
Setelah kepergian Ardi untuk memastikan Bianca benar-benar pergi. Rey masih berada di depan meja kerja Gladis.
" Gladis, maafkan aku. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba Bianca bisa ada disini, aku sudah tidak ada hubungan dengannya " ucap Rey.
" Tolong Rey, jangan sekarang, biarkan aku sendiri " Gladis menatap Rey yang juga menatapnya. Beberapa saat mata mereka beradu, lalu Gladis mengakhirinya. " Aku rasa, saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini, tolong beri aku waktu." Gladis mencoba tersenyum.
" Baiklah, tapi saat kamu sudah merasa siap untuk membahas ini semua, biarkan aku menjelaskan semuanya, oke!! Kita perlu bicara." pinta Rey.
Gladis menganggukan kepalanya. Rey masih berdiri didepan meja Gladis menatapnya penuh cinta.
Sesaat setelah itu Ardi datang kembali setelah memastikan Bianca benar-benar pergi.
" Rey, bisa kita bicara diruanganmu? " ajak Ardi.
Rey melihat ke arah Gladis memastikan wanita itu baik-baik saja " Ayo masuk keruanganku " ajak Rey. Kemudian mereka berdua masuk kedalam ruangan Rey.
Mereka sudah duduk berhadapan.
" Apa kau sudah mengurus Bianca? " tanya Rey.
" Dia perempuan keras kepala Rey, aku rasa dia tidak akan berhenti sampai disini, kau harus berhati-hati."
" Kau benar, tolong perintahkan jika dia datang lagi jangan sampai dia bisa masuk ke gedung ini " ucap Rey.
" Sebenarnya ada apa kau, Gladis dan Bianca ?" tanya Ardi.
"Aaah iyaa, aku berhutang penjelasan kepadamu."
Sejenak Rey terdiam sebelum akhirnya Rey mulai berbicara. " Dulu saat kita masih SMA di Bandung, aku dan Gladis bersahabat. Tapi aku menganggapnya lebih dari sekedar itu. Aku sudah sangat lama mencintainya bahkan sebelum aku bertunangan dengan Bianca. "
Rey menghela napasnya mengingat kembali pada masa dimana dia bersama Gladis.
"Persahabatanku renggang ketika Aku bertunangan dengan Bianca, sejak itulah Gladis menjauhiku. Bahkan saat orang tuanya pindah dari Bandung ke Jakarta dia menghilang begitu saja. Dia benar - benar memutus kontak denganku.
Aku kehilangan jejaknya selama 6 tahun, tapi sekarang saat takdir mempertemukan aku lagi dengannya dengan cara yang tidak terduga. Aku tidak mau lagi kehilangannya, dari dulu aku tidak pernah mencintai Bianca, aku hanya mencintai Gladis. Dia satu-satunya wanita yang aku cintai. " Jawab Rey serius.
" Lalu kenapa kau bisa bertunangan dengan Bianca kalau kau memang tidak mencintainya " tanya Ardi.
__ADS_1
" Kau tentu tahu Indara Group, Bianca adalah putri tunggalnya. Kau juga tentu tahu bukan, bagaimana dulu hubungannya dengan perusahaan kita? Sebelum mereka mengambil semua sahamnya.
" Ya aku tahu Indara Group " Ardi menjawab.
Rey menganggukan kepalanya, sejenak dia mengambil napasnya yang tiba-tiba merasa sesak saat mengingat masa lalunya.
" Dulu aku dijodohkan dengan Bianca. Aku tidak bisa menolak permintaan papaku, aku tidak ingin mengecewakannya. Meskipun dengan sangat berat hati aku harus menerima pertunangan itu. Merelakan Gladis menjauhiku. Ternyata nasib baik masih berpihak kepadaku. Saat Bianca melakukan kesalahan, aku langsung mengambil kesempatan itu untuk memutuskan pertunanganku. Tapi setelah pertunangan itu batal Om Indra marah dan mereka mengambil semua sahamnya diperusahaan kita dan nyaris membuat Pratama Group gulung tikar. " Rey menjelaskan.
" Indara Group, ya aku sangat mengingatnya. Sekitar 2 tahun lalu aku masuk di Pratama Group, memang saat itu perusahaan ini sedang dalam masa sulit Rey. Sepertinya kita harus berhati-hati, aku takut kejadian ini akan berpengaruh padamu dan perusahaan. Mereka tidak akan membiarkan putri tunggalnya disakiti. Mereka juga selalu punya cara untuk menjatuhkan lawannya. " jawab Ardi.
" Kau benar, maka dari itu aku berjanji kepada papaku untuk selalu menjaga perusahaan ini agar bisa berdiri tegak lagi bahkan lebih baik lagi. Tenanglah, kita pasti bisa mengatasinya jika Indara Group berusaha menjatuhkan kita lagi." ucap Rey berusaha tenang.
" Untuk masalah Gladis, maafkan aku, aku tahu kau menyukainya juga.Tapi aku tidak bisa mengalah padamu dan aku juga tidak akan melepaskannya lagi kali ini. " ucap Rey tersenyum kearah Ardi.
" Apa kau yakin Gladis juga menyukaimu? " tanya Ardi meledek.
" Entahlah, tapi aku tahu dari tatapan matanya. Aku yakin ada cinta di dalamnya " Rey meyakinkan.
" Baiklah aku tidak akan mengganggunya, selama memang dia memilihmu. Bukankah mencintai tidak harus memiliki? " jawab Ardi tersenyum.
" Terima kasih " jawab Rey.
Setelah kejadian tadi pagi Rey menyatakan perasaannya kepada Gladis dan juga kedatangan Bianca. Sekarang Gladis selalu menghindar dari Rey, seperti saat ini pada saat jam istirahat. Gladis terburu-buru pergi menemui Shita untuk makan siang bersama.Gladis bertemu dengan Shita dan memutuskan untuk segera menuju ke kantin yang berada dikantor, banyak mata yang memandangnya. Bahkan, beberapa karyawan ada yang terang - terangan mencibir Gladis.
" Taunya bisa dapetin bos itu ngerebut punya orang, mungkin enggak laku sampai rebut punya orang. " cibir beberapa karyawan yang sedang berada di kantin.
Gladis yang mendengar cibiran itu hanya bisa menundukan kepalanya.
" Taaaa, pergi aja yuk dari sini. Gue enggak nyaman. Cari tempat lain aja yuk makan diluar kantor. " ajak Gladis pada Shita.
" Loe enggak usah takut, ada gue disini Diss.. Lagian kalau loe pergi malah loe dikira beneran ngerebut Pak Rey dari nenek lampir itu. " jawab Shita emosi.
Shita menghampiri dan mengebrak meja karyawan yang tadi mencibir Gladis.
Braaaaaaak.....
" Taaaaa... udah Taaa.. malu dilihatin tuh pergi aja yuuuk " ajak Gladis tapi tidak dihiraukan Shita.
__ADS_1
" Eeh loe mak lampir mulutnya dijaga, beraninya loe ngomongin temen gue, loe berurusan sama gue yaa!!!! Kalau loe enggak tau apa-apa gak usah banyak bacooooot!!! Gladis enggak pernah ngerebut pak Rey dari siapapun. " teriak Shita sambil menunjuk beberapa karyawan yang tadi mencibir.
Mereka yang tadi mencibir tidak ada yang berani melawan. Mereka terkejut dengan Shita yang marah kepada mereka.
" Sekali lagi loe ngomongin Gladis , gue robek mulut loe " Teriak Shita lagi.
Karyawan yang tadi mencibir Gladis sontak menutup mulutnya dan segera pergi dari hadapan Shita.
Gladis menarik tangan Shita. Shita masih terlihat emosi dengan napas yang tersengal-sengal.
" Udah Taa.. Udah.. Malu dilihatin semua orang, duduk dulu yuk " ajak Gladis yang melihat Shita masih emosi.
Akhirnya mereka duduk di meja yang tadi sempat gebrak oleh Shita. Gladis segera mengambil botol minum dan membukanya.
" Minum dulu Taa... " Gladis menyerahkan botol minumnya.
" Gue kesel Diis. Mereka ngomongin loe kaya gitu. Lo enggak bisa diem aja. " jawab Shita masih emosi.
" Iya gue tau Taaa.. Makasih ya Taa udah belain gue. Loe emang sahabat gue yang paling baik. " jawab Gladis sambil memeluk Shita. Beberapa saat mereka berpelukan.
" Gue laper " ucap Shita. Gladis langsung melepaskan pelukannya lalu terkekeh.
" Hehehehhe... Jelas laper Taaa.. Loe tadi marah menguras energi tau, nyeremin. Harusnya gue tadi rekam ekspresi loe lagi marah " ledek Gladis tertawa.
" Ahhahahhaa... " Shita malah tertawa. " Eh kira-kira kalau Ka Romi lihat gue lagi marah tadi gimana yaa?" Shita membayangkan sambil senyum-senyum. "Mungkin Ka Romi kabur yaaa lihat gue nyeremin." Shita tertawa bersama Gladis dan setelah drama marah tadi akhirnya mereka berdua makan siang bersama dengan tenang.
__________________________________________
Halo kaka tersayang kalau sudah baca jangan pelit-pelit buat :
LIKE
COMMENT
VOTE
JADIIN FAVORIT
__ADS_1
Terima kasih ❤❤