
📚SELAMAT MEMBACA📚
Ditunggu taburan sesajennya ya baik VOTE, GIFT, Rate bintang 5, serta LIKE dan KOMEN positif kalian para pembaca setiaku. Biar aku makin semangat lanjutin cerita Safira. Terimakasih semua.
3S ( Salam Sayang Safira )
*******
"Aaaaaaaaa....."
"Sayang..sayang...halo..halo..." teriak Papa Tyo.
Tut..tut..tut...(telepon terputus)
Dikarenakan Papa Tyo menghubungi ponsel istrinya tak kunjung tersambung, akhirnya ia menghubungi telepon kediamannya dan tersambung.
"Halo Erna, Nyonya muda kemana? Kenapa tadi teleponku terputus lalu ada teriakan? Ada apa yang terjadi di rumah? " ucap Papa Tyo.
__ADS_1
"Ehmm...hiks..hiks...Tuan Muda, Nyo..Nyonya muda terpleset dari tangga sekarang sedang dibawa ke rumah sakit terjadi pendarahan. Maaf tuan hiks..hiks.."ucap Erna dengan terbata-bata sekaligus sesegukan.
Tut...Tut...telepon langsung terputus dari Papa Tyo. Ia pun segera menyuruh asistennya menyiapkan privat jet untuk langsung pulang ke Indonesia hari itu juga.
Sungguh perjalanan selama 10 jam di udara yang biasanya terasa cepat kini seperti lama. Sungguh membuatnya cemas dan gelisah tak bisa makan maupun tidur. Ia hanya mencemaskan kondisi belahan jiwanya yang terbaring di meja operasi.
Setibanya di rumah sakit, ia berlarian menuju tempat istrinya berada walau gurat lelah dan kantung mata menghiasi wajah tampan seorang Adi Sasongko. Namun demi cintanya pada Sonya apapun ia lakukan walau nyawanya jadi taruhannya. Ia begitu mencintai istrinya sejak awal mereka berpacaran semasa kuliah. Cintanya tak pernah pudar namun justru makin meningkat walau banyak wanita-wanita cantik nan sexy mendekatinya terlebih kala dirinya telah sukses.
Hanya Sonya..Sonya..dan tetap Sonya tak mau yang lain itu lah prinsip cinta seorang Adi Sasongko pada istrinya. Ia yang hanya berasal dari keluarga biasa dan yatim piatu mendapatkan cinta yang luar biasa dari seorang Sonya, putri tunggal juragan perkebunan dan perhotelan tersohor di kawasan Bandung. Menemani dirinya dari nol hingga menjadi pebisnis hebat. Bahkan Sonya yang biasa menjadi nona muda bergelimang harta, ketika menikah dengan dirinya rela melepas harta dari kedua orang tuanya karena cinta pada suaminya.
Kedua orang tua Tyo itu sejak awal menikah hidup pas-pas an. Tinggal di sebuah kos rumah tangga sempit dan murah. Orang tua suaminya telah meninggal dunia sebelum mereka menikah dan rumah peninggalan orang tua Adi Sasongko dijual sebagai modal memulai usaha mereka.
Restu pun akhirnya didapat terlebih ketika Tyo hadir di tengah keluarga mereka membuat hubungan kedua orang tua Sonya dengan mereka yang sempat renggang karena terhalang restu menjadi kembali baik dan langgeng.
Ia berlari mencari menuju lorong rumah sakit bahkan sempat menabrak beberapa suster dan pengantar pasien yang tengah berjalan. Ia menangkap sosok Papa dan Mama mertuanya tengah duduk di depan sebuah ruangan, ia langsung bergegas menuju ke sana.
"Pah, gimana kondisi istriku?" tanya Papa Tyo.
__ADS_1
"Sudah selesai operasinya, namun istrimu belum sadar kata dokter masih terkena pengaruh obat tak lama lagi segera siuman" ucap Papa sendu sambil merangkul istrinya yang berada di sebelahnya tengah menangis tersedu-sedu.
Tyo tak mereka bawa ke rumah sakit khawatir sedih dan banyak virus untuk anak yang masih kecil seusia Tyo yang rentan penyakit. Mereka menyerahkan urusan Tyo pada kepala pelayan di kediaman mereka sekaligus orang kepercayaan keluarga besarnya.
Papa Tyo pun berpamitan melihat istrinya di dalam bahkan ia menyarankan kedua mertuanya untuk pulang saja menemani Tyo. Ia akan menemani istrinya hingga sembuh di sini. Akhirnya kedua mertuanya pulang tanpa bantahan karena mereka ingin memberi ruang pada anak dan menantunya yang tengah dirundung duka.
Ceklek ...pintu kamar inap Sonya terbuka. Sungguh pemandangan yang memilukan di mata Adi Sasongko melihat istrinya tergolek lemah di ranjang pasien. Perutnya yang membuncit sudah kempes. Matanya masih terpejam dengan wajah pucat pasi serta selang infus dan oksigen yang terpasang pada tangan dan hidung istrinya. Di sudut pelipisnya pun ada perban kecil menghiasi di sana.
Sungguh ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi istrinya kala itu menahan sakit yang mendera terlebih bagaimana reaksinya kala ia siuman nanti. Ia bingung harus memberi jawaban dan berkata apa pada belahan jiwanya yang tergolek lemah di depannya ini. Bibirnya kelu hanya butiran air mata menetes sambil menggenggam tangan istrinya yang kini ia lakukan.
Tak lama dokter pun visit mengecek kondisi istrinya dan ia menyampaikan bayi perempuannya sudah dimandikan dan dikafani. Bisa segera untuk disholatkan lalu dikebumikan agar tak terlalu lama menunda. Baiknya jika segera mengebumikan jasad yang telah meninggal dunia tanpa menunda lama-lama.
Ya, anak kedua mereka tak bisa diselamatkan dan Papa Tyo sudah mengetahuinya kala ia akan take off menuju Indonesia. Papa mertuanya menghubungkan telepon dengan tim dokter yang menangani istrinya bahwa nyawa istrinya terancam karena mengalami pendarahan cukup hebat yang disebabkan benturan keras pada rahimnya.
Calon anak kedua mereka yang berusia lima bulan meninggal dalam kandungan dan harus segera di keluarkan dan rahim sang istri yang mengalami kerusakan akibat kejadian naas tersebut harus juga diangkat yang otomatis sang istri tak akan bisa hamil kembali.
Padahal dahulu ketika mereka menikah, keduanya bercita-cita memiliki banyak anak karena terlahir sebagai anak tunggal jadinya Adi maupun Sonya berharap kelak anak mereka tak kesepian seperti kedua orang tuanya yang hanya hidup sebagai anak tunggal tanpa saudara kandung.
__ADS_1
Semua hanya keinginan manusia namun kembali pada takdir hanya Tuhan yang tahu. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dan ikhlas serta percaya akan kebaikan apapun yang Tuhan takdirkan bagi setiap hambaNya.