
📚SELAMAT MEMBACA📚
Ditunggu taburan VOTE, GIFT, Rate bintang 5, serta LIKE dan KOMEN positif kalian para pembaca setiaku. Biar aku makin semangat lanjutin cerita Safira. Terimakasih semua.
3S ( Salam Sayang Safira )
*******
Ketika di tengah perjalanan pulang, Safira mendadak di telepon mama mertuanya. Sonya ingin menantunya itu datang ke rumahnya karena ia tengah membuat sebuah Mocca Cake dan ia ingin Safira menilai kuenya ada kurang apa atau bagaimana karena ini percobaan pertama.
Safira yang begitu antusias apalagi ia tulus menyayangi mertuanya yang sudah seperti orang tua kandung sendiri, ia pun bergegas menuju mansion mertuanya dengan naik taksi. Namun ada hal yang terlupakan untuk menghubungi suaminya bahwa ia menuju rumah mertuanya.
Terkadang dalam suatu rumah tangga jangan pernah menyepelekan suatu hal walau itu terkesan sepele atau hal kecil karena bisa jadi dari hal sepele tersebut justru menjadi boomerang untuk diri kita sendiri. Komunikasi dua arah yang baik tentu membuat rumah tangga semakin harmonis. Sebagai seorang istri secara harfiah wajib meminta ijin pada suaminya kemanapun kita pergi meskipun itu ke rumah orang tua kandung kita sekalipun. Begitupun suami menyampaikan kemana dia pergi kepada sang istri memang bukanlah suatu kewajiban mutlak namun alangkah baiknya tetap menyampaikan kepergiannya agar istrinya tak cemas atau negatif thinking dan karena hal kecil itu justru membuat para istri merasa dihargai kedudukannya.
"Wow, yummy ini Mam. Walau sedikit kurang garam agar bisa jauh lebih gurih tapi overall sudah pas Mam untuk pemula seperti kita" ucap Safira penuh senyum bahagia.
"Kamu suka sayang?" tanya Sonya.
"Of course Mam. Ini lezat di lidah bikin nagih deh" ucap Safira.
__ADS_1
"Nagihin mana sama rasa ular megalodon punya putra Mama?" tanya Sonya menggoda sambil memperhatikan ekspresi menantunya itu.
"Tyo emang pelihara ular kah Mam? Kok Fira gak pernah lihat ya Mam kalau Tyo di rumah ngasih makan ularnya atau ditaruh dimana. Safira takut ular Mam" cicit Safira lirih.
"Ularnya ya dibawa Tyo dong sayang kemanapun ia pergi. Yg suka bergelantungan dibawah terus dibungkus kain bukan dibungkus pakai daun pisang nanti jadi pepes haha..." kelakar Mama Tyo.
Safira yang langsung paham akan maksud sang mama yang disebut ular megalodon Tyo, langsung membuat pipinya merona dan tertunduk malu karena pada kenyataannya ia belum pernah bertemu, melihat bahkan berkenalan juga belum dengan ular megalodon tersebut.
Setelah cukup lama berada di kediaman mertuanya tanpa sadar hari sudah menjelang malam. Awalnya Safira ingin pulang sore namun ditahan oleh mertuanya karena Papa dan Mama Tyo ingin makan malam bersamanya.
Papa mertuanya mengatakan tadi Dimas asisten pribadi Tyo sempat bertemu dengannya di kantor jika Tyo tak kembali ke kantor karena masih ada meeting luar yang perlu diurus dan sedang tak ingin di ganggu. Dari info itulah maka Safira dengan santai tetap berada di kediaman mertuanya karena sang pemilik rumah juga menahannya untuk tak buru-buru pulang. Pemikiran kedua orang tua Tyo daripada menantunya kesepian lebih baik berada di kediamannya saja sejenak.
Ceklek...Bip..bip..lap..lap..
Safira sungguh terkejut saat awal memasuki kediaman mereka dalam kondisi gelap lalu perlahan masuk ke kamarnya juga sama gelap gulita. Saat dirinya menekan tombol lampu, tiba-tiba lampu kamarnya semua seketika menyala hanya dengan sebuah tepukan tangan seseorang.
Disudut kamar, ia melihat ada suaminya yang masih memakai setelan kerja saat berangkat tadi pagi sedang berdiri dengan bersedekap tangan memandangnya dengan sorot mata elangnya yang tajam seakan sang elang jantan ingin mencabik mangsanya. Sungguh Safira dibuat bergidik ngeri melihat tatapan tajam dari sang suami.
"Masih ingat jalan pulang kamu, hah!" bentak Tyo sambil melempar sebuah vas bunga kecil lalu melemparnya ke tembok yang tak jauh dari dirinya berada.
Pyar....Prang..
__ADS_1
Fira terjengit hebat bercampur syok kala mendapati respon suaminya yang tak biasa. Dan biasanya mereka berada di kamar masing-masing jika hari sudah malam dan hanya bertemu di meja makan namun malam ini nampak berbeda karena saat masuk ke kamarnya, suaminya sudah berada di dalamnya.
"Maaf Mas, aku pulang terlambat tadi mampir ke rumah Mama membuat kue. Mungkin Mas mau mencicipi kue buatan kami, kusimpan di lemari es" ucap Safira lirih sambil meremas kedua sisi gaun yang ia pakai.
"Haha...emang dasar semua wanita sama saja penipu, pengkhianat dan murahan" ucap Tyo menggebu dengan tertawa menggelegar. Beruntung kamar Safira kedap suara dan pintu telah tertutup rapat sehingga suara singa jantan yang saat ini sedang mengaum tak terdengar oleh siapapun di luar sana.
"Apa maksudmu Mas?" tanya Safira sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tadi ijin padaku keluar dengan Melisa dan Indri namun pada kenyataanya kamu bertemu lelaki lain untuk berkencan yang mungkin kalian sedang menikmati masa kangen-kangenan bersama lelaki busuk tersebut. Apa dia mantan pacarmu atau mantan tunanganmu? " ucap Tyo dengan nada amarah di ubun-ubun penuh sinis pada istrinya.
"Bukan begitu Mas kondisinya, aku bisa jelasin ke kamu biar gak ada salah paham" ucap Safira yang langsung memahami kondisi mengapa Tyo marah padanya saat ini.
"Halah gak perlu kamu jelasin ke aku. Sudah berapa lama kalian berselingkuh di belakangku? Sudah berapa kali kamu puasin dia di ranjang atau mungkin sudah berapa banyak lelaki yang tidur denganmu?" ucap Tyo tanpa filter.
Plakk...
Sebuah tamparan ringan melesat di pipi kanan Tyo dari tangan mungil istrinya.
"Cukup Mas, sejak dulu kamu selalu menghinaku namun aku berusaha diam. Aku..aku..aahhh..."
Siapkan mental dan peralatan perang di next chapterđź’‹đź’‹
__ADS_1