
📚SELAMAT MEMBACA📚
Ditunggu taburan sesajennya ya baik VOTE, GIFT, Rate bintang 5, serta LIKE dan KOMEN positif kalian para pembaca setiaku. Biar aku makin semangat lanjutin cerita Safira. Terimakasih semua.
3S ( Salam Sayang Safira )
*******
Sudah satu bulan Safira dan Tyo kini telah menetap di kediaman mereka sendiri. Sehari-hari mereka masih berada stag pada hubungan satu atap terikat pernikahan namun jarang komunikasi di antara mereka.
Bahkan menjebol gawang Safira aja belum dilakukan pemilik ular sanca. Bahkan keduanya tidur di kamar terpisah. Tyo dan Safira akan nampak hangat ketika berhadapan dengan publik atau keluarga Tyo terutama orang tua Tyo.
Safira berusaha menjadi istri yang baik dengan menyiapkan segala keperluan suaminya serta sarapan bahkan sesekali ia membawakan makan sing ke kantor suaminya. Namun Tyo sering bersikap acuh dan menyibukkan diri dengan urusan pekerjaannya.
Suatu hari Tyo pernah marah pada Safira kala istrinya tak ada di rumah kala ia sudah pulang sekitar jam sepuluh malam. Ternyata Safira tertidur pulas di rumah orang tua Safira dan Bik Ijah pikir Safira menginap ke sini sehingga tak membangunkannya.
Ponsel Safira saat itu kehabisan daya dan saat tengah malam Tyo memutuskan menghubungi rumah orang tua Safira dan Bik Ijah mengatakan Safira saat ini tertidur pulas namun Tyo tak mau pembantu Safira membangunkan istrinya itu.
Saat pagi menjelang, Safira yang terkejut bahwa ia terbangun masih berada di kediaman orang tuanya langsung segera membersihkan diri dengan cepat dan naik taksi kembali ke kediaman suaminya.
Alhasil pagi yang buruk menimpanya, Tyo sangat marah padanya karena menginap tanpa ijin. Sebelumnya Safira hanya ijin pergi ke rumah orang tuanya untuk mengambil barang yang tertinggal serta memberi gaji bulanan pada Bik Ijah saja. Keasyikan mengenang masa bahagianya di kamar kedua orang tuanya dan adiknya semasa mereka semua masih hidup bersama akhirnya membuatnya justru terlelap pulas.
Safira di hukum oleh Tyo tak boleh keluar rumah selama satu Minggu kecuali mendapat ijin dari Tyo atau pergi bersama Tyo.
__ADS_1
Saat Tyo sedang ke kantor, ponsel Safira berdering dan ia yang tak mengenal nomor yang menghubunginya membiarkan sejenak. Namun ternyata nomor tersebut tak kenal lelah terus meneleponnya. Akhirnya mau tak mau ia angkat juga.
"Halo, ini siapa ya?" tanya Safira.
"Fira, ini aku Bagas. Apa kamu lupa?" ucap Bagas senior Safira yang menaruh hati padanya yang baru saja pulang dari Amerika.
"Oh, ini nomor kak Bagas yang baru toh. Maaf aku gak tahu kak. Wah lama nih tak bersua, apa kabar kak Bagas?" tanya Safira basa basi.
"Baik Fir, ini aku sedang di Jakarta dan masih cuti kerja apa bisa kita bertemu?" tanya Bagas.
"Ehm, dimana dan kapan kak? Apa Indri atau Melisa juga kakak undang?" tanya Safira.
"Eh iya, mereka juga aku undang makan siang kok. Lokasinya nanti aku share by Whatsapp dan jam makan siang seperti biasa saja" ucap Bagas mengiyakan walau sesungguhnya ia hanya ingin bertemu Safira berdua namun takut Safira menolak hadir maka ia mengiyakan bahwa mengajak sahabatnya juga.
Bagas pun mengubungi Indri dan Melisa untuk makan siang namun jam kesepakatan bertemu di mundurkan Bagas secara sepihak selama satu jam lebih agar ia bisa punya waktu berdua dengan Safira. Hanya Bagas sendiri yang mengetahui rencana tersebut.
Melisa sudah menyampaikan sendiri pada Bagas bahwa ia tak bisa hadir karena dirinya sedang kurang enak badan. Indri bersedia hadir tentunya karena pria yang ia cintai dalam diam sudah pulang ke Indonesia. Namun Indri berkata ia akan sedikit terlambat karena harus mengantarkan Bundanya ke dokter terlebih dahulu.
Bagas tentu senang karena ia akan punya banyak spare waktu berdua dengan Safira sebelum teman mereka datang.
Safira berdandan cukup cantik mengingat ia akan berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Ia naik taksi menuju restoran tempat pertemuan mereka. Di sebuah restoran ternama di ibukota, kini Safira berada.
Saat masuk, ada seorang lelaki yang boleh dibilang cukup tampan memakai kemeja dan jas yang parlente namun tetap pesona itu kalah dengan pesona Tyo suaminya yang menurut Safira gagah perkasa segalanya bak dewa Yunani, melambaikan tangan padanya.
__ADS_1
Senyum terkembang pada raut wajah lelaki itu.
Safira pun membalas dengan senyuman dan mengedarkan pandangan pada meja tempat Bahas berada kenapa Melisa dan Indri belum juga hadir. Biasanya kedua sahabatnya itu selalu datang lebih awal daripada dirinya.
Kala Safira masuk dan melangkah menuju meja Bagas. Sorot tatapan tajam dari mata seseorang yang tak jauh dari tempatnya berada terus memandangi dirinya dan lelaki yang ia temui.
"Lho kok cuma kita berdua, yang lain kemana Kak Bagas?" tanya Safira.
"Melisa tak bisa hadir karena sedang kurang enak badan, Indri memberitahuku ia sedikit terlambat mungkin sebentar lagi datang" ucap Bagas sedikit berbohong karena ia tak menceritakan manipulasi jam pertemuan pada ketiga sahabat tersebut.
"Oh begitu, ya sudah kita tunggu Indri terlebih dahulu atau aku coba hubungi dia saja saat ini, biar tahu posisi dia dimana sekarang ini" ucap Safira seraya mengeluarkan ponselnya namun belum sempat ia tekan tombol sudah dihalau oleh Bahas sehingga tak sengaja tangan keduanya bersentuhan.
Secara refleks Safira pun melepaskan untuk menghindari karena mereka bukan muhrimnya.
"Maaf Fir, bukan maksudkuku lancang. Indri sudah aku hubungi baru saja dan ia masih di jalan. Kamu pesen makan dan minum saja dulu nanti Indri pesan saat ia datang saja biar gak dingin" ucap Bagas yang lagi-lagi berbohong dan sedikit menutupi kecanggungannya pada Safira.
Akhirnya Safira memesan menu makan siang dan minuman untuknya. Ketika mereka masih menunggu pesanan datang, tiba-tiba Bagas memberikan sebuah kotak kecil untuk Safira.
"Apa ini Kak Bagas?" tanya Safira sedikit terkejut atas perlakuan Bagas padanya.
"Itu kado dariku Fir, moga kamu suka dan mau memakainya. Buka dong Fir" ucap Bagas.
Safira yang bingung akhirnya mau tak mau ia membuka perlahan kotak kecil tersebut dan wajahnya sungguh pias dan terkejut kala ia melihat isi dalam kotak pemberian Bagas tersebut.
__ADS_1