CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 194


__ADS_3

“Aku harus kuat!”


Sepasang tangan kini terlihat mengatup, menutupi raut


kesedihan yang sedang terpancar dari seorang gadis yang saat ini tengah duduk


di sana, di depan warung kecil pinggir jalan. Dengan sebuah botol air mineral


yang berada di sampingnya.


Di sebuah bangku panjang, gadis itu melepaskan


kesedihannnya, kefrustasiannya akan masalah yang hari ini dihadapinya. Baru


saja ia mendapati kesenangan akan pekerjaannya itu di sebuah perusahaan besar


dan ternama, tapi hari ini gadis itu terpaksa mengundurkan diri dari sana


disebabkan oleh seorang lelaki yang membuatnya hampir gila di sana.


“Ya, aku harus kuat! Aku


harus kuat!” kembali gadis itu menguatkan dirinya.


Jikalau saja kejadian itu


tidak terjadi hari ini. Kalimat yang berulang kali terucap itu tidak terlontar


hari ini. Mungkin Wulan tidak akan mengambil keputusan besar seperti ini. Tapi


itu semua telah terjadi, keputusan besar itu telah di ambil. Serta kebencian


gadis itu sudah semakin dalam kepada sosok lelaki yang saat ini mempunyai


jabatan penting di sana.


Wulan sudah tak sanggup lagi


menahan semuanya. Harga diri, beserta rasa yang tak ingin ditindas membuatnya


harus kuat menjalani semuanya.

__ADS_1


Ya, ini bukan sebuah akhir.


Kehilangan pekerjaan yang selama ini di dambakan oleh ribuan orang yang ada di


luar sana bukan sebuah akhir dalam hidupnya. Masih ada banyak cara, masih ada


banyak jalan yang bisa dilaluinya.


Sejenak Wulan mengingat,


akan cerita dari seorang sahabatnya yang kini telah menyandang status sebagai


nyonya besar dari perusahaan besar tempatnya bekerja itu. Sahabatnya itu


bercerita, jika Roy salah satu chef tempatnya bekerja dulu, saat ini telah


membuka usahanya sendiri, dan itu maju dengan sangat pesat.


Kak Roy, haruskah aku


kesana?


Sejenak, Wulan berpikir


mengambil sebuah keputusan untuk datang dan berkunjung ke sana.


Hari demi hari telah


berlalu. Minggu pun terlewati bersamaan dengan bulan yang kian berganti. Di


sana di Caffe itu, Wulan telah mendapatkan kesenangannya. Bekerja meskipun


hanya menjadi seorang pelayan. Namun hal itu sudah sangat cukup baginya,


teman-teman seperjuangannya mereka semuanya sangat baik dan ramah, berikut pula


sang pemilik tempat yang selalu bersikap baik padanya. Tak ada lagi yang


menindas, tidak ada lagi yang mencerca. Semua menyayanginya, menyayangi Wulan,


membuatnya seolah sudah merasa cukup dengan pekerjaannya.

__ADS_1


***


Di sebuah rumah yang bermukim di tempatnya para kalangan


elit teratas. Terlihat seorang wanita telah siap dengan dress yang


dikenakannya. Tangannya kini terlihat bergerak kearah perutnya, mengusapnya


lembut dengan gerakan memutar.


“Kamu sudah siap sayang?” tanya Joe yang saat itu datang


dari belakang.


“Sudah,” Tania mengangguk.


Gerakan tubuh Joe sekarang terlihat menunduk, dengan tangan


yang menyentuh kearah perut sembari menempelkan telinganya di sana. “Sayang Papa,


tolong baik-baik di sana, ya.” ucapnya lembut.


Tania tersenyum, “Iya, Papa. Aku pasti akan baik-baik kok di


dalam sini. Aku kan juga sayang Mama,” balas Tania dengan suara imutnya.


Terlihat rona kebahagiaan begitu terpancar di sana, di kedua


raut wajah sepasang anak manusia itu. Kehamilan Tania seolah menjadi berkah


tersendiri, di kehidupan Joenathan. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana sikap


Joenathan sekarang, semakin dewasa dan semakin sabar. Membuat Tania sendiri


bersyukur dengan keadaannya sekarang.


Ya, Tuhan… jangan biarkan kebahagiaan ini berlalu dengan


begitu cepat.


Batin Tania dengan doa yang terpanjatkan dari sana.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2