Cinta Arika

Cinta Arika
Harus operasi


__ADS_3

Sudah satu jam Arika diperiksa, Farid tampak tidak tenang menunggu hasil nya. Dokter keluar dari ruangan Arika. Farid langsung bertanya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"Mari ikut keruangan saya." Alih-alih menjawab pertanyaan Farid, Dokter mengajak Farid ke ruangan nya.


Sampai di ruangan nya. Dokter mulai menjelaskan.


"Nyonya Arika mengalami pendarahan di kepala, luka bekas kecelakaan itu kembali terbuka. Saya rasa saat Nyonya Arika jatuh kepala nya membentur benda keras."


"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Farid cemas.


"Kita tunggu pasien siuman, baru melakukan pemeriksaan lanjut setelah itu baru kita bisa mengambil tindakan." Jelas dokter.


"Kira-kira berapa lama ia akan sadar dok?"


"Kami tidak dapat memastikan. Mengingat pasien pernah mengalami koma sebelum nya."


Setelah mendengar penjelasan Dokter, Farid langsung menuju kamar istrinya.


Lagi-lagi Farid meneteskan air matanya melihat kondisi istrinya yang tidak sadarkan diri.


"Sayang, bangunlah Arka masih membutuhkan mu, baru beberapa bulan kita merawat Arka bersama, sayang pliss buka mata kamu?" Farid berucap lembut di dekat telinga Arika.


Farid menghubungi rumah mengabari bahwa mereka akan menginap di rumah sakit. Tak lupa juga kantor nya. Ia menelpon secretaris nya untuk memeriksa berkas-berkas yang ia tinggalkan dan menyuruh secretarisnya mengantar berkas yang harus di tanda tangani ke rumah sakit.

__ADS_1


Farid tidak menghubungi orang tua nya karena khawatir akan mengganggu proses pengobatan ayah nya.


Farid memandangi wajah Arika yang putih, rasa iba yang mendalam ia rasakan mengingat tentang hidup istri nya yang sedari kecil selalu mendapat cobaan.


Waktu sudah menunjukan pukul 1 malam, Farid tertidur di kursi kepalanya menyandar di tempat tidur Arika. Tangan nya masih setia menggenggam tangan istrinya.


Arika mengerjab kan mata nya. Tangan nya bergerak, Farid merasakan gerakan langsung terbangun.


"Sayang, kamu sudah bangun? aku aku panggil Dokter dulu." Farid gugup sangkin senang nya melihat istrinya sadar.


Dokter datang memeriksa Arika.


"Bagaimana Dok?"


"Baik, tapi besok kita akan tetap melakukan pemeriksaan lanjut." Jawab Dokter. "Saya pamit dulu silahkan beristirahat."


"Mas, aku kenapa?" tanya Arika.


"Kata bibi kamu pingsan, Mas membawamu ke sini."


"Pingsan?" Arika mengingat-ngingat apa yang terjadi tapi tiba-tiba kepalanya kembali sakit. Ia memegangi kepalanya.


"Sudah, jangan di paksakan, sebaik nya kamu istirahat ya?" Farid menyuruh istri nya istirahat.


"Tapi Mas, Arka gimana?" Arika masih belum puas.

__ADS_1


"Arka di rumah sama bibi."


"Jam berapa ini Mas?"


"Jam 1 malam, makanya kamu istirahat ya, Arka baik-baik saja kamu jangan cemas."


Akhirnya Arika mengalah ia tertidur lagi.


***


Pagi hari Farid menyuapi Arika sarapan, Farid dengan telaten mengurus Arika. Setelah membersihkan tubuh Arika baru Farid memakan sarapan nya.


"Nyonya Arika sudah siap?" tanya seorang suster yang baru masuk.


"Sudah sus" Farid memindahkan Arika ke atas kursi roda, mereka berjalan menuju ruang khusus untuk melakukan scan.


Arika di letakkan di sebuah bad rumah sakit lalu kepalanya di masukan ke sebuah alat untuk di periksa. Farid dengan setia menunggu Arika di luar. Setelah selesai Arika di bawa kembali ke kamar tempat ia di rawat.


Beberapa jam kemudian Dokter menyuruh seorang suster memanggil Farid keruangan nya. Farid pun segera pergi.


"Kita harus melakukan operasi untuk menutup luka yang ada di kepala istri anda. Tapi tidak menutup kemungkinan pasien bisa mengalami amnesia."Ucap Dokter.


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Farid.


"Tidak ada, itu jalan satu-satu nya."

__ADS_1


Farid menghela nafas nya sebelum memutuskan.


"Baiklah Dok lakukan yang terbaik."


__ADS_2