CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 163


__ADS_3

Sam, memutar mobilnya, pergi dari kediaman Joenathan. Setidaknya, saat ini Tania aman dirumahnya. Tapi, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa, Tania, tiba-tiba saja menghubunginya di tengah malam seperti ini, dan memintanya untuk menjemputnya? Ada apa sebenarnya dengan Tania?  Mungkinkah, ia dan Joe sedang ada masalah? Apakah, Joe, telah menyakiti Tania? pertanyaan beruntun itu kini tertanam di benak Sam. Ia sangat penasaran sekali tentang apa yang sebenarnya terjadi. Suara isak tangis yang terdengar, membuat Sam berfikir bahwa, sesuatu hal yang begitu menyakitkan telah terjadi. Tapi, apa itu? Entahlah, yang terpenting sekarang, Tania aman dirumahnya.


“Tania, kau berhutang penjelasan kepadaku.” Lirih Sam, sambil mempercepat laju kendaraannya.


Di kediaman Joenathan.


Joe, merasa lega setelah melampiaskan apa yang sedari tadi mengganjal diri. Rangsangan akibat wewangian yang di gunakan Katty, kini sudah terobati. Hasratnya, yang menggebu terlampiaskan kepada wanita yang seharusnya.


Joe, tersenyum lega melihat Tania yang terbaring di sampingnya.


Tapi, senyumnya tak bertahan lama. Karena kini, ia melihat airmata yang terus jatuh hingga membasahi bantal yang saat ini tengah di pakai untuk menopang kepala Tania. Tania, terisak dengan deraian airmata yang terus


jatuh tak tertahankan.


“Hiks… hiks…” terdengar, suara isak yang keluar dari mulut Tania. Bibirnya, gemetar, sementara tatapan matanya kosong kedepan.


Joe, mengerutkan dahinya, melihat Tania yang tak seperti biasanya.


Apakah tadi aku terlalu kasar kepadanya, sehingga membuatnya sangat kesakitan dan menangis seperti itu?


 


Batin Joe, yang sama sekali tak memahami tentang kesalahan apa yang sedang terjadi.


Tania, masih menangis. Membuat Joe, sungguh tak tega melihatnya. Diulurkannya, tangannya kearah Tania, seraya mengatakan. “Sayang, maafkan aku. Sungguh, tadi itu aku tidak bermaksud kasar kepadamu.” Joe,


membelai rambut Tania. Merapikan rambutnya yang terlihat berantakan karena ulahnya, dengan menyelipkannya di balik telinga.


“Singkirkan tangan kotormu!” Tania menepis keras tangan Joe, tapi matanya sama sekali tak beralih. Masih, menatap kearah depan.


Joe, kembali menyentuh pipi Tania, membelainya sambil berkata, “Sayang, sungguh tadi itu aku sama sekali nggak bermaksud. Aku—“


Belum sempat, Joe, menghabiskan kalimatnya, Tania menyanggahnya. “Menyingkirlah dariku! aku jijik denganmu Joe!!” pekik Tania seraya menepis kembali tangan, Joe, yang menyentuh kulitnya.


Joe, semakin tak mengerti. Jijik? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa, Tania tiba-tiba melontarkan kalimat kasar seperti itu kepadanya. Apa, itu semua karena perlakuan Joe, yang terlalu kasar tadi?  “Sayang, kau ke—“


Lagi, belum sempat, Joe, menghabiskan kalimatnya. Tania, kembali menyanggahnya. “Aku bilang…. Menyingkirlah dariku!! JANGAN SENTUH AKU!!!!” Tania berteriak, keras, sangat keras. Sehingga membuat telinga Joe, terasa pengang. Tapi, setelah teriakannya itu, wanita itu langsung kehilangan kesadarannya.


Ya, Tania pingsan. Tubuhnya, terlalu lemah menahan itu semua. Beban yang di pikulnya, menjadi seorang istri, dari seorang Ceo Playboy yang mempunyai masa yang kelam dari segudang wanita membuatnya lemah. Di tambah lagi, perlakuan Joe yang bisa di bilang amat-sangat kasar tadi itu sangat mengguncang diri.


Baru saja, Tania, mendengar. Desahan nikmat seorang wanita, yang seolah-olah tengah merasakan surga dari kenikmatan yang Joe berikan. Dan, kini, setibanya dirumah, tiba-tiba Joe kembali menyergahnya, memperlakukannya dengan sangat kasar, memuaskan hasrat yang Tania tau telah di bagi dengan wanita lain. Sungguh, hal itu membuat Tania merasakan jijik yang tak tertahankan.


“Sayang!” Joe, terkesiap. Melihat, Tania, yang tiba-tiba saja terkulai memejamkan mata. Membuat Joe, takut dan terkejut. “Sayang! bangun!” Joe, menepuk-nepuk pelan kedua pipi Tania, berusaha menyadarkannya. Tapi, Tania, tak kunjung sadar.

__ADS_1


Joe, semakin panik. Ternyata, sikapnya yang terlalu buas tadi berefek tak baik untuk Tania. Kondisi Tania yang saat ini sedang hamil, membuat Joe semakin cemas. Joe, lantas bergegas bangkit dari tempatnya. Mencari-cari keberadaan ponselnya.


“Mana! Mana ponselku!” kepanikan begitu terlihat. “Celana! Ya, celana!” seru Joe, seraya mengambil celana jeans yang tergeletak di lantai.


Joe, pun lantas memeriksa saku celana itu lalu menemukan ponsel yang di carinya. Di usapkannya, jempol tangannya, mencari sebuah nomor kontak yang ada di sana. lalu, setelah menemukan nomor yang ingin dihubungi.


Joe, pun lantas menekan tombol panggilan yang ada di layar.


Tut…tut…tut…


Panggilan tersambung. Tapi, tak ada jawaban darisana.


Tak putus asa. Joe, lantas kembali mengulang, menghubungi nomor kontak itu. Sekali, dua kali, tiga kali, tersambung. Tapi, tidak ada yang menjawabnya. Lalu, saat Joe menghubungi untuk yang ke-empat kalinya. Si pemilik ponsel, lantas menjawab panggilannya.


“Hallo,” suara yang agak sedikit malas terdengar darisana.


“Naufal! Sekarang juga, kau harus datang kerumahku. Tania, pingsan!!” seru Joe.


“Pingsan? Yang benar saja. Ini, sudah jam berapa. Mungkin saja dia tidur.” ujar Naufal dengan mata yang separuh terpejam.


“Apa kau fikir aku ini bodoh! Tania, benar-benar pingsan. Dan ku harap, kau segera datang. Jika tidak, maka jangan salahkan aku jika menutup seluruh aksesmu yang berhubungan dengan rumah sakit!” ancam Joe.


Naufal terkesiap. Seketika, rasa kantuknya hilang, saat mendapat ancaman dari Joe. Reflek, tubuhnya bangkit dari tempat tidur, lalu segera berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaiannya.


Joe, dengan kekuasaannya. Ia memiliki akses yang banyak, apapun yang ia katakan. Pasti akan terjadi, ancaman yang ia berikan bukan sekedar untuk menakuti. Tapi, benar-benar terealisasi.


Joe, membuang ponselnya diatas tempat tidur setelah mematikan sambungan telefonnya tadi. Lalu kini, ia kembali menghampiri Tania, dan membaringkannya dengan baik di sana.


Waktu terus berlalu. Tak terasa, pukul 03:15 dini hari. Sebentar lagi, juga akan subuh. Naufal yang ada di sana, terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat keadaan Tania. Bekas merah yang bertebaran dimana-mana. Mambuat, Naufal seketika dapat menebak sebab apa Tania pingsan tanpa perlu memeriksa.


“Kau, melakukannya berapa kali semalam?” tanya Naufal, setelah memeriksa keadaan Tania. “Pasti, kau tidak mengikuti anjuranku ‘kan?” Naufal kembali bertanya.


Joe, terdiam. Sementara sebelah tangan kiri terlihat menyentuh dahinya sekarang.


“Joe, apa kau tidak kasihan terhadap istrimu?” lagi, Naufal bertanya.


“Kau… tentu saja! Aku menyayanginya, mencintainya, tentu saja aku juga sangat mengasihaninya.” ujar Joe.


“Jika, itu benar. Lalu kenapa, kau masih melakukan hal itu kepadanya?” Naufal menyipitkan mata.


“Aku… aku tidak sengaja melakukannya.” ucap Joe.


Naufal semakin menyipitkan mata, mengernyitkan dahinya, menatap Joe yang ada didepannya. “Tidak sengaja, apa maksudmu? Adakah sebuah percintaan yang dilakukan suami terhadap istri adalah ketidaksengajaan?” pertanyaan beruntun Naufal lontarkan.

__ADS_1


“Itu semua karena tadi aku terpengaruh obat perangsang.” lirih Joe. Saat ini, kedua tangannya sudah menyentuh kulit dahinya.


“Obat perangsang? Astaga Joe… istrimu lagi hamil seperti ini, kau masih juga memakai obat perangsang untuk melampiaskan hasratmu. Bukankah itu sangatlah brutal!?” Naufal terkejut, tak habis fikir dengan sepupunya itu.


Joe, mendelikkan mata. Tangannya, kini teralihkan kearah Naufal, yang kini menoyornya. “Bodoh! Bagaimana mungkin aku menggunakan obat perangsang untuk diriku sendiri.”


“Lalu maksudmu, Tania, yang melakukannya?” wajah Naufal terlihat tak percaya. Apa, Joe, kurang ganas sehingga membuat Tania harus menggunakan obat perangsang terhadap Joe? begitu pikirnya.


Joe, kembali menoyor kepala Naufal, tapi kali ini lumayan keras. “Dasar bodoh! Dia hamil, jadi mana mungkin dia melakukannya. Cari mati apa? Lagipula, tidak hamil pun, Tania tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu.” jelas Joe.


“Terus, siapa yang memberikanmu obat perangsang?” tanya Naufal yang semakin tak mengerti.


“Katty,” lirih Joe.


“Katty!” Naufal terbelalak. “Si, Katty, cantik, putih mulus, seksi dan bohay itukan?” tanya Naufal kini.


Joe, tak menjawab. Hanya anggukan, yang mengisyaratkan jika itu benar.


“Astaga Joe… ternyata dia belum bisa move on darimu, hahaha!” sekilas, Naufal tertawa. Namun, setelah itu ia kembali membungkam mulutnya. Mengingat, jika saat ini Tania sedang terbaring lemah di sana.


“Eh, maaf-maaf. Ehm! Tapi… ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa mendapatkan obat itu darinya?” tanya Naufal penuh selidik.


“Iya, itu semua karena tadi aku menemuinya.” tukas Joe.


“Apa! Kau benar-benar gila Joe!” seru Naufal terkejut, mengingat bagaimana bisa, Joe, pria yang sudah beristri menemui wanita lain di tengah malam. Mantan pacar pula.


“Ini, tidak seperti yang kau fikirkan.”


Joe, pun kini menceritakan awal mula bagaimana ia bisa menghampiri Katty di tengah malam seperti ini.


Setelah Naufal mendengar semua cerita yang keluar dari mulut Joe. Naufal, seketika geleng-geleng kepala tak habis fikir dengan kejadian itu semua. Ia juga sangat menyayangkan, karena kejadian itu, bisa saja membahayakan


kehamilan Tania yang saat ini masih sangat muda.


Untung saja, rahim Tania kuat masih mampu menahan apa yang di lakukan Joe saat ini padanya. Karena, jika tidak habislah sudah. Mungkin, saat ini Tania bukan cuma pingsan, melainkan juga mengeluarkan gumpalan darah yang menandakan jika ia telah keguguran. Untung saja, hal itu tidak terjadi. Bayinya, masih sangat aman berada didalam rahim Ibunya.


“Joe, apa kau tau? perbuatanmu barusan hampir saja mencelakain  anak yang tengah di kandung Tania.” jelas Naufal. “Jika saja, kandungan Tania tidak kuat. Mungkin sekarang ia bukan hanya pingsan, melainkan juga kehilangan bayinya.” jelas Naufal lagi.


Joe, terbelalak. Ucapan Naufal sangat menakuti dirinya. Mungkinkah akan seburuk itu? Sungguh, Joe tak pernah tau. Dan hal itu membuatnya sangat di penuhi rasa sesal.


TBC.


Mau Ra sambung lagi nggak, hari ini. Jika mau, yuk acungin jempolnya. Hehehe^^

__ADS_1


__ADS_2