
Pagi harinya Gladis bangun lebih pagi, menyiapkan hatinya agar tidak gugup bertemu dengan Rey. Selama 6 tahun, Gladis tidak bertemu dengan Rey. Tentu banyak yang berubah darinya, terutama penampilannya yang semakin tampan dan menawan. Semalam Gladis berpikir bahwa semuanya harus dihadapi. Dia tidak bisa pergi begitu saja seperti dulu.
" Aaaaaah.. Tenang Gladis, kamu pasti bisa melewati semua ini " batin Gladis.
Gladis mengatur napasnya agar tenang.
" Tariiiiik napaas, buuaaaang..... "
" Tariiiiik napaas, buuaaaang..... "
" Tariiiiik napaas, buuaaaang..... "
" Baiklah aku siap bertemu dengannya " gumamnya.
🍀Dimeja makan
" Selamat pagi mah, pah " Gladis mencium pipi mama dan papanya.
" Selamat pagi sayang " jawab mereka berdua.
" Bagaimana sudah siap bertemu cinta pertamanya?" tanya Rendi yang sudah tau ceritanya dari Nadia.
" Eeeeh " Gladis terkejut.
Nadia dan Rendi malah tertawa melihat sikap Gladis.
" Apaan sih mah, pah ko jadi ledekin Gladis sih " jawab Gladis sambil mengambil satu lembar roti.
" Sayang, masalah itu dihadapi bukan dihindari, kamu sudah dewasa pasti bisa menyelesaikan masalahmu " jawab Rendi.
" Siap Bos " jawab Gladis sambil mengerucutkan mulutnya.
Mama dan Papa Gladis hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Setelah selesai sarapan Gladis berangkat ke perusahaan dengan menggunakan taksi online.
Saat sampai di perusahaan, Gladis melihat Shita yang turun dari mobil Romi. Melihat Gladis, Romi turun dari mobil dan menyapa Gladis.
" Halo Diss, apa kabar? Aku dengar dari Shita, Rey pemilik perusahaan ini ? " tanya Romi.
" Taaa.. emang yaa mulut loe bocor " Gladis melirik ke arah Shita yang cengengesan.
" Sorry Diss " Shita tertawa sampai memperlihatkan deteran gigi putihnya.
" Kabarku kurang baik ka, sebenarnya aku belum siap bertemu dengannya. Aku juga baru tahu kalau dia ternyata pemilik perusahaan ini " jawabnya sedih.
" Semangaat doong " Romi mengacak - acak rambut Gladis sambil tertawa. Gladis cemberut mendapat perlakuan dari Romi.
" Ka Romi, rambutku kan jadi kusut " Gladis mengerucutkan bibirnya.
" Taaa.. lihat pacar loe yaa, gue kan jadi berantakan " ucap Gladis.
" Sayang, jangan buat penampilan Gladis jadi berantakan. Dia kan harus tampil cantik didepan Rey" jawab Shita sambil tertawa.
" Upppssss " jawab Romi yang disambut gelak tawa mereka bertiga.
Gladis membereskan lagi rambutnya yang sedikit berantakan. Lalu Romi berpamitan kepada mereka berdua. Gladis dan Shita melambaikan tangan sambil tersenyum kearah mobil Romi yang mulai meninggalkan gedung mereka.
" Yuuk Taaa kita masuk " ajak Gladis.
Dari kejauhan di dalam mobil, Rey melihat bagaimana kedekatan Romi dan Gladis. Sayangnya, Rey tidak melihat keseluruhan kejadian tadi.
" Ternyata benar, Gladis punya hubungan dengan Romi. Aku tidak boleh mengganggu hubungan mereka " batin Rey.
Saat ini hubungan Gladis dan Romi seperti kakak dan adik. Perasaan Romi hanya sebatas sayang terhadap adik. Karena perasaan cintanya sudah dia berikan kepada Shita.
Gladis sudah sampai di meja kerjanya. Dia terlihat sedang membereskan beberapa berkas yang harus diserahkan kepada Rey. Terdengar suara langkah sepatu yang mendekat. Gladis yakin itu adalah Rey. Gladis langsung berdiri menyambut kedatangan Rey tanda berani mengangkat kepalanya.
" Selamat pagi pak " sapa Gladis saat Rey ada didepannya sambil tetap menundukan kepalanya.
" Pagi " Rey begitu saja meninggalkan Gladis dan masuk ke dalam ruangannya.
" Haaaah, syukurlah " ucap Gladis mengelus dadanya. Gladis duduk kembali di kursinya.
Tiba-tiba Rey kembali kedepan.
" Gladis, masuk keruanganku " pintanya.
Gladis tampak terkejut, " Baa.. Baaik pak "
Gladis mengambil napas dan mengeluarkannya.
" Hmmmm huuuuh. Semangat " Gumam Gladis sambil melangkahkan kakinya kedalam ruangan.
Toook.. Toook.. Toook...
__ADS_1
" Masuk " jawab Rey dari dalam ruangan.
Gladis melihat Rey sedang membaca tumpukan berkas dimejanya. Rey melihat kearah Gladis yang sudah berdiri didepan mejanya.
" Duduklah " pintanya.
Gladis mengikuti perintah Rey dan duduk di depan Rey.
" Apa jadwalku hari ini " tanya Rey tanpa melihat ke arah Gladis dan tetap fokus pada berkas ditangannya.
" Hmmmm.. Hari ini ada jadwal rapat dengan pemegang saham dan ada pertemuan dengan perusahaan ABC untuk membahas proyek kerjasama pembangunan hotel Di Bali " jawab Gladis sambil menundukan kepalanya.
" Baiklah kau boleh pergi " ucap Rey.
Gladis segera berdiri berjalan menuju pintu keluar.
" Tunggu " ucap Rey tiba - tiba.
Gladis menghentikan langkahnya lalu berbalik kearah Rey yang sedang melihatnya dengan sorotan mata yang tidak bisa diartikan.
" Apa kabarmu Gladis ? " Rey menutup berkas yang tadi dia baca dan berjalan menghampiri Gladis.
" Aaaa.. Aaku baik Pak " jawab Gladis gugup. "Bagaimana kabarmu? " Gladis memberanikan diri untuk bertanya.
" Aku baik " jawab Rey.
Beberapa saat mereka diam, mereka terlihat sangat canggung.
" Bagaimana kabar Romi? " tanya Rey memecah keheningan disana.
" Romi ?? " Gladis bingung sampai mengerutkan dahinya.
Toook... Toook... Tooook..
Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Mereka berdua melihat ke arah pintu.
" Masuk " jawab Rey.
Saat masuk Ardi melihat Rey dan Gladis yang sedang berdiri berhadapan. Ardi memperhatikan mereka berdua.
" Maaf Rey, para pemegang saham sudah ada diruang rapat " ucap Ardi yang melihat keanehan dari Rey dan Gladis.
" Baiklah, kita segera kesana "
Rey terlihat membereskan jas yang dipakainya, Gladis memperhatikannya dengan penuh kekaguman. Saat Rey merasa Gladis memperhatikannya, Rey melihat kearah Gladis dan sejenak pandangan mereka bertemu. Lalu Gladis kembali menundukan kepalanya.
Pemegang saham sudah berkumpul di ruang rapat. Tidak lama setelah Rey masuk kedalam ruang rapat, ternyata Agung juga hadir dalam rapat kali ini. Hari ini para pemegang saham akan menghadiri rapat pengalihan jabatan dari Agung kepada Rey. Para pemegang saham ingin lebih mengenal dan ingin mendengarkan visi dan misi dari Rey sebagai pengganti sang ayah. Saat Rey memberikan sambutan, para pemegang saham sangat kagum akan kemampuan yang dimiliki Rey. Meskipun masih sangat muda, Rey mempunyai kemampuan luar biasa dalam berpikir. Para pemegang saham puas dengan apa yang di sampaikan oleh Rey dan mereka memberikan tepuk tangan.
" Papa bangga padamu nak " Agung memeluk Rey.
Rapat selesai dan para pemegang saham meninggalkan ruang rapat.
" Kapan papa sampai? Kenapa tidak memberitahu Rey? "
" Papa baru sampai Rey, mama mu juga ada dia ada diruanganmu "
" Benarkah pah? Rey sangat merindukan mama " ucapnya.
" Yasudah ayo kita keruanganmu " ajak Agung sambil menepuk bahu Rey.
Mereka berjalan menuju keruangan Rey.
Gladis yang sedang duduk di kursinya, berdiri saat melihat ada Agung dan Rey yang berjalan mendekat.
" Selamat siang pak " sapa Gladis sambil menundukan kepalanya.
" Siang " mereka menjawab bersamaan lalu masuk kedalam ruangan Rey. Disana terlihat mama Joice sedang duduk disofa sambil menikmati secangkir teh dan beberapa makan ringan yang tadi disediakan oleh Gladis.
" Mamah " sapa Rey saat melihat Joice.
" Sayang, apa kabar? " ucap Joice yang berdiri dan memeluk anak semata wayangnya.
" Rey baik mah, mama apa kabar? " mereka melepaskan pelukannya dan duduk di sofa.
" Kalian ini kalau sudah bertemu, papamu seperti tidak ada " ucap Agung kesal.
Lalu mereka tertawa.
" Bagaimana Rey, apa Ardi membantumu selama disini? " tanya Agung.
" Dia selalu membantu Rey pah, sepertinya Rey masih harus belajar banyak dari dia " ucap Rey.
" Baguslah, papa percaya padamu Rey "
" Ini sudah jam makan siang, bagaimana kita makan bersama pah, mah? Nanti Rey minta untuk Gladis siapkan makan siang kita " ucap Rey.
__ADS_1
" Ide bagus " jawab Joice.
Rey menelepon Gladis agar mempersiapkan makan siang untuk Rey dan orangtuanya. Gladis langsung memesan makanan dan menyiapkannya di ruangan Rey. Berbagai macam makanan sudah tersedia di ruangan Rey. Saat sudah selesai menyiapkan makanan. Gladis pamit untuk keluar ruangan.
" Siapa namamu " tanya Joice.
" Saya " Tanya Gladis bingung saat tiba - tiba Joice menanyakan namanya.
" Nama saya Gladis Nyonya " Gladis menjawab sambil tersenyum.
" Panggil saja Mama Joice " ucap Joice tersenyum ke arah Gladis.
Rey tampak terkejut melihat interaksi mamanya dan Gladis hanya Papa Agung terlihat santai.
" Baik Nyonya.. Maksud saya Mama Joice " ucap nya gugup. " Saya permisi " ucapnya lagi.
" Mau kemana Gladis, mari ikut makan bersama kami" ajak Joice.
" Tidak usah terima kasih, saya sudah makan " jawab Gladis bohong.
" Kamu yakin sayang? "Joice menghampiri Gladis yang masih berdiri.
" Jangan malu - malu, ayo kita makan bersama. Temani mama oke !! " ajak Joice yang menarik tangan Gladis agar duduk disebelahnya.
Rey tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya Rey sangat senang bisa sedekat ini dengan Gladis. Apalagi melihat mamanya yang sepertinya menyukai Gladis.
" Ayo tidak usah sungkan " ucap Agung. Rey terkejut dengan reaksi dari papanya.
Gladis hanya menggangguk dan tersenyum.
" Gladis tolong ambilkan nasi dan lauknya untuk Rey " pinta Joice.
Gladis terkejut dengan permintaan Joice, dia melihat ke arah Rey yang juga sama terkejutnya. Gladis segera mengambilkan nasi dan beberapa lauk kedalam piring Rey dan menyerahkannya kepada Rey.
Joice dan Agung tersenyum melihat keduanya.
" Gladis, mama minta tolong sama kamu. Mulai sekarang tolong perhatikan Rey ya dan kamu harus menyiapkan segala kebutuhan Rey. Jangan sampai dia lupa makan dan sibuk terus bekerja "
" Uhuuuuk... uhuuuuk "
Gladis terbatuk saat mendengar permintaan Joice. Rey yang khawatir langsung memberikan segelas air putih kepada Gladis.
" Terima kasih" ucap Gladis kepada Rey.
" Mah, jangan terlalu berlebihan. Rey bisa menjaga diri Rey sendiri. "
" Tapi sayang, mama hanya minta tolong agar Gladis lebih memperhatikan kamu. Itu saja ko, benarkan Gladis kamu tidak keberatan? " tanya Joice.
" Mah, tapi... " ucap Rey.
" Tidak ada tapi.. tapi Rey " jawab Joice.
Rey dan Gladis hanya bisa pasrah dan saling beradu pandang. Setelah mereka selesai makan siang. Gladis langsung membereskan alat makan dan makanan yang tersisa. Rey sesekali memperhatikan Gladis yang sibuk membereskan meja.
" Bagaimana Rey, dia bisakan jadi menantu mama " Ucap Joice tiba - tiba.
" Maksud mama? " tanya Rey sambil mengerutkan dahinya. Joice hanya tersenyum ke arah Gladis yang masih membereskan meja " Rey tidak mau mengganggu hubungan orang lain mah, dia milik orang lain " ucap Rey sedih.
Joice yang melihat Rey sedih mengusap pundak anaknya " Kamu yakin dia sudah punya pacar? " tanya Joice. Yang dijawab anggukan oleh Rey.
Mama Joice menarik napasnya panjang dan tampak kecewa. " Baiklah, mama dan papa pergi dulu ya " ucapnya sambil mencium anaknya.
" Gladis sayang, mama pamit ya tolong jaga Rey oke !! " ucap Joice.
" Baik Mah " jawab Gladis sambil tersenyum.
" Rey, papa pergi dulu ya " lalu mereka berpelukan.
Tinggallah Gladis berdua dengan Rey diruangan.
" Gladis, ucapan mama tadi tidak usah kamu pikirkan" ucap Rey.
" Baik pak, bapak tidak usah khawatir. Maaf pak jam 2 anda akan ada tamu dari perusahaan ABC " ucap Gladis sambil meninggalkan ruangan Rey.
" Terima kasih " jawab Rey.
" Maaf Gladis, aku hanya tidak ingin membuatmu salah paham. Dan aku juga tidak mau mengganggu hubunganmu dengan Romi. Sebaiknya kita memang menjaga jarak. Meskipun aku sangat merindukanmu juga mencintaiku. " batin Rey.
_______________________________________
Terima kasih yang sudah baca
Jangan lupa Like...
Jangan lupa Comment...
__ADS_1
Jangan lupa Vote....
Terima kasih ❤