
Beberapa hari berlalu hubungan Arika dan Farid semakin dekat. Kini mereka sudah tinggal satu kamar. Bik sumi pun dengan setia selalu melapor kepada Nyonya Widia, menceritakan perkembangan hubungan majikan nya.
Buk Widia sangat senang, hari ini dia berencana untuk berkunjung kerumah putra nya.
Pagi ini Farid mengantar Arika ke kampus nya. "Kamu hati hati ya nyetir nya." Ucap Arika sambil membuka seatbelt nya.
Ketika Arika hendak turun, Farid menahan tangan nya." kiss nya mana?" pinta Farid sambil menunjuk bibir nya genit.
Arika tersenyum. "Tadi kan udah di rumah," tolak Arika.
Farid pura-pura cemberut dia mengerucut kan bibir nya seperti anak kecil yang merajuk. Arika tertawa melihat wajah suami nya. Arika hendak mencium pipi Farid tapi Farid langsung memutar wajah nya, jadilah bibir mereka menyatu. Farid menahan tengkuk istri nya lama. Tak ingin menyudahi ciuman itu.
"Emmph," Arika memukul dada Farid saat di rasa nya nafas nya sesak. Farid melepaskan ******* nya.
" Aku hampir mati tau?" kini gantian Arika yang ngambek.
"Tapi kamu suka kan," Goda Farid sambil menaik naikan alis nya.
__ADS_1
"Tau ah, lipstik aku jadi belepotan." Arika melihat bibir nya di kaca kecil yang selalu ia bawa.
"Biarin, tetep cantik kok," ucap Farid dengan gaya tengil nya. Arika memperbaiki polesan lipstik nya. "Udah jangan tebal-tebal," Farid menarik lipstik dari tangan Arika.
"Sini in," Arika mencoba merebut nya dari tangan suaminya. Mereka rebutan lipstik. Arika berusaha mengambil nya hingga wajah mereka kembali dekan nyaris tak berjarak. Farid langsung mecium bibir Arika.
"Mas, nanti kamu telat loh."
" Biarin, aku belum puas cium bibir kamu yang." Yah sejak hubungan mereka baik rasanya Farid selalu ingin dekat dengan istri nya itu.
💝💝💝
Buk Widia langsung memeluk putra nya. "Mama tumben ke kantor, gak biasa nya?"
Ucap Farid menatap sang Mama. Memang semenjak suami nya pensiun dari kantor dia memang tidak pernah datang lagi ke kantor itu.
"Sebenar nya mama dari rumah kalian tapi kata Bik sumi Arika ke kampus. Ya maka nya Mama kesini." Buk Widia mendudukan diri nya di sofa.
__ADS_1
Farid ikut duduk di samping Mama nya.
"Bagaimana Rid,? apa sudah ada tanda-tanda?"
"Tanda-tanda apa sih Mam," tanya Farid balik. Karena dia memang tidak mengerti maksud Mama nya.
"Hamil, maksud Mama Arika apa sudah hamil?" Mama nya tanpak antusias. Buk Widia memang sudah tidak sabar ingin menimang cucu.
"Belum Ma," jawab Farid, Buk Widia tanpak kecewa.
"Ma, jangan sedih dong, Farid janji akan barusaha secepat nya memberikan Mama cucu." Bujuk Farid.
"Farid,? Mama minta maaf ya karena kamu harus menikah dengan Arika. Seharus nya kami tidak memaksa kalian menikah," Buk Widia menundukan kepalanya.
"Mama ini bicara apa?" Farid bahagia Ma menikah dengan Arika." Ucap nya sambil menggenggam tangan Mama nya. Mama nya menatap wajah Farid melihat kesungguhan anak nya.
"Awal nya memang Farid tidak ingin membuka hati untuk Arika Ma. Farid sangat mencintai Ariana." Mama nya masih setia mendengarkan.
__ADS_1
" Sekarang Farid sadar Ma, mungkin Arika memang jodoh Farid. Dan Farid pun sudah tidak mencari Ariana lagi."
" Syukurlah nak, Mama senang mendengar nya." Buk Widia tersenyum menatap putra nya.