
📚SELAMAT MEMBACA📚
Ditunggu taburan sesajennya ya baik VOTE, GIFT, Rate bintang 5, serta LIKE dan KOMEN positif kalian para pembaca setiaku. Biar aku makin semangat lanjutin cerita Safira. Terimakasih semua.
3S ( Salam Sayang Safira )
*******
Sepasang pengantin nampak canggung terutama sang wanita yang sangat kentara gestur tubuh dan mimik wajahnya yang berdetak kencang karena belum pernah berada satu kamar dengan lelaki yang bukan muhrimnya.
Safira duduk di ranjang sebelah kiri dan Tyo nampak sedang melepas alas kaki dan Jas yang ia pakai. Lalu ia lemparkan ke sofa tempatnya duduk dan berlalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa menghiraukan pengantin wanitanya yang tenga canggung.
Safira mengenakan gaun berwarna merah bertema internasional karena acara sesi kedua dalam resepsi pernikahan mereka tadi sempat mengharuskan ganti baju yang asalnya baju adat berubah jadi tema internasional.
Safira tengah kesusahan membuka resleting gaunnya. Dan tak lama Tyo sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja membungkus pinggang bagian bawahnya hingga ke lututnya sekaligus membungkus senjata masa depannya yang masih tertidur untuk saat ini.
"Ehmm...boleh minta tolong bukain resletingku dibelakang sini karena tanganku gak sampai?" ucap Safira lirih kepada Tyo.
"Oh..oke"ucap Tyo terbata-bata.
Perlahan tapi pasti tangan Tyo sedikit gemetar saat membuka resleting gaun Safira. Ia sempat melihat leher jenjang Safira yang putih mulus karena pemiliknya menyampingkan rambutnya.
Tyo menelan salivanya, glek..glek..karena saat resleting itu sudah terbuka setengahnya terpampang kulit punggung Safira yang putih mulus tanpa cacat dan bra warna hitam yang kontras dengan warna kulitnya membuat libidO Tyo mulai naik dan tentunya sang pusaka menggeli@t akan tetapi sang pemiliknya berusaha menahan itu semua.
Tak mungkin ia menyentuh gadis di depannya kini walau sudah sah menjadi istrinya. Karena bagi Tyo, pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas dan tak berarti apapun baginya. Hanya demi terkabulnya keinginan dan impian kedua orang tuanya khususnya sang mama maka ia menuruti perjodohan konyol ini.
__ADS_1
Ketika sudah terbuka resleting itu dan gaunnya akan jatuh ke bawah, dengan cepat tangah Safira mendekap gaunnya agar tak membuat dirinya tel@njang di depan Tyo walau notabene itu sah sah saja karena mereka sudah sah sebagai suami istri.
Namun Safira mengingat betul bahwa Tyo tak menganggap apapun pada dirinya hanya istri di atas kertas dan tak ada cinta diantara mereka berdua sehingga Safira langsung pamit masuk ke kamar mandi setelah mengucapkan terima kasih pada Tyo.
Brakk...(pintu kamar mandi tertutup agak kencang karena Safira yang tergopoh-gopih menutupnya)
Entah mengapa jantungnya mengajak senam di malam hari saat berdekatan dengan Tyo. Padahal sebelumnya biasa saja jika mereka dekat atau bertemu. Hal yang sama sebenarnya juta dirasakan oleh Tyo namun tertutup gengsi dan arogansi dirinya sehingga ia berusaha menghilangkan rasa itu.
Saat Safira sudah selesai bersih-bersih, ia pun membuka pintu kamar mandi dengan melongokkan kepalanya dan langsung melihat Tyo tengah tertidur bertelanjang dada hanya memakai boxer di atas ranjang pengantin yang bertabur bunga.
Akhirnya ia memutuskan keluar memakai bathrobe yang cukup pendek karena hanya itu yang ada di dalam kamar mandi, ia lupa membawa baju gantinya ke dalam. Ia berjalan pelan ke arah kopernya dan saat membuka ia begitu terkejut karena hanya ada baju seperti kain-kain jala yang tipis dan tak beraturan yang pasti ia bergidik ngeri bila menggunakannya.
"Huft,, sepertinya ada yang menukar isi koperku dengan baju haram ini" gerutu Safira dalam hati.
Mendadak Safira terlonjak kaget saat mendengar suara bariton Tyo dari belakangnya.
"Eh iya iya, maaf apa kamu punya kemeja atau kaos yang agak besar? tanya Safira lirih dengan sedikit menunduk.
"Memangnya baju kamu kenapa?" tanya Tyo heran.
"Ehm..mendadak isi koperku berubah jadi begini isinya. Sepertinya ada yang sengaja menukar isinya namun aku tak tau siapa" ucap Safira Sendu sambil membuka lebar baju haram tersebut di hadapan Tyo.
Melihat baju haram nan sexy tersebut terpampang nyata dihadapannya tentu saja membuat Tyo menganga dan mendadak berdesir dan berh@srat ingin sekali menerkam gadis di depannya ini. Namun lagi-lagi itu semua tertahan karena perjanjian dan egonya yang berusaha mengkhianati rasa yang mulai bersemayam di hatinya.
Tyo pun langsung beranjak ke kopernya dan melempar kaosnya yang agak besar ke wajah Safira. Sontak gadis itu kelabakan menangkapnya dan kesal yang bercokol di hatinya karena Tyo tak berlaku lembut padanya.
__ADS_1
"Pakai ini dan segera tidur karena aku sudah ngantuks. Jangan berisik lagi atau nanti aku bisa berlaku hal yang tak akan kamu bayangkan. Paham itu..." bentak Tyo.
"Iya, terima kasih" ucap Safira sendu.
Lalu ia pun bergegas ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dan dengan cepat kembali keluar dan segera naik ke ranjang untuk tidur karena dirinya juga lelah.
"Siapa suruh kamu tidur satu ranjang denganku hah" bentak Tyo kembali.
Dengan hati pilu Safira mengambil bantal dan gulingnya menuju ke sofa yang tak jauh dari ranjangnya. Ia pun pasrah atas perilaku Tyo karena ia berusaha menata hatinya sebelum menikah. Namun tetap saja ia tak menduga Tyo akan berlaku seperti ini saat malam pengantin mereka.
Di tengah temaramnya kamar pengantin yang hanya ditemani lampu tidur yang menyala redup. Begitulah hati Safira kini yang sedih dan tak sengaja air matanya menetes. Ia rindu akan mendiang kedua orang tuanya serta adiknya yang telah tiada.
Sampai kapan ia akan bertahan dalam kondisi seperti ini bersama lelaki yang tak mencintainya. Walau dalam hatinya ia yakini sejak ijab qobul itu terlaksana dengan baik maka ia menyerahkan hati dan dirinya untuk berbakti pada suaminya kini walau ia hanya dianggap istri di atas kertas.
Kedua orang tua Tyo yang sangat mencintainya membuatnya tetap semangat menjalani ini semua karena ia yakin bahwa memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan begini jalan hidupnya. Sepanjang malam Safira tak bisa tidur, ia merasa dingin karena tak memakai selimut maupun bawahan.
Safira hanya memakai kaos putih polos pemberian Tyo tadi yang panjangnya hanya sampai lututnya saja. Saat kondisi tidur seperti ini tentu saja kaos itu makin naik ke paha bagian atas. Safira berusaha untuk memejamkan mata agar tubuhnya tidak lelah seperti hatinya.
Saat melihat Safira mula terlelap dengan posisi menghadap ke tembok dibelakang sofa. Tyo yang justru masih terjaga karena sejak melihat Safira memakai kaosnya ia terbayang-bayang akan lekuk tubuh istrinya.
Kini Tyo terbangun dan bersandar pada dinding ranjang, ia melihat Safira yang tidur namun adiknya dibawah sana sungguh tak sopan karena membuatnya pusing tujuh keliling.
Kaos putihnya jelas memperlihatkan bahwa saat tidur Safira tak mengenakan br@, lalu celana d@lam warna merah menyala yang dipakai pun terlihat kala Safira memeluk gulingnya otomatis kakinya terangkat sehingga terlihat celan@ d@lamnya yang membungkus bok0ng sint@lnya yang bulat utuh.
Makin membakar hasrat sang Don Juan yang gengsinya setinggi langit. Tyo pun melangkah mendekati sofa tempat Safira tidur, lalu ia berjongkok menatap keindahan pahatan di depan matanya kini.
__ADS_1
Apa yang terjadi selanjutnya ? Apakah mereka akan melakukan ritual malam pengantin atau hanya menjadi penonton sepak bola? Simak terus kisahnya.