CINTA , LUKA Dan NERAKA

CINTA , LUKA Dan NERAKA
Darah


__ADS_3

📚SELAMAT MEMBACA📚


Ditunggu taburan VOTE, GIFT, Rate bintang 5, serta LIKE dan KOMEN positif kalian para pembaca setiaku. Biar aku makin semangat lanjutin cerita Safira. Terimakasih semua.


3S ( Salam Sayang Safira )


******


Tyo yang sudah menghubungi kepala pelayan di kediamannya dan menyatakan bahwa istrinya sudah berada di rumah sejak tadi dan sedang istirahat di kamar. Tyo langsung mengutus para pelayan meninggalkan paviliun utamanya dan tak perlu membangunkan istrinya.


Kereta besi pun di gas oleh Tyo melaju kencang secepat kilat dan tak lama ia sudah tiba di kediamannya. Pengawal pribadinya pun tak berani bertanya apapun karena sang Tuan kembali ke rumah cukup cepat hari ini. Mereka masih berpikir positif bahwa pekerjaan bosnya itu mungkin sedang tidak banyak jadi cepat pulang dan rindu akan istrinya.


Namun mereka tak tahu bahwa sang singa jantan tengah mengeluarkan tanduknya yang jika kena sentuh sedikit saja sudah keluar taringnya. Tyo bergegas masuk ke dalam rumahnya dan langsung masuk ke kamar utama tempat biasa ia memadu kasih dengan istrinya. Akan tetapi rasa cinta itu tertutup oleh emosi membara yang tak jelas.


Jangan mendahulukan emosi pada setiap kemarahan yang tengah terjadi. Lebih sabar dan coba tarik nafas perlahan untuk sedikit meredam gejolak di hati. Jika sedang emosi lebih baik berwudhu lalu beribadah pada sang pencipta sejenak atau masuk ke rumah ibadah dan cukup berdiam diri di dalamnya serta berdoa agar di lenyapkan emosi dari dalam tubuh yang tengah kita rasakan.


Brakkk....


Suara pintu kamar yang dibuka lalu di hempas oleh Tyo sehingga tertutup rapat namun meninggalkan bunyi yang nyaring sehingga membuat Safira yang tengah tertidur akibat pingsan dari Mall mendadak terbangun. Ia mengerjapkan mata lalu mengedarkan pandangan dan ia meyakini bahwa sekarang sedang berada di dalam kamar rumahnya.

__ADS_1


Saat matanya bersibobrok dengan suaminya yang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada dan sorotan mata tajam memindai dirinya membuat Safira gelagapan dan menciut. Hatinya gundah gulana dalam benaknya ia bertanya ada apa gerangan dengan suaminya kenapa datang ke rumah dalam kondisi seakan ingin menerkamnya.


"Apa dirinya berbuat kesalahan?" tanya Safira dalam hatinya.


"Ehm, Mas Tyo sudah pulang? Maaf ya Mas Fira tadi pusing sekali kepalanya jadi sepertinya kelamaan ya tidurnya?" tanya Safira lirih.


"Apa? Ketiduran? Dengan santainya kamu bilang begitu sama aku. Apa kamu gak minta maaf atau nyesel sudah lakuin hal keji itu ke Mama hah?" bentak Tyo dengan suara menggelegar. Beruntung kamar mereka kedap suara. Jika bukan termasuk kamar kedap suara mungkin para barang pecah belah di dapur sudah pecah berkeping-keping karena lengkingan suara Tyo.


"Mama? Mama kenapa Mas? Haduh kepalaku pusing tadi jadi aku gak inget jelas yang terjadi di Mall" ucap Safira sambil memegang kepalanya yang masih pusing.


"Kamu gak sadar juga atas kesalahan kamu Fir?" bentak Tyo membuat Safira terkejut dan berkaca-kaca tapi juga bingung dengan situasi ini.


"Mama tengah terbaring koma di rumah sakit dan kamu malah enak tidur di sini hah" bentak Tyo.


"Aakuu...aaaa"


Plakkk....


Belum selesai Fira menjelaskan akan tetapi sebuah tamparan panas sudah melayang di pipi mulusnya yang putih. Stempel lima jari sudah menjadi tanda bekas kemerahan di pipinya. Bukan masalah bekas di fisik tetapi bekas di hati tentu atas luka yang di torehkan suaminya tak akan mudah hilang begitu saja.

__ADS_1


Ketika akan berucap lagi untuk mejelaskan, Tyo sudah membuka ikat pinggang yang melingkar di celananya. Ia lepas dan langsung ia cambukkan ke Safira secara membabi buta. Gelap mata dan emosi sesaat sudah menghancurkan segala yang ada.


"Cetass...cetas...."


"Aa...ampun Mas...ampun...hiks hiks" ucap Safira lirih di tengah sakit yang mendera fisiknya namun hatinya terkoyak tak bersisa.


Safira tengah berlutut di kaki suaminya memohon ampun atas kesalahan yang ia sendiri pun masih bingung letak kesalahannya ada di mana. Namun ia tetap tergugu menangis sambil meminta maaf pada suaminya. Namun Tyo tak menggubrisnya bahkan ia hendak keluar dari kamarnya tapi Safira masih mengekorinya.


Akhirnya ia berada di puncak emosi dan mendorong Safira yang tengah akan berdiri hingga akhirnya perut Safira terbentur ke meja riasnya dan terjatuh cukup keras karena fisiknya yang tengah lemah hingga ia tak bisa menjaga keseimbangan dengan sekali dorongan keras dari suaminya tadi.


"Jangan pernah muncul di hadapanku sebelum Mama sadar kembali. Camkan itu" bentak Tyo seraya keluar kamar mereka dengan menutup pintu dengan kencang.


Brakkkk.....


Safira menangis tergugu sambil terduduk di lantai kamarnya yang dingin dan ia mendengar deru mobil suaminya pergi meninggalkan kediamannya. Tak lama ia kaget melihat noda darah mulai menetes di sela kakinya bagian atas.


"Hah...darah apa ini? Aduh perutku kenapa sakit sekali ya Tuhan" ucap Safira lirih dengan menahan sakit dan tangis.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Di tunggu Like dan Komennya🧁🧁


__ADS_2