
Malam itu akhir nya Farid tidur di kamar Ariana. Sedangkan Arika menangis sejadi-jadi nya sendiri di kamar dia belum tahu apa yang membuat Farid berubah.
Farid tidur membelakangi Ariana. Ariana kembali kesal karena Farid masih cuek pada nya.
Pagi hari Arika bangun lebih dulu, dia membantu Bik sumi menyiapkan sarapan. Tidak berapa lama Farid datang dengan Ariana, mereka tampak bergandengan tangan, Arika terluka melihat kedekatan mereka, dia meremas hujung baju nya. Arika tetap mencoba bersikap biasa. Dia berdiri hendak mengambilkan sarapan suami nya.
"Tidak perlu, mulai sekarang Ariana yang akan melayani ku." Ucap nya tegas. Arika mematung sesaat sebelum akhir nya duduk, hati nya sangat sakit.
Setelah mendengar apa yang di bilang oleh Farid, Ariana langsung mengambilkan sarapan nya dengan senang hati. Dalam hati nya bersorak bahagia.
"Bik?" Farid memanggil Bik sumi.
Bik sumi yang berada di dapur langsung menoleh dan berjalan ke arah Farid. "ya Tuan, ada apa?"
"Tolong pindah kan baju-baju baju saya ke kamar bawah." Perintah Farid tegas. Arika seketika menghentikan makan nya, rasanya dia sudah tak berselera lagi. Berbeda dengan Ariana yang tampak bahagia.
__ADS_1
***
Tiga bulan berlalu namun sikap Farid tetap dingin pada Arika. Farid sering bepergian dengan Ariana. Arika lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Bik sumi yang selalu setia mendengar curhatan nya.
Kehamilan Arika sudah memasuki 6 bulan. Baju-baju nya sudah banyak yang tidak muat karena perut nya yang buncit. Hari ini Arika hendak memeriksakan kandungan nya. Sejak Farid berubah, dia tidak pernah lagi menemani Arika.
Arika memesan taxi online, di perjalanan Arika merenungi tentang hidup nya yang seperti ini. Terkadang dia ingin menyerah tapi mengingat bayi yang di kandung nya dia mengurungkan niat nya. Dia takut anak nya lahir tanpa ayah. Jadi dia memutuskan bertahan meskipun sakit hati.
Selesai periksa Arika keluar berjalan menunggu taxi yang sudah di pesan nya, Arika ke mall ingin membeli beberapa baju hamil, karena baju nya sudah banyak yang tidak muat lagi. Dia berjalan menuju baju-baju daster memilih satu per satu yang menurut nya cocok. Selesai memilih Arika hendak membayar ke kasir, tiba- tiba ia di kagetkan dengan suara seseorang yang memanggil nya.
Selesai membayar mereka menuju cafe di kawasan mall itu.
"Aku baik kak, kakak sendiri bagaimana?" Arika balik bertanya.
"Yah seperti yang kau lihat baik tak kurang apapun, kecuali pendamping." Doni menjawab sembari tersenyum.
__ADS_1
"Makanya nikah dong, udah mapan juga," goda Arika.
"Kakak belum ketemu yang tepat," Doni menjawab dengan pandangan kosong.
"Pasti banyak yang mau dengan kakak, pasti kakak nih yang terlalu milih."
"Bukan nya milih, kakak tu belum menemukan pengganti seseorang," jawab Doni sambil menatap sayu ke arah Arika. "Kamu kenapa sendiri?"
"Ya karena tidak berdua," Arika tersenyum tipis.
"Maksud kakak kenapa tidak sama Farid?" Mendengar pertanyaan Doni wajah Arika berubah terlihat raut kesedihan di mata nya.
"Sebenar nya hubungan kami tidak baik kak," Air mata Arika lolos begitu saja.
Doni mengeryitkan dahi nya. "Apa yang terjadi dengan hubungan kalian?" Doni bertanya penasaran karena ia sungguh tidak tega melihat wanita yang di cintai nya menangis.
__ADS_1
💝💝💝
guys mohon like dan koment nya ya