehidupan Joenathan. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana sikap
Joenathan sekarang, semakin dewasa dan semakin sabar. Membuat Tania sendiri
bersyukur dengan keadaannya sekarang.
Ya, Tuhan… jangan biarkan kebahagiaan ini berlalu dengan
begitu cepat.
Batin Tania dengan doa yang terpanjatkan dari sana.
__ADS_1
TBC.