
Sore hari, dirumah Gladis masih ada beberapa orang yang mengangkut barang-barang masuk kedalam mobil box. Sebagian barang siang tadi sudah dikirim kerumah barunya di Jakarta. Sore ini keluarga Gladis memang harus segera berangkat.
Gladis masih ada di dalam kamarnya. Dia memandang sekitar kamarnya dengan tatapan sedih. Tak terasa air matanya kembali membasahi wajah cantiknya.
" Aku akan merindukan kamar ini " gumam Gladis.
" Gladis " sapa mama tiba - tiba masuk kedalam kamar. " Sayang, kamu nangis ? "
Gladis cepat-cepat menghapus air matanya. "Enggak ko mah " Gladis tersenyum kearah Nadia.
Nadia langsung memeluk Gladis sambil mengelus-elus kepalanya. "Menangislah sayang, kalau itu akan membuatmu lega. Mama tau kamu sedih kita pindah dari sini. "
Air mata Gladis tidak bisa ditahan lagi, air matanya terus berjatuhan tanpa bisa dihentikan. Gladis terisak dipelukan Nadia.
" Gladis, akan merindukan rumah ini mah, merindukan kamar ini, semua kenangan Gladis ada disini " jawab Gladis sambil terisak.
" Sayang, kita bisa berkunjung kesini sewaktu - waktu. Papa tidak akan menjual rumah ini. Saat kamu libur, kita bisa berlibur disini " ucap Nadia menenangkan.
" Benar mah? " tanya Gladis.
" Benar sayang, papa bilang dia tidak akan menjual rumah ini. Karena disini juga banyak kenangan mama dan papa " jawab mama sambil melepaskan pelukannya.
Nadia menghapus air mata Gladis dengan tangannya, lalu merapihkan rambut Gladis yang sedikit berantakan.
" Sekarang kamu tersenyum dan kita turun ke bawah, papa sudah menunggu kita dibawah."
" Mama duluan ya, nanti Gladis kebawah 5 menit lagi" jawab Gladis sambil mencoba tersenyum.
" Oke sayang, mama tunggu dibawah."
Setelah mama Nadia keluar dari kamar Gladis, Gladis membuka laci meja belajarnya. Disana ada beberapa foto dirinya bersama Rey.
" Rey, aku akan merindukanmu " gumamnya.
Gladis mengambil satu foto mereka berdua dan menyelipkannya di dalam buku harian miliknya. Setelah itu Gladis keluar dari kamarnya dan turun untuk menemui mama dan papanya.
" Sayang, kamu sudah siapkan untuk berangkat? Tanya papa saat melihat Gladis.
" Iya pah Gladis siap."
Tapi tiba - tiba perhatiannya tertuju ke teras belakang.
" Pah boleh Gladis ke teras belakang dulu?"
Tanya Gladis ragu.
" Boleh sayang, apapun untuk putri papa. Kalau perlu 100 jam pun papa tunggu " ledek Rendi sambil tersenyum.
Gladis terkekeh mendengar jawaban papanya.
" Heheeee... Sebentar aja ko papa sayaaaang " jawab Gladis sambil meninggalkan papanya.
Diteras belakang Gladis melihat kearah kursi. Sesaat Gladis duduk di kursi itu.
Kursi dan meja ini yang biasanya dipakai Gladis menghabiskan waktu bersama Rey.
__ADS_1
" Rey entah apa kita masih bisa bertemu atau tidak. Aku harap aku bisa melupakanmu " batinnya.
Setelah puas dengan apa yang dilakukannya diteras belakang. Gladis kembali keruang keluarga. Disana mama Nadia dan papa Rendi sudah menunggunya.
" Mah, pah Gladis siap berangkat " ucapnya sambil tersenyum.
*******
Rey dan Bianca ada di Mall terkenal di Bandung. Hari ini memang Rey sedang menemani Bianca menonton. Sejak pertunangannya dengan Bianca. Rey memang tidak bisa menolak apapun permintaan Bianca.
Iya, Rey harus selalu bersama Bianca.
Seperti hari ini, mereka sedang berada di bioskop. Sebenarnya Rey tidak nyaman dengan ini semua. Akan tetapi, demi tidak mengecewakan papanya. Rey mengikuti permintaan papanya.
"Sampai kapan pah Rey harus seperti ini ?" batin Rey.
" Sayang " panggilan Bianca membuyarkan lamunannya.
" Sayang " suara Bianca kembali memanggilnya.
Rey melihat ke arah Bianca.
" Sayang setelah menonton temenin aku belanja ya " ucapnya manja.
" Maaf Bianca, lain kali saja ya. Aku rasa hari ini cukup."
" Tapi sayang, aku mau belanja " Bianca mengerucutkan bibirnya.
" Aku tidak mau membawamu pulang terlalu malam " jawab Rey tegas.
" Baiklah Rey, tapi lain kali temani aku berbelanja ya Rey."
Rey hanya mengganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Selama pergi menonton dengan Bianca. Rey tidak berhenti memikirkan Gladis. "Kenapa aku terus kepikiran Gladis, apa dia baik - baik saja? " batinnya.
Setelah selesai menonton dengan Bianca. Rey mengantarkan Bianca sampai rumahnya. Mobil Rey memasuki halaman rumah Bianca.
" Rey, masuk dulu ya " ajak Bianca.
" Maaf Bianca, aku harus pulang."
" Hmmmmmm... Baiklah.. " lalu Bianca turun dari mobil.
Setelah Bianca turun dari mobil, Rey langsung melajukan mobilnya keluar dari rumah Bianca.
Mobil Rey berjalan dengan kecepatan sedang, ternyata Rey tidak langsung pulang. Rey mengarahkan mobilnya ke arah rumah Gladis.
Rey sudah ada di depan rumah Gladis. Dia turun dari mobilnya dan melihat gerbang depan rumah Gladis terkunci.
" Apa tidak ada orang dirumahnya. Tidak biasanya gerbang ini dikunci " gumam Rey.
Rey langsung mengambil handphonenya. Lalu mencari nama Gladis untuk melakukan panggilan telepon.
Tuuuuut.... Tuuuuut... Tuuuuuut....
__ADS_1
Tuuut.. Tuuuuuut... Tuuuuuut...
Lima kali panggilan Rey tidak dijawab oleh Gladis.
" Kemana dia, kenapa tidak menjawab teleponku."
Akhirnya Rey mengirimkan pesan.
" Gladis, apa kamu baik-baik saja. Aku ada didepan rumahmu tapi gerbangnya terkunci. Tolong balas pesanku. "
Pesan itu langsung dikirimkan oleh Rey.
Rey terus melihat kearah rumah Gladis, berharap perempuan itu ada didalam dan mau keluar menemuinya. Hampir satu jam dia menunggu didepan rumah Gladis. Ternyata Rey harus menerima kenyataan bahwa Gladis tidak menemuinya, bahkan tidak membalas pesan yang dikirimkannya.
Akhirnya Rey memutuskan untuk pulang. Rey masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobilnya.
Didalam mobil Rey tampak sedih.
" Kenapa kamu selalu menghindar dariku Gladis. Maafkan aku Gladis, aku memang pengecut " gumamnya.
*****
Gladis masih dalam perjalanan ke Jakarta. Perjalanan untuk menuju ke Jakarta bisa memakan waktu 3 sampai 4 jam.
Gladis duduk di belakang, sedangkan mama dan papanya duduk di depan.
Suara handphone Gladis berbunyi.
Gladis mencari handphonenya yang ada di dalam tas. Dia melihat panggilan masuk dan ternyata itu Rey.
" Rey " batinnya.
Gladis diam, dia membiarkan teleponnya terus berbunyi.
" Sayang, siapa yang telepon? Kenapa kamu tidak mengangkatnya? " tanya Nadia.
" Hmmm.. " jawab Gladis ragu " hmmmm.. itu mah nomor enggak dikenal mah " jawabnya bohong.
" Diangkat dong sayang, siapa tau penting. Berkali - kali menelpon mungkin memang ada yang penting " sahut Rendi.
" Tidak usah pah, biarkan saja " jawab Gladis.
Nadia dan Rendi saling berpandangan. Sebenarnya mereka tau mungkin itu Rey dan Gladis tidak mau menjawab teleponnya.
Setelah ada lima panggilan dari Rey, ada pesan masuk dan Gladis segera membacanya.
"Maafkan aku Rey " batin Gladis.
Gladis meletakan handphone miliknya tanpa membalas pesan dari Rey.
________________________________________
Hai - hai para Readers.. Jangan pelit - pelit like, comment dan vote yaa 😍
terima kasih sudah mampir dan membaca karyaku semoga suka 😍🙏
__ADS_1