
📚SELAMAT MEMBACA📚
Ditunggu taburan sesajennya ya baik VOTE, GIFT, Rate bintang 5, serta LIKE dan KOMEN positif kalian para pembaca setiaku. Biar aku makin semangat lanjutin cerita Safira. Terimakasih semua.
3S ( Salam Sayang Safira )
*******
Dengan penuh ketegaran di tengah kesedihan yang mendalam berurai air mata kala belahan jiwanya belum jua sadar maka di sinilah Adi Sasongko berada di sebuah liang lahat menguburkan jasad putrinya untuk selama-lamanya. Ditemani gerimis sore itu dengan punggung bergetar dan suara sedikit terisak ia tak bisa membendung rasa sesak dalam kalbunya.
Pemakaman secara tertutup yang hanya dihadiri khalayak terdekat dan keluarga saja untuk mengantarkan "Brigita Salmafina Putri Sasongko". Itulah nama anak kedua Adi Sasongko dan Sonya yang meninggal dunia dalam kandungan.
Setibanya di rumah sakit kembali, ia masih melihat istrinya masih nyenyak tertidur. Tak lama ada pergerakan dari istrinya yang sepertinya akan siuman maka Adi pun langsung menggenggam erat tangan Sonya, istrinya.
"Eughh.." lenguhan Sonya.
"Sayang..kamu sudah sadar? Alhamdulillah" ucap Papa Tyo.
Setelah kesadarannya terkumpul dengan baik dan di sampingnya adalah sang suami. Ia langsung meraba perutnya kala ia mengingat kejadian sebelumnya bahwa ia terpleset dan jatuh berguling di tangga dari lantai 2 rumahnya.
"Pah, bayiku gimana kondisinya? Kenapa perutku sudah kempes. Apa dia dilahirkan sebelum waktunya?" ucap Mama Tyo penuh cemas.
"Anak kita kondisinya sudah baik kok sayang, sudah gak sakit lagi dan berada di tempat terbaik" ucap Papa Tyo dengan terbata.
"Aku mau melihat anak kita sayang, kamu gak bohong kan sama aku" tanya Sonya dengan raut kesedihan.
"Kamu harus sembuh dulu, baru nanti bisa ketemu anak kita" ucap Papa Tyo.
"Janji ya sayang kamu gak bohongin aku kalau anak kita baik-baik saja? tanya Sonya.
__ADS_1
"Aku janji nanti bawa kamu ke tempat anak kita yang sudah baik-baik saja. Di sana ia banyak yang menjaganya" ucap Papa Tyo berusaha tegar depan istrinya.
Seminggu kemudian kondisi Mama Tyo sudah cukup sehat walau masih membutuhkan istirahat yang cukup. Ia terus menagih janji kepada suaminya karena Papa Tyo selalu memberi beberapa alasan yang membuat ia belum bisa bertemu dengan anak mereka dan akhirnya sore itu suaminya mengabulkan permintaanya untuk bertemu anak kedua mereka.
"Lho Pah ini kan bukan arah ke rumah sakit tempat aku di rawat? Memangnya putri kita pindah rumah sakit kah pah?" ucap Mama Tyo.
Saat mobil mereka berhenti di sebuah pemakaman mewah.
Deg..
"Ayo sayang turun, putri kita pasti rindu padamu" ucap Papa Tyo.
"Pah, putri kita tidak menn..hiks..hiks.."ucap Mama Tyo terbata-bata sambil meneteskan air mata.
"Yuk Mah, dia pasti rindu mama yang sudah melahirkannya" ucap Papa Tyo menahan segala rasa di benaknya.
Bahkan sepulang dari makam, Sonya mengurung dirinya hingga keesokan paginya tetap tak kunjung keluar dari kamar. Bahkan Papa Tyo tak bisa masuk ke kamarnya, alhasil semalaman ia tidur menemani Tyo. Acara ulang tahun Tyo pun tak jadi dirayakan karena duka yang tengah dirasakan keluarga Sasongko.
"Sayang, buka pintunya dong. Ini sudah pagi, kemarin kamu belum juga makan nanti kamu sakit. Apa kamu sudah gak sayang lagi sama aku dan Tyo?" ucap Papa Tyo lesu.
Saat akan berbalik badan, pintu kamarnya terbuka menampilkan Mama Tyo yang masih memakai piyama tidur dan wajah yang sembab karena menangis semalaman.
Di dalam kamar, mereka duduk di sofa saling berpelukan. Papa Tyo mengucapkan maaf belum bisa menjadi suami siaga untuknya dan tak ada niat membohongi istrinya tentang putri mereka yang tak bisa diselamatkan. Semua sudah takdir dari Tuhan kita sebagai manusia hanya bisa mengikhlaskan dan menerima takdir tersebut.
Sebulan duka itu telah berlalu dan malam ini Mama Tyo berdandan sexy untuk menyenangkan ular megalodon milik suaminya yang telah lama puasa. Saat akan menjelang waktu tidur, Papa Tyo keluar dari ruang ganti begitu terkejut melihat istrinya yang malam ini begitu sexy nan raut wajahnya sajak ceria.
"Astaga ada bidadari turun dari khayangan jatuh di ranjang tidurku nih, ehem" ucap Papa Tyo.
"Sini pah, Mama kangen nih main catur sama Papa" ucap Mama Tyo sensual sambil menggigit bibirnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang? Kesambet setan mana sih, tumben jadi ratu gombal biasanya aku yang gombalin kamu dan ngajak main catur duluan kalau lagi pengen" ucap Papa Tyo.
"Aku pengen nyenengin ular megalodon papa, aku rindu dan kangen sama itu. Nanti papa semburin bisa putih ularnya yang banyak di dalam ya biar jadi adiknya Tyo lagi" ucap Mama Tyo.
Deg..
Jantung Papa Tyo pun berdetak kencang karena dirinya belum berkata jujur tentang satu rahasia penting kepada istrinya.
"Ya Tuhan apakah sekarang harus kukatakan kebenarannya? Aku belum siap melihat raut bahagianya malam ini harus sirna dari wajahnya yang cantik jelita" gumam Papa Tyo dalam hati.
"Mama yakin sudah kuat main catur sama Papa? Soalnya bisa ular papa sudah numpuk dan pasti kalau menyerang bisa bikin mama kewalahan apa gak masalah? ucap Papa Tyo.
"Yuk ah pah, mama sudah gak sabar nih dan gak tahan" ucap Mama Tyo yang meraba dada bidang suaminya sambil membuka kaos yang tengah dipakai suaminya.
"Tunggu sebentar ma, Papa boleh mengajukan satu permintaan kah?" ucap Papa Tyo.
"Apa pah? buruan ih" ucap Mama Tyo.
"Yang kalah dalam permainan catur kali ini wajib melakukan semua hal yang diperintahkan si pemenang. Bagaimana?" ucap Papa Tyo.
"Oh jadi Papa nantangin taruhan sama mama? Oke siapa takut pah. Pasti malam ini Mama pemenangnya" ucap Mama Tyo penuh keyakinan.
"Deal?" ucap Papa Tyo sambil menjulurkan tangannya.
"Deal" ucap Mama Tyo menjabat erat tangan suaminya sebagai tanda setuju atas kesepakatan permainan catur panas mereka malam ini yang ingin mengusak ranjang.
Kira-kira siapa yang menang ya?
Simak permainan catur panas mereka di next chapter.
__ADS_1