
πSELAMAT MEMBACAπ
Ditunggu taburan VOTE, GIFT, Rate bintang 5, serta LIKE dan KOMEN positif kalian para pembaca setiaku. Biar aku makin semangat lanjutin cerita Safira. Terimakasih semua.
3S ( Salam Sayang Safira )
*********
Selepas keduanya sholat Subuh, Tyo pun menagih janji pada istrinya karena hawa dingin di desa Sayan sedang sejuk sehingga membuat pemilik ular megalodon ingin mengungkung istrinya itu dibawah kuasanya seharian penuh hanya di kamar. Akan tetapi ia juga tak mau memaksakan kehendaknya hanya demi kebutuhan biologisnya semata.
Saat ini yang jadi utama hanya kebahagiaan dan keinginan istri yang ia sangat cintai dan tak mau kehilangan kembali momen kebersamaan di antara keduanya.
"Dek bangun, kamu gak lapar? Mas lapar nih pengen makan terus minum $usu" ucap Tyo.
"Ya ampun Mas, apa masih kurang? Adek capek nih, $usu cap adek juga bengkak gegara kamu nyosor terus huh adek juga masih ngantuk" ucap Safira asal sambil matanya masih terpejam.
Tyo yang mendengar ucapan Safira mendadak terkekeh geli karena sang istri berpikir dirinya minta lagi asupan nutrisi plus-plusnya.
"Sudah jam sembilan pagi sayangku cintaku, perut kamu apa gak lapar? Butuh asupan nasi bukan asupan vanilaku yank" ucap Tyo dengan senyum dan cekikikan.
"Ihh nakal dikira adek minta itu. Gendong Mas ke kamar mandi, adek gak bisa berdiri nih gegara ular megalodonmu yang ganas minta ampun huft" ucap Safira.
__ADS_1
"Siap ratuku sekalian mandi bersama terus makan. Apa sekalian di kamar mandi minta Maaf pijetin?" tanya Tyo seraya menggendong Safira masuk kamar mandi.
"Gak ah, nanti ujungnya yang di pijet bagian lainnya yang bikin aku capek lagi" ucap Safira lirih.
"Capek tapi enak bin nagih kan dek? Ah..ah..Mas Tyo jangan berhenti terus m@sukin yang d@lam" ucap Tyo seraya meniru kata-kata yang keluar dari mulut istrinya kala mend3s-ah menuju puncak nirwana.
"Ih nyebelin, nanti gak perlu jatah dari aku lagi kalau begitu" ucap Safira kesal.
"Eh..jangan dong yank, masak kamu tega sama senjataku yang hampir karatan ini masih perlu di asah terus biar tetap perkasa bikin kamu merem melek. Mas bercanda tadi jangan marah ya wahai ibu dari calon anak-anakku" ucap Tyo mesra.
Safira pun tersenyum mendengar untaian kata serta setiap hal apapun Tyo selalu meminta maaf atas kesalahannya yang lalu sehingga membuat anak mereka tiada. Bahkan lelaki ini sekarang mudah cengeng hanya saat bersama Safira saja namun tetap garang dan dingin bola berhadapan dengan orang lain.
Selepas mandi dan sarapan mereka pergi menikmati keindahan suasana pulau Dewata Bali dan sekalian membelikan buah tangan untuk orang tua mereka yaitu Mama dan Papa Tyo. Mulai dari seafood jimbaran hingga bermain olahraga air di Benoa bahkan menyelam di Nusa Penida sudah mereka berdua lakoni dengan hati gembira dan penuh cinta.
πππ
Setibanya di kediaman sang mertua di Jakarta, kepulangan Safira dan Tyo disambut meriah oleh Papa dan Mama Tyo. Bahkan mereka telah menyiapkan beberapa hidangan spesial kesukaan sang menantu juga putra semata wayangnya itu yang telah berhasil membawa istrinya pulang.
"Sayang, Mama rindu sama kamu" ucap Mama Tyo seraya memeluk Safira sambil berkaca-kaca matanya mengembun penuh haru melihat senyum bahagia di wajah menantu dan putranya.
"Ah Mama masak menantunya saja yang dipeluk dan rindukan. Aku bukan anak kandung Mama ya kok berada kayak anak pungut gak diperhatikan lagi. Sudah kalah pamor sama menantunya" gurau Tyo seraya tersenyum meledek Mamanya.
__ADS_1
"Idih kalau iri bilang bos. Umur sudah tua juga masih saja iri dan gengsi digedekan. Iya kamu anak pungut hasil mungut bibit dari vanila ular berbisa Papahmu" ucap Mama Tyo tak kalah sewot sambil menggandeng Safira untuk pergi meninggalkan Tyo yang sedang manyun.
"Sudah-sudah ayo sekarang kita makan, Papa sudah lapar nih" ucap Papa Tyo seraya melangkah menuju meja makan.
Akhirnya hari itu adalah menjadi makan malam spesial sekaligus perayaan kecil bersatunya kembali cinta Safira dan Tyo. Mama dan Papa Tyo selalu mendoakan agar keduanya tetap langgeng dan terus berbahagia hingga maut memisahkan dan segera memberikan mereka cucu yang banyak agar rumahnya ramai dengan tawa dan tangis bayi.
πππ
Dua bulan kemudian
"Hoek..hoek..hoek.." suara Safira yang sedang mual dan muntah di dalam kamar mandi membangunkan Tyo yang tengah terlelap dalam keadaan polos.
Tadi malam keduanya merengkuh nikmat menyatu membuat ranjang keduanya berderit dan bergoyang. Namun bedanya akhir-akhir ini Tyo merasa istrinya sedikit aneh. Biasanya Tyo yang lebih sering meminta jatah nutrisi ular megalodonnya namun sudah tiga minggu ini justru Safira yang selalu berhasrat mengajak dirinya bertempur setiap saat. Tentu Tyo sekarang menjadi suami penurut apalagi hal yang diminta istrinya itu adalah hal yang ia sangat suka yang pasti tak akan ia tolak.
Tyo bangkit menuju kamar mandi mengecek istrinya yang tengah mual.
"Sayang, kamu kenapa? Sakit? Kita periksa ke dokter yuk?" tanya Tyo yang membantu menekan tengkuk Safira dan memegang helaian rambutnya agar tak kotor terkena muntahan.
Safira yang tengah berjongkok depan closet, saat menolehkan kepalanya sungguh terkejut sehingga refleks menampar ular megalodon yang tengah b3rgelantung@n bebas tanpa sangkar.
"Auchh.." rintih Tyo seraya memegang ularny@ yang sedikit pening.
__ADS_1
"Mass Tyo ularnya kenapa berkeliaran bebas tanpa bajuuu! Apa minta ikut khitan massal lagi hah" teriak Safira menggelegar memenuhi kamar mandi mereka seakan-akan cermin mau pecah terkena auman singa betina.
πππ