
Gladis masuk kedalam rumah. Senyumannya terus mengembang menghiasi wajah cantiknya. Rumah sudah tampak gelap, menandakan penghuni rumah sudah terlelap.
Gladis masuk kedalam kamarnya, merebahkan badannya di kasur empuk miliknya. Dia memikirkan ucapan Rey yang mengatakan kalau Rey sudah tidak bertunangan dengan Bianca. Entah kenapa hatinya sangat senang mendengarnya.
" Rey sampai saat ini aku masih mencintaimu " gumamnya.
Ditempat lain Rey masuk kedalam apartemennya. Dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hatinya merasa senang mengetahui bahwa Gladis dan Romi tidak mempunyai hubungan apa-apa.
" Aku masih punya harapan, kali ini aku tidak mau kehilanganmu lagi " gumamnya.
🍀 Keesokan harinya.
" Selamat pagi mah, pah." Sapa Gladis.
" Selamat pagi sayang, semalam kamu pulang malam? " tanya Rendi.
" Hmmm.. iya pah maaf, Gladis lupa kasih kabar kalau pulang malam."
" Lain kali kalau kamu pulang malam, kasih kabar mama sama papa jangan bikin khawatir " ucap Rendi.
" Siap bos " jawab Gladis.
" Ya sudah ayo kita sarapan " ajak Nadia.
Setelah sarapan, Gladis pamit kepada mama dan papanya.
" Gladis berangkat dulu ya mah, pah " sambil mencium tangan kedua orangtuanya dan mencium pipi keduanya.
Seperti biasa Gladis selalu memesan taksi online. Saat dia sedang menunggu didepan rumahnya. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depannya.
" Sepertinya aku pernah melihat mobil itu " batinnya.
Mobil terbuka dan betapa terkejutnya saat melihat sosok yang turun dari mobil itu.
" Pagi " ucap Rey menghampiri Gladis.
Gladis mengerjap tidak percaya.
" Paaa.. Pagii... Rey, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Gladis bingung.
" Menjemputmu " jawab Rey santai.
" Taa... Tapiii.. Aku sudah memesan taksi online."
" Kamu bisa membatalkannya " jawab Rey sambil tersenyum.
" Tapi Rey... "
" Ayo berangkat " ajak Rey sambil membukakan pintu mobil untuk Gladis.
__ADS_1
Gladis tidak bisa menolak ajakan Rey, akhirnya dia masuk kedalam mobil. Rey menutup pintunya, dan Rey segera menyusul Gladis masuk kedalam mobil.
Gladis masih tidak percaya Rey menjemputnya.
" Pakai sabuk pengamannya Gladis " tiba-tiba Rey memasangkan sabuk pengaman untuk Gladis. Sekarang jarak mereka sangat dekat. Dengan jarak sedekat ini mereka bisa saling merasakan hembusan napas satu sama lain. Membuat mereka harus bisa menguasai diri untuk mengontrol detak jantungnya yang berdebar dengan cepat.
Rey menarik tubuhnya, " Maaf " ucapnya.
" Tidak apa-apa, terima kasih " jawab Gladis mencoba biasa saja meski sekarang jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Semenjak tadi suasana di dalam mobil menjadi hening. Akan tetapi keheningan tidak berlangsung lama saat Rey memulai obrolannya.
" Bagaimana kabar om Rendi dan tante Nadia? "
Gladis melihat kearah Rey. " Mereka baik "
" Aku sangat merindukan kue buatan tante Nadia " ucap Rey sambil melihat ke arah Gladis.
" Kapan-kapan kamu bisa mencicipinya lagi" jawab Gladis sambil tersenyum.
" Benarkah? "
" Iya benar, mampirlah kapan-kapan kerumah."
Mendengar jawaban Gladis, Rey sangat senang. Tidak terasa akhirnya mereka sampai di gedung Pramata Group.
Gladis membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil.
" Gladis "
" Pulang nanti, boleh aku antar lagi?" Tanya Rey ragu.
" Aku tidak mau merepotkanmu Rey " jawab Gladis.
" Tidak merepotkan sama sekali, aku senang bisa mengantarmu. "
Gladis tersenyum " baiklah."
Gladis turun dari mobil dan diikuti oleh Rey. Mereka masuk ke dalam gedung Pratama Group bersama-sama. Beberapa pasang mata memandang tidak suka, bahkan ada beberapa karyawan yang mencibir Gladis.
" Lihat setelah dia menarik perhatian Pak Ardi, sekarang dia menarik perhatian Pak Rey, sungguh wanita m*rahan " ucap Bella salah satu karyawan disana.
Shita yang tidak sengaja mendengar ucapan Bella.
" Heh jaga mulut loe, mulut loe gak pernah sekolah ya " sahut Shita emosi.
" Kenapa loe belain perempuan m*rahan itu, apa jangan-jangan loe sama m*rahannya. "
Rey dan Gladis yang melihat keributan segera menghampirinya.
" Ada apa ini? " tanya Rey.
__ADS_1
Keduanya menundukan kepala saat Rey bertanya.
" Maaf Pak, tadi Bella menjelek - jelekan Gladis " jawab Shita.
Gladis yang mendengar itu merasa kesal tapi dia hanya diam saja.
"Kenapa dia bisa menjelek-jelekan Gladis?"
" Bella bilang Gladis perempuan m*rahan, kemarin Gladis menarik perhatian Pak Ardi dan sekarang Pak Rey " jawab Shita.
Gladis yang mendengar itu langsung berkaca-kaca hatinya sangat sakit.
Rey yang melihat Gladis berkaca-kaca langsung meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
" Gladis ini sahabat saya dari SMA, dia perempuan baik - baik. Tidak seperti yang kamu pikirkan." Jawab Rey. " Dan ingat dia juga akan jadi Nyonya Rey Aditia Pratama."
Gladis yang mendengar itu sontak terkejut, tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
Begitu pula dengan beberapa karyawan yang melihat kejadian tersebut. Mereka terkejut dengan pernyataan Rey. Shita yang mendengar itu tersenyum puas ke arah Bella.
Rey menggenggam tangan Gladis dengan sangat lembut dan mengajaknya pergi dari sana. Gladis tidak menolak perlakuan Rey, dia masih sangat terkejut dengan pernyataan Rey barusan.
Rey mengajak Gladis masuk kedalam lift khusus petinggi Pratama Group. Rey terlihat sangat santai berbeda dengan Gladis yang merasa canggung. Rey juga tidak melepaskan genggamannya dan masih menggengam erat tangan Gladis.
" Rey, apa maksudmu? " tanya Gladis.
" Kamu tau maksudku Gladis " Rey melihat ke arah Gladis.
" Jangan bercanda Rey "
" Apa aku terlihat bercanda? " tanya Rey.
Rey mendekat, menatap lembut kearah Gladis dengan masih menggenggam erat tangannya.
" Aku mencintaimu Gladis, aku tidak mau kehilanganmu lagi. "
Gladis membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rey.
Tiiiiiiing... Lift terhenti dan terbuka.
" Reeey " sapa seseorang.
Gladis dan Rey melihat Bianca yang sedang berdiri menatap keduanya. Dengan cepat Gladis melepaskan genggaman tangan Rey.
Beeersambuuuuung....
________________________________________
Jangan Lupa Like...
Jangan Lupa Comment...
__ADS_1
Jangan Lupa Vote...
Terima kasih ❤