
Sore itu Rey sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, meskipun selama menyelesaikan pekerjaan Bianca selalu mengganggunya dengan mencari-cari perhatian dan menggoda Rey. Akan tetapi Rey tidak pernah menanggapinya, Bianca kesal terhadap sikap Rey, tapi dia tetap tidak menyerah.
Rey beranjak dari kursinya, "Ayo kita pulang" ucap Rey yang membuat Bianca menoleh kearahnya.
Iya, setelah Bianca melakukan segala cara untuk mencari perhatian Rey dan tidak ada satupun yang berhasil akhirnya dia memilih duduk di sofa yang ada di ruangan Rey sambil memainkan ponselnya. Meskipun bosan dia tetap menunggu Rey di ruangannya.
Bianca yang melihat Rey sudah beranjak dari kursinya langsung menghampirinya, "Kamu sudah selesai sayang? Ayo kita pulang, atau kita mau ke apartemenku" Goda Bianca sambil memainkan kancing baju Rey.
"Lepas Bianca, ini kantor dan aku tidak suka" ucap Rey datar sambil menjauhkan tangan Bianca. "Kalau kamu tidak suka di sini ayo kita lanjutkan ditempat lain" ucap Bianca dengan nada sensualnya.
Rey pergi melewati Bianca begitu saja, Bianca segera menyusul Rey "Tunggu sayang" ucap Bianca lalu dia setengah berlari menyusul Rey.
Rey dan Bianca sedang menunggu di lobby, mereka menunggu mobil yang sedang diambilkan oleh satpam. Tak selang berapa lama Shita juga muncul di lobby.
"Astaga kenapa ada m*nyet disini??" ucap Shita sarkas mendekati Rey dan Bianca sambil melihat Bianca yang sedang bergelayut di tangan Rey.
"Jaga ucapanmu wanita si*l*n" geram Bianca.
"Ahhahahahhaa, berarti loe ngerasa ya kalau loe itu m*nyet" jawab Shita santai.
Rey hanya diam tidak menanggapi perkataan Shita dalam hatinya dia ingin tertawa dan memuji keberanian Shita. Bianca mencari pembelaan dari Rey "Sayang, dia menghinaku" ucap Bianca manja.
Rey hanya melirik kearah Bianca yang sedang bergelayut di tangannya, "Kalau kamu tidak mau dipanggil dengan sebutan itu, lepaskan tanganku jangan bergelayut seperti itu" ucap Rey datar.
Shita yang mendengar Rey yang acuh kepada Bianca kemudian dia tertawa begitu kerasnya "Hahahhahahaaaa, ya ampuun seharusnya loe sadar diri. Sepertinya kau terlalu percaya diri" ucap Shita.
Bianca yang kesal akhirnya mencoba untuk menarik rambut Shita, Rey yang melihat kejadian itu langsung menarik Bianca. "Jangan buat keributan di sini" ucap Rey pada Bianca yang terlihat emosi dan terus meronta ingin menyerang Shita.
Begitupun dengan Shita juga yang tersulut emosi bergerak maju akan menyerang Bianca, tapi tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh Romi yang baru saja datang akan menjemput Shita.
"Sayang, tenang sayang" ucap Romi menenangkan Shita dalam pelukannya, walaupun Shita tetap saja meronta ingin menyerang Bianca. "Lepas Rom, aku mau buat perhitungan dengan wanita tidak tahu diri itu" ucap Shita emosi.
"Rom, bawa Shita pergi dari sini" ucap Rey kepada Romi. Romi yang tidak tahu apa yang sedang terjadi hanya mengangguk dan segera membawa Shita pergi dan masuk ke dalam mobilnya.
Saat sampai di mobil, Shita masih merasa kesal dan napasnya masih terdengar naik turun menahan emosi. Shita menatap tajam kearah Romi, "Kenapa kamu menghentikanku. Aku bisa saja mencabik-cabik mukanya." Romi hanya tersenyum dan mendekat ke arah Shita "Sayangku, kau menggemaskan sekali saat marah seperti ini" lalu Romi mencubit pipi Shita yang memerah menahan emosi lalu menariknya kedalam pelukannya. Shita yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa pasrah, Romi memang sangat tahu apa selalu dia butuhkannya. Sebuah pelukan nyatanya dapat meredakan emosinya.
__ADS_1
Saat dirasakan Shita sudah merasa sedikit tenang, Romi mencium puncak kepala Shita dan melepaskan pelukannya. "Gadis pintar" Ucap Romi sambil mengusap kepala Shita. Muka Shita semakin merah mendapatkan perlakuan manis dari Romi.
"Makasih Ka Rom" ucap Shita malu-malu.
"Kita sudah mau menikah, tapi kamu masih panggil aku kaka, memangnya aku kakakmu" ucap Romi sedikit kesal.
"Terus aku harus panggil apa" ucap Shita sambil tersenyum manis kearah Romi.
"Lebih sering panggil aku sayang, atau my hubby misalnya" Romi menaik turunkan alisnya menggoda Shita. Shita yang melihat Romi tertunduk malu, mengingat statusnya akan segera berubah menjadi Ny. Romi. "Baiklah hubby" ucap Shita malu-malu.
"Apa?? Aku enggak denger sayang, lebih keras lagi"
Shita melirik kearah Romi lalu dengan malu-malu Shita mengatakan, "Hubby" lalu dia membuang pandangannya lagi keluar jendela mobil. Romi yang mendengar sebutan baru untuk dirinya sangat senang, "Yeees, begitu dong sayang" katanya terkekeh. Lalu setelah itu Romi menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari kantor Shita.
"Sayang kamu mau kemana? Mau cari makan diluar dulu atau langsung pulang kerumah? " tanya Romi sambil fokus mengemudi.
Shita melirik kearah Romi, "Boleh aku minta antar ke rumah Gladis, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan Gladis."
"Siap calon istriku" jawab Romi cepat yang membuat muka Shita kembali memerah saat mendengar kata istriku yang diucapkan oleh Romi.
"Nak Romi, tidak nunggu didalam saja?" tanya Nadia.
"Romi disini saja tante" ucap Romi.
"Baiklah diminum ya teh dan cemilannya, tante tinggal dulu ke dalam" ucap Nadia.
🍀 Di kamar Gladis
Took..
Took..
Took...
"Dis, ini gue Shita. Gue boleh masuk yaa" tanya Shita dari balik pintu.
__ADS_1
"Shita" gumam Gladis. Gladis buru-buru mengusap air matanya yang dari tadi terus keluar dari matanya. Wajahnya sembab dan matanya yang bengkak membuktikan kalau dia sudah lama menangis.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka.
"Taaaa" Gladis langsung berhambur kedalam pelukan Shita saat melihat Shita.
Shita yang melihat Gladis yang sangat kacau langsung memeluk sahabat baiknya itu, "Kita duduk dulu yuk, loe bisa jelasin semuanya sama gue." Shita melepas pelukannya dan mengajak Gladis duduk di atas tempat tidurnya, tidak lupa Shita menutup pintu kamarnya terlebih dahulu.
Setelah mereka duduk, Shita menatap Gladis "Sebenernya ada apa Diss??" tanya Shita prihatin melihat kondisi sahabatnya.
"Taaaa, dia mutusin gue padahal kita mau nikah Taaa.. Hikss... hikss.. hikss... " jawab Gladis sambil terisak.
Benar apa dugaan Shita kalau Rey kembali kepada Bianca, tapi kenapa?? sepertinya dia yakin ada sesuatu karena dia melihat secara langsung perlakukan Rey kepada Bianca berbeda dengan perlakuannya kepada Gladis.
"Ya ampun sayang" Shita kembali memeluk Gladis. "Loe tenang aja, gue selalu ada di sisi loe. Jangan sedih ya sayang. Gue yakin Rey punya alasan kuat dia ngelakuin ini semua." ucap Shita.
Gladis melepaskan pelukan Shita "Maksud kamu apa Taaa, ko kamu belain Rey??" ucap Gladis merasa kesal.
"Bukan begitu sahabatku sayang, dengerin dulu penjelasan gue yaa... Tadi gue 2 kali ketemu sama Rey dan Bianca di kantor."
"Seriusan?? Tega banget tadi pagi dia baru putusin gue dan siangnya dia bawa wanita itu ke kantor??" jawab Gladis kecewa.
"Dengerin dulu jangan potong omongan gue yaa" pinta Shita dan Gladis hanya menganggukan kepalanya "Begini Diss.. Gue liat sih Rey enggak beneran balikan sama Bianca dilihat dari sikapnya dia cuek banget bahkan dia kaya enggak peduli, beda banget perlakuannya sama loe. Tapi gue juga bingung sih kenapa dia malah mutusin loe, tapi gue yakin ada alasan kuat dia ngelakuin hal ini. Kemarin aja loe baik-baik aja kan?? Bahkan tadi pagi loe bilang kalian masih baik-baik aja kan?? Loe ngerasa janggal gak sih??"
"Gue gak tau Taaa, yang jelas gue kecewa sama Rey. Tiba-tiba dia mutusin gue, padahal kita udah mau nikah Taaa. Gimana caranya gue ngomong sama mama dan papa gue Taaa.."
"Coba deeh lo pikir-pikir dulu akhir-akhir ini ada kejadian aneh gak sama Rey atau loe." tanya Shita.
Gladis beberapa saat berpikir, "Kemarin pas gue ke tabrak mobil ternyata yang nyelamatin gue itu Ardi, dan dia bilang kalau kita harus hati-hati. Tapi gue enggak tau maksud dari ucapannya, dan tadi pas gue di taman gue juga ketemu Ardi. Menurut loe apa ini semua ada hubungannya dengan Ardi atau Bianca??" tanya Gladis.
"Bisa jadi Diss, loe tau kan kalau Ardi itu penghianat."
"Apa mungkin???" ucap Shita dan Gladis bersamaan. mereka saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Kita harus menyelidikinya" ucap Shita.