Cerita Cinta Anak Muda

Cerita Cinta Anak Muda
Maafkan aku 2


__ADS_3

Matahari sudah semakin naik, udara yang tadinya sejuk sudah berubah menjadi panas. Tapi Gladis masih betah duduk di kursi taman. Tatapan matanya kosong, menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam. Dilihatnya jam yang melingkar di tangan kanannya, waktu sudah menunjukan pukul 10. Tidak terasa sudah dua jam dia duduk disana.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak mau pergi ke kantor lagi, sebaiknya aku pulang saja" gumam Gladis. Saat akan menghentikan taksi tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya. Gladis mengernyitkan dahinya saat dirasa mobil itu sudah menghalangi jalannya. Saat kaca mobil itu terbuka alangkah terkejutnya yang berada di dalam mobil adalah Ardi.


"Ardi" lirih Gladis.


"Apa kabar Gladis?" sapa Ardi.


"A- Aku baik, maaf aku permisi" Gladis langsung berlari kearah taksi yang ada di dekatnya.


Gladis saat ini sudah berada dalam taksi dan menuju kerumahnya. Dia masih berpikir mencari alasan kenapa dia sudah pulang sepagi ini dan juga menyusun kata-kata yang tepat menjelaskan kepada kedua orangtuanya tentang hubungannya bersama Rey. Karena sibuk dengan pikirannya, Gladis tersadarkan oleh suara supir taksi yang memanggilnya.


"Mba kita sudah sampai" ucap supir taksi.


Gladis melihat sekeliling "Eh iya pak maaf" Gladis langsung mengambil uang dari dalam tasnya lalu memberikannya kepada supir taksi tersebut. "Terima kasih ya pak"


Supir taksi tersebut menerima uang yang diberikan Gladis "Sebentar mba ini ada kembaliannya" ucap supir tersebut.


"Tidak usah pak, ambil saja kembaliannya" Gladis segera turun lalu masuk kedalam rumah.


Saat masuk kedalam rumah, Gladis melihat mamanya sedang berada diruang keluarga menonton siaran tv favoritnya. Melihat Gladis pulang, Nadia bingung. "Loh sayang, kok kamu udah pulang. Itu kenapa mata kamu sembab? Kamu nangis? Kenapa?" Nadia memberondong Gladis dengan banyak pertanyaan.


Belum sempat menjawab Gladis langsung memeluk Nadia yang masih duduk di sofa ruang keluarga. Nadia heran kenapa Gladis tiba-tiba bersikap seperti ini. Tapi yang Nadia lakukan adalah membalas pelukan Gladis dan mengusap kepalanya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Nadia. Bukannya menjawab tangis Gladis semakin pecah, Gladis tidak bisa membendung rasa sakitnya saat ini yang dia inginkan hanya pelukan mamanya dan juga menumpahkan semua tangisannya.


Nadia tidak bertanya lagi, dia membiarkan Gladis mengeluarkan semua air matanya. Nadia tetap memeluk Gladis dan mengusap kepalanya dengan penuh sayang, dan juga sesekali mencium puncak kepalanya. "Menangislah sayang, kalau itu membuat kamu lega."


Setelah dirasa Gladis sudah tenang, Nadia menjauhkan badannya melepas pelukan Gladis. Dia menatap wajar putri satu-satunya, putri kesayangannya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap cerita sama mama? Kalau kamu belum siap mama tidak akan memaksa kamu untuk cerita sekarang.Tapi saat kamu siap, mama harus mendengar alasan kamu bisa menangis seperti ini." ucap Nadia.


Gladis menghapus sisa air mata yang masih ada di wajah cantiknya, "Maaaa, hiks.. hiks.. hiks.." Gladis kembali menangis. "Maaf maa, Gladis belum bisa cerita, Gladis masuk kekamar dulu ya ma" Gladis beranjak dari sofa lalu berlari ke kamarnya.


Nadia yang melihat putri kesayangannya terlihat sangat sedih hanya mampu menghela napasnya, tidak tahu harus berbuat apa. Gladis juga belum mau menjelaskan masalahnya, mungkin saat ini yang terbaik adalah memberikan ruang dan waktu untuk Gladis menenangkan diri.


Sementara di kantor, Rey juga tidak bisa tenang. Pikirannya masih dipenuhi dengan Gladis. Dia sebenarnya tidak tega dengan rencananya ini, tapi ini jalan yang terbaik untuk masalahnya saat ini. Untuk menjebak Bianca inilah salah satu caranya.


"Maafkan aku sayang, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau Bianca menyakitimu, kalau kamu masih bersamaku itu akan membahayakanmu." gumamnya.


Suara ponselnya membuyarkan lamunannya, Rey segera mengangkat panggilannya.


"Halo" Rey mendengerkan seseorang berbicara "Bagus, lanjutkan... Dan jangan lupa jaga dan perketat keamanan keluarga Gladis." Rey segera menutup panggilannya.


Rey segera mencari kontak bernama Bianca di ponselnya. Rey segera melakukan panggilan telepon tak perlu waktu lama Bianca sudah menjawab telepon darinya.


"Halo sayang, kamu pasti merindukanku." ucap Bianca saat menerima telepon dari Rey.


"Untukmu, aku selalu ada waktu sayang" jawabnya dengan manja.


"Baiklah, jam makan siang aku tunggu di cafe x"


"Dengan senang hati sayang, aku sangat merindukanmu"


Rey langsung menutup panggilannya, dia sangat muak dengan semua ini. Tapi dia tidak mau rencananya terungkap, dia harus berusaha terlihat baik di depan Bianca.


Toook.. Tooook.. Tooook...


Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangannya, "masuk" jawab Rey.

__ADS_1


Terlihat Beni masuk kedalam ruangannya dengan membawa beberapa dokumen, "Pak, ini dokumen yang anda minta dan ini ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani" ucap Beni.


"Terima kasih Ben, aku akan memeriksanya. Kau boleh pergi sekarang" ucap Rey.


Beni segera keluar dari ruangan Rey, lalu terlihat Beni mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang. Senyumannya mengembang setelah mengirimkan pesan.


Setelah kepergian Beni, Rey tersenyum. "Sedikit demi sedikit semuanya akan terungkap siapa yang setia padaku dan yang tidak setia kepadaku. Pada saatnya tiba, aku tidak akan memberikan maaf bagi mereka."


🍀 Dirumah 🍀


Took.. Took.. Took...


"Sayang, makan siang dulu. Mama sudah masak, makanan kesukaan kamu. Kita makan yuuk nak" ajak Nadia.


Mendengar mamanya memanggil, Gladis yang dari tadi melamun akhirnya bangkit dari tempat tidurnya.


Ceklek.... pintu kamar terbuka.


"Terima kasih ma, tapi Gladis belum lapar. Mama makan duluan ya, nanti kalau Gladis lapar pasti Gladis makan" jawabnya.


"Tapi sayang, ini sudah siang. Nanti kamu bisa sakit kalau telat makan" ajak Nadia lagi.


"Gladis bukan anak kecil mah, saat Gladis lapar pasti Gladis turun untuk makan."


Nadia yang menerima tolakan dari Gladis hanya menghela napas "Baiklah, kalau kamu lapar. Kamu janji ya segera makan. Mama enggak mau kamu sakit" ucap Nadia.


"Iya mah" jawab Gladis sambil tersenyum yang dibuat-buat untuk memenangkan hati mamanya.


"Yasudah" Nadia meninggalkan Gladis dengan sangat berat hati.

__ADS_1


tbc....


Terima kasih yang sudah mau baca novelku. Tolong di like dan comment dan kalau bisa vote yaa terima kasih ❤❤


__ADS_2