
Mentari pagi ini bersinar sangat cerah, memberikan kehangatan pada bumi kita tercinta. Pancaran sinarnya merupakan pancaran untuk masa depan. Seperti pagi ini Rey sedang menikmati sinar matahari pagi bersama secangkir kopi. Harum aroma kopi pagi selalu membangunkannya dari mimpi dan menumbuhkan semangat untuk mewujudkan mimpi itu.
Hari ini adalah hari pertama Rey menjadi CEO perusahaan Pratama Group. Dia menggantikan Papa Agung karena menurutnya inilah waktunya Rey untuk memimpin perusahaan. Waktunya Rey untuk menggapai mimpinya, untuk bisa membawa perusahaan Pratama Group lebih berkembang lagi.
Suara ketukan dari pintu apartemennya membuat Rey beranjak dari tempat duduknya.
" Pagi mas Rey. Sudah siap berangkat? " tanya pak Agus saat melihat Rey membuka pintu. Rey sudah terlihat rapi dengan jas yang dipakainya. Dia terlihat sangat tampan dan berwibawa.
" Sudah pak, sebentar saya ambil tas saya dulu " ucap Rey meninggalkan Pak Agus. Setelah mengambil tas, Rey langsung berangkat ke perusahaannya.
Rey terlihat sangat menikmati suasana pagi ini. Suasana ibu kota memang selalu ramai, meskipun masih pagi sudah terlihat hirup pikuk kehidupan yang tidak pernah ada matinya. Banyak kendaraan berlalu lalang, bahkan beberapa titik kemacetan selalu tidak dapat dihindari.
Rey sudah sampai di perusahaannya, belum banyak karyawan yang sudah datang. Rey memang memilih berangkat lebih awal untuk melihat situasi di sana. Ardi yang sudah tau Rey datang lebih awal diperusahaan sudah menunggunya di depan lobby. Saat melihat mobil Rey masuk, Ardi langsung menghampirinya.
" Pak Rey, kenalkan saya Ardi. Saya yang akan membantu bapak " ucapnya sungkan.
Rey tersenyum dan menepuk pundak Ardi "Tidak perlu sungkan, papa bilang umur kita hampir sama. Panggil saya Rey " ucap Rey.
Ardi terkejut dengan kata - kata Rey. Dia tidak menyangka anak bosnya bisa sebaik ini. Bahkan menolak dipanggil bapak olehnya.
" Tapi pak, maaf saya tidak bisa " jawab Ardi sopan.
" Saya bosnya disini, jadi itu adalah salah satu perintahnya " ucap Rey sambil tersenyum.
" Baiklah Pak... Eeh maksud saya Rey " jawab Ardi.
" Bagus " ucap Rey sambil tersenyum.
Kini Rey terlihat memasuki perusahaannya ditemani oleh Ardi. Kemarin memang sudah diumumkan bahwa hari ini akan ada CEO baru, saat ada beberapa karyawan yang sudah datang dan melihat ada seseorang bersama Ardi mereka yakin bahwa itu adalah CEO barunya. Mereka terlihat membungkuk memberikan hormat.
Rey pun melihat ke arah yang memberinya hormat sedikit memberikan senyum tipisnya. Mereka terkagum - kagum akan ketampanan bos barunya itu.
Rey melihat setiap sisi perusahaan di temani oleh Ardi. Langkah awal yang Rey ingin lihat adalah seberapa nyamannya lingkungan kerja bagi karyawannya. Rey bahkan melihat setiap sudut ruangan diperusahaannya. Sesekali Ardi mencatat apa yang perlu diperbaikinya. Setelah puas berkeliling kesetiap sudut perusahaannya Rey memutuskan masuk keruangannya.
Ruangannya di lantai 20 itu sangat bagus dan nyaman. Rey masuk dan diikuti oleh Ardi.
" Apa sekertarisku belum datang? Apa dia tidak tau kalau aku akan datang lebih pagi " tanya Rey.
"Maaf Rey, tadi dia memberitahuku kalau dia izin akan terlambat " ucap Ardi ragu.
" Apa dia tidak tahu kalau ini hari pertamanya dia bekerja denganku, kenapa dia malah terlambat " ucap Rey sedikit kesal.
Tiba - tiba ada suara ketukan pintu dari luar. Ardi langsung menuju pintu dan membuka pintunya.
" Maaf aku sangat terlambat " sapanya saat Ardi membuka pintunya.
" Masuklah Bos sudah menunggu " wanita itu segera masuk.
Daaaaaaaaan...
Gleeek.....
__ADS_1
Sekertaris itu menelan salivanya, bola matanya membulat sempurna saat melihat didepannya adalah orang yang dia kenal. Rey Aditia Pratama orang yang selama ini berusaha dia lupakan, tiba - tiba orang itu sekarang muncul di hadapannya. Seketika dia berbalik arah lagi ingin meninggalkan ruangan bos barunya itu. Saat itu Rey sedang melihat berkas - berkas yang harus dia pelajari. Jadi saat Gladis masuk Rey tidak melihatnya. Tiba - tiba saat Gladis berbalik dan akan meninggalkan ruangan tersebut. Suara Rey menghentikan langkahnya.
" Mau kemana kamu, hari pertama kerja sudah terlambat dan sekarang tiba-tiba pergi begitu saja " ucap Rey sedikit kesal.
Gladis masih memantung membelakangi Rey dengan wajahnya yang terlihat pucat. Ardi yang melihat Gladis sedikit heran " Kenapa wajahnya pucat? Apa dia sakit?" batin Ardi. Meskipun baru tiga bulan Gladis bekerja disini tidak pernah Ardi melihat Gladis seperti ini wajahnya terlihat pucat dan seperti orang yang ketakutan.
" Apa kamu tidak bisa mendengarku " ucap Rey lagi. Rey berdiri dari tempat duduknya dan ingin menghampiri sekertarisnya itu.
" Diis, kamu kenapa? " tanya Ardi sedikit berbisik. Gladis hanya memejamkan mata sambil mengigit bibir bawahnya, napasnya tidak teratur, detak jantungnya berdebar sangat cepat. Terdengar suara sepatu Rey yang berjalan mendekat ke arahnya.
Dan tiba - tiba Gladis tidak sadarkan diri.
Rey yang melihat sekertarisnya itu akan jatuh, segera menangkap kepelukannya. Beruntung Rey menangkapnya tepat waktu jadi kepala sekertarisnya itu tidak terbentur.
Rey sangat terkejut saat mengetahui, sekertarisnya itu ternyata adalah Gladis.
" Gladis " gumam Rey terkejut.
Rey sangat khawatir saat melihat yang tidak sadarkan diri adalah Gladis. Rey, segera menggendong Gladis dan membawanya ke sofa yang ada diruangannya.
" Di, tolong bawakan kayu putih dan teh hangat " ucap Rey khawatir. Setelah menerima perintah dari Rey, Ardi segera pergi mengambil apa yang diminta Rey.
Wanita yang selama enam tahun dirindukannya ada dihadapannya sedang tidak sadarkan diri. Dia begitu cantik dan terlihat dewasa. Tanpa sadar saat ini Rey sedang mengelus pipi Gladis, mengusapnya dengan lembut dan satu tangannya menggenggam tangan Gladis.
" Gladis, bangun Gladis " ucapnya lembut.
Sorot matanya sangat khawatir.
Ardi yang melihat bos dan sekertarisnya itu heran. "Kenapa Rey terlihat sangat mengkhawatirkan Gladis " batinnya
Sekitar 1 menit Rey terus mengarahkan kayu putih ke hidung Gladis. Gladis mulai membuka matanya, samar-samar dia membuka matanya dan melihat Rey didepannya.
" Apa ini mimpi " batin Gladis.
Kepalanya masih sangat pusing, lalu dia tersadar bahwa benar bos barunya ternyata Rey. Setelah tersadar, Gladis langsung beranjak duduk. Dia masih memegang kepalanya dengan tangannya menutupi sebagian mukanya mengindari tatapan Rey.
" Tenanglah, kamu baru sadar. Jangan terlalu banyak bergerak dan minumlah " ucap Rey sambil mengarahkan segelas teh kepada Gladis.
Gladis sempat ragu untuk menerimanya, akan tetapi akhirnya Gladis menerima segelas teh yang diberikan Rey dan mulai meminumnya sedikit. Setelah merasa cukup, Gladis meletakan kembali gelas teh nya di meja.
" Apa kamu sudah lebih baik " tanya Rey masih dengan nada khawatir.
Gladis hanya mengangguk.
" Apa perlu kita kedokter? " tanya Rey lagi.
Gladis hanya menggeleng.
Ardi yang melihat keduanya bersikap aneh hanya memperhatikan interaksi antara bos baru dan sekertarisnya itu.
" Apa kamu yakin bisa kerja hari ini, kalau kamu sakit, kamu boleh pulang? " ucapnya lagi.
__ADS_1
Gladis hanya mengangguk sambil masih memegang kepalanya agak bisa menutupi mukanya. Gladis tidak siap dengan pertemuannya dengan Rey, dia tidak tahu harus berkata apa. Jantungnya berdetak sangat kencang, bahkan dia tidak berani dan tidak sanggup untuk sekedar melihat Rey.
Tiba - tiba Gladis berdiri,
" Terima kasih pak " ucap Gladis lalu buru - buru melangkahkan kakinya.
" Tunggu " ucap Rey.
Langkah Gladis terhenti saat Rey memanggilnya. Tapi Gladis tidak sedikitpun melihat ke arah Rey.
" Kamu yakin bisa pulang sendiri ? " tanya Rey yang masih khawatir.
" Bisa pak, nanti seseorang akan menjemputku " jawabnya masih sambil menundukan kepalanya.
Rey yang mendengar jawaban Gladis tiba-tiba teringat Romi. Dia berpikir mungkin Romi yang akan menjemputnya. Rey mengambil kesimpulan kalau Gladis memang mempunyai hubungan dengan Romi. Rey menghela napasnya dan terlihat kecewa.
" Baiklah hati-hati " ucapnya sambil meninggalkan Gladis dan duduk kembali di kursi kerjanya.
Gladis yang sadar Rey telah meninggalkannya segera keluar dari ruangan Rey.
Ardi mengikuti Gladis keluar ruangan.
" Diss kamu engak apa- apa kan? Kenapa bisa pingsan? Apa kamu sakit? Tanya Ardi beruntun.
" Aku enggak apa-apa, aku mau pulang" jawabnya singkat.
Ardi yang aneh melihat sikap Gladis membiarkan Gladis pergi begitu saja.
Gladis mengambil handphonennya dan memesan taksi online. Saat dia turun ternyata taksi online yang dia pesan sudah ada dan Gladis segera pulang kerumah.
Diperjalanan Gladis hanya melamun.
" Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya, belum sempat bisa melupakannya walaupun sudah 6 tahun sekarang dia malah jadi bosku. Bagaimana bisa aku melupakannya kalau tiap hari harus bertemu dengannya " gumamnya. "Apa yang harus aku lakukan Ya Tuhan " ucapnya.
" iya mba ada apa? " tanya supir taksi.
" Eeeh... maaf pak saya bukan bicara dengan bapak " ucap Gladis.
" Oalah, cantik - cantik ko ngomong sendiri mba" jawab supir taksi itu. Gladis yang mendengarnya hanya diam tidak menanggapi.
**Bersambuuuuung......
_______________________________________
Yang sudah baca jangan pelit - pelit ya sayang..
jangan lupa VOTE..
jangan lupa LIKE..
jangan lupa Comment...
__ADS_1
TERIMA KASIH ❤**