
Sudah seminggu Arika merasakan ke anehan di tubuh nya, dia merasakan mudah lelah dan nafsu makan yang tidak tentu.
Seminggu lagi adalah hari wisuda Arika. Arika memesan baju di butik langganan mertua nya. Arika sebenarnya menolak tapi Buk Widia memaksa. Ia ingin menantu nya tanpak cantik di hari bahagia nya.
Ariana tidak sengaja melihat Arika dan Buk Widia berjalan masuk ke butik. Dia merasakan cemburu. "Aku yang pantas berada di posisi itu," fikir nya.
Seharian itu Arika dan Mertuanya menghabiskan waktu bersama. Selesai dari butik mereka berbelanja ke Mall. Buk Widia menelfon putra nya untuk makan siang bersama. Farid datang dengan senang hati. Mereka makan sambil bercanda. Tiba-tiba Arika merasakan mual, Ia cepat-cepat berlari menuju toilet. Farid khawatir melihat istri nya dan segera menyusul, Arika memuntahkan makanan yang sempat masuk ke mulut nya.
Buk Widia bertanya-tanya, dia berfikir apa mungkin menantu nya itu tengah mengandung, dia tersenyum. Setelah kembali ke meja Arika tanpak lemas.
"Arika kamu kenapa nak?"
"Entahlah ma belakangan ini Rika merasa aneh, sering mual apalagi kalau pagi." jawab Arika lesu. " Maaf Ma makan Mama jadi terganggu."
"Tidak apa-apa sayang." Buk Widia mengelus punggung tangan Arika.
"Sayang, kalau kamu merasa tidak enak biar aku antar kamu pulang," Farid khawatir melihat Arika.
"Gak usah Mas, Mas kembalilah ke kantor Rika pulang sama Mama." Tolak Arika.
Farid akhir nya kembali ke kantor karena ada miting yang tak bisa di tunda. Buk Widia ber inisiatif membawa Arika kerumah sakit. Dia ingin memastikan sesuatu. Awal nya Arika menolak tapi Buk Widia terus memaksa.
__ADS_1
Setelah di rumah sakit Buk Widia langsung ke ruangan teman nya seorang dokter kandungan.
"Widia ada apa?" tanya dokter.
"Aku ingin kau periksa menantu ku, seperti nya ia tidak sehat." Jawab Buk Widia.
Dokter yang langsung mengerti maksud teman nya itu menyuruh Arika berbaring.
"Lihat ke layar ya." Perintah nya.
"Bagaimana, apa menantu ku?" sebelum menyelesaikan kalimat nya dokter langsung menjawab nya.
"Iya, dia hamil."
"Iya kamu hamil, dan usia kandungan kamu sudah enam minggu." Lanjut dokter.
Buk Widia sangat senang. Di perjalanan pulang ia terus tersenyum. Dia mengajak Arika tinggal di rumah nya karena ia ingin menjaga langsung menantu nya.
"Arika terserah Mas Farid aja Ma." ucap Arika.
"Ya, nanti biar Mama yang bilang sama Farid. Kamu jangan banyak gerak ya sayang, ingat kata dokter tadi."
__ADS_1
"Iya Ma, Rika akan jaga calon cucu Mama." Arika tersenyum. Dia sangat bahagia dengan ke hamilan nya di tambah lagi Mertua yang sangat menyayangi nya.
Ia sudah tidak sabar menanti kedatangan suami nya.
Farid pulang agak terlambat. Jam sembilan malam ia sampai di rumah. Ia langsung berjalan menuju kamar dilihat nya Arika berbaring.
"Sayang, bagaimana ke adaan mu?" Farid duduk di dekat Arika.
Arika segera duduk. Dia mengambil kertas di atas nakas dan menyerah kan nya ke Farid.
Farid melihat kertas itu, kening nya berkerut tidak mengerti maksud nya." Apa ini?"
"Itu foto USG calon anak kita mas"
"Apa? kamu hamil?" Farid memegang kedua bahu Arika.
Arika mengangguk, "iya mas Aku hamil".
"Alhamdulillah," ucap Farid. Dia sangat bahagia dan bersyukur. Di peluk nya Arika lama. Mereka menangis bahagia.
💝💝💝
__ADS_1
TBC