Cinta Arika

Cinta Arika
28. Belanja


__ADS_3

Sesuai anjuran dokter, Arika berjalan maraton di taman komplek perumahan Doni. Rutinitas itu di lakukan nya setiap pagi untuk memudah kan nya melahirkan secara normal. Bertepatan hari minggu Doni yang tidak berangkat bekerja membuat mereke berleha-leha, setelah maraton keliling taman mereka memutuskan untuk duduk di bangku taman. Doni meneguk air minum yang di bawa nya.


"Aku dengar Farid sudah menceraikan Ariana." Doni membuka obrolan.


"Hmm,," Arika tidak tertarik mendengar omongan Doni.


Doni mengeryit, "seperti nya kau tidak tertarik dengan omongan ku?"


"Entahlah Mas, aku hanya malas saja membahas tentang mereka," jawab Arika pelan.


"Rika, apa kau masih mencintai Farid?"


Arika menundukkan kepala nya. "Aku memang masih mencintai nya, tapi aku belum bisa memaafkan nya."


"Arika, dia hanya salah paham."


"Apapun itu seharus nya dia bertanya dulu padaku dan minta penjelasan pada ku, bukan malah mengusirku, dia menyakiti ku terlalu dalam Mas, bahkan dia tidak mengakui anak nya." Arika terisak tangan nya mengelus perut buncit nya yang di perkirakan akan segera lahir.


Doni menatap Arika iba, ingin sekali ia memeluk wanita yang di cintai nya itu tapi tidak mungkin.


"Kapan kita membeli perlengkapan bayi mu?" Doni mengalihkan pembicaraan karena tak tega melihat Arika menangis.

__ADS_1


Arika menghapus air mata nya. "Bagaimana kalau hari ini?" tanya Arika balik.


"Ok. Sekarang ayo kita pulang," Doni berdiri di ikuti Arika. Mereka berjalan sambil bercanda, seperti pasangan suami istri.


***


Farid mendapat laporan dari anak buah nya, bahwa istri nya tinggal bersama Doni. Farid yang sudah mendapatkan alamat rumah Doni segera menuju kesana.


Farid sampai di rumah Doni, setelah menekan bel berkali-kali akhir nya pintu terbuka.


Ceklek


"Mau cari siapa?" Tanya Bu sukma.


"Perkenalkan saya Farid suami Arika," Farid memperkenal kan diri mengulurkan tangan nya. Bu sukma menyambut uluran tangan Farid.


"Mari silahkan masuk," Bu sukma membuka pintu lebar berjalan ke arah sofa di ikuti oleh Farid. Farid celingukan mata nya mencari sosok orang yang sangat di rindukan nya. Bu sukma mengerti apa yang di cari Farid.


"Mau mencari Arika?" tanya Bu sukma langsung.


Farid mengangguk kan kepala nya. "Apa Arika ada tante?"

__ADS_1


"Arika keluar bersama Doni."


"Kalau boleh tahu kemana?" tanya Farid tak sabar.


"Kata nya membeli perlengkapan bayi." jawab Bu sukma. "Oh sebentar tante buatkan minum dulu." Bu sukma melangkah ke dapur hendak membuatkan minuman.


Farid mengingat usia kandungan Arika. Sebentar lagi Arika akan melahirkan, seharus nya dia lah yang menemani istri nya itu bukan Doni. Lagi-lagi Farid menyesali perbuatan nya.


Bu sukma meletak kan minuman di atas meja dan mempersilahkan Farid minum.


"Tante sebenar nya saya kesini mau menjemput Arika. Dan meminta maaf pada Doni tentang," Farid menggantung kalimat nya karena malu memberitahukan nya pada Bu sukma.


"Tante sudah tahu semua, tante memang tidak berhak ikut campur masalah kalian. Tapi sebagai seorang Ibu tante kasihan melihat Arika, Dia sudah tante anggap sebagai anak sendiri." ucap Bu sukma.


"Saya baru tahu yang sebenar nya. Saya sangat menyesali nya." Farid tampak sedih.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat, syukurlah kamu sadar sebelum Arika pergi". Ucapan Bu sukma membuat Farid tersentak.


πŸ’πŸ’πŸ’


Guys like dan koment cerita ku ya Plisss😊

__ADS_1


__ADS_2