
Ruangan itu terus saja dipenuhi dengan canda tawa para pria-pria beristri.
Namun semuanya menjadi tegang ketika dua orang lelaki datang menghampiri mereka.
//Assalamualaikum// ucap Mahendra dan Rijal menghampiri mereka dengan parcel buah di tangannya.
Mereka semua terkejut dengan kehadiran dua pria itu. Pria yang telah banyak membuat mereka menjerit kesakitan karena luka yang ditorehnya.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah.// ucap mereka semua dengan wajah datarnya.
Mahendra dan Rijal tersenyum dan menyerahkan parcel buah pada Sara.
//Selamat ya nak Asyi atas kelahiran anak pertamanya// ucap Mahendra menatap Asyi dengan senyum di bibirnya.
//Terimakasih// ucap Asyi tersenyum kepada Mahendra dan menatap sinis Rijal.
//Ada tamu ya?// tanya tante Faridah yang baru saja keluar dari kamar kecil. Dari tadi ia hanya mendengar suaranya saja dari kamar kecil.
//Kamu?// ucap tante Faridah dengan mata membulat sempurna, ia sedikit shock atas kehadiran Mahendra di tengah-tengah mereka.
//Ngapain kamu kesini?// ketus Faridah.
//Aku kesini mau jenguk keponakan dan cucumu. Dan juga aku bawa anakku kesini untuk minta maaf pada Asyi dan Salman// ucap Mahendra penuh harapan dengan senyuman di bibirnya.
//Kamu pulang sana, kami tidak menerima tamu seperti mu// jelas Faridah dengan nada kesal.
//Sudah tan, jangan mengusir tamu. Biarkan mereka disini// ucap Asyi lembut.
//Gak bisa, tamu ular seperti mereka gak pantas berada disisi kita// ucap tante Faridah sembari menatap Mahendra dengan sinis.
//Faridah! Aku tau aku selama ini salah terhadapmu, tapi apakah tidak ada lagi tersisa pintu maaf untukku? Aku masih mencintai sama seperti dulu// tutur Mahendra penuh harapan sambil berjalan menghampiri Faridah.
Faridah membelalak, ia masih sulit untuk mempercayainya.
//Keluar!// jerit Faridah menunjukkan tangannya ke arah pintu.
//Baik, aku akan pulang// ucap Mahendra.
//Kami pamit dulu, Assalamualaikum// ucap Mahendra pada semuanya. Kemudian ia pergi melewati Faridah dan menyelipkan kotak perhiasan di tangan Faridah sambil berbisik //Maafkan aku. Aku masih mencintaimu. Kembalilah padaku//. Kata-kata itu membuat mata Faridah berkaca-kaca, sejujurnya ia masih sangat mencintai mantan suaminya, tapi antara cinta dan benci sulit untuk dipisahkan.
Mahendra berjalan dan meninggalkan mereka. Tak lama kemudian Faridah melangkahkan kakinya ke kamar kecil. Ia tidak bisa meneteskan air matanya di depan mereka, karena dari itu ia memilih kamar mandi untuk menumpahkan bendungan air mata yang kian memenuhi kedua matanya.
__ADS_1
------
Asyi pulang ke rumah bersama dengan keluarganya. Disana semua ART menyambutnya dengan gembira. Mereka sangat bahagia melihat anggota keluarga baru yang telah mengisi rumah Sara.
Sara bersama dengan Salman langsung masuk ke kamarnya yang sudah, sedangkan bayinya masih bersama Mira dan Rama.
//Kalian istirahat aja, biar Sulaiman dengan kami// ucap Mira sembari menggendong Sulaiman.
//Baik, tapi ingat kalau dia laar antar ke kamar Abang. Kalau dia ngompol kalian urus aja// ucap Salman tersenyum.
//Iya, tenang aja. Udah sana pergi// ucap Mira mengusir Salman dan Asyi.
Salman tersenyum dan langsung beranjak pergi.
Sampai di kamar dengan hati-hati Salman merebahkan tubuh Asyi. Dan mencium kening, kedua pipinya dan bibir Asyi tanpa henti.
//Kenapa Mas gak henti-henti mencium Asyi?// tanya Asyi bingung.
//Sayang, Mas sangat bahagia, Terimakasih sudah melahirkan seorang anak untuk Mas// ucap Salman tersenyum bahagia.
//Mas ini sudah berkali-kali bilang terima kasih terima kasih. Apa mas gak bosan ?// tanya Asyi.
//Gak ada kata bosan. Karena Mas mencintaimu. Dan kelahiran Sulaiman dari rahim seorang istri solehah seperti sayang, itu sebuah anugerah untuk Mas// jelas Salman lembut sambil tersenyum bahagia.
-----
Mira dan Rama membawa Sulaiman ke dalam kamarnya. Mereka membaringkan Sulaiman di tengah-tengah mereka.
//Mas, lihatlah dia begitu lucu// ucap Mira sambil memegang pipi Sulaiman.
//Iya.// Ucap Rama melihat Sulaiman yang tersenyum menggemaskan.
//Dek! Mas mau yang gini// ucap Rama menunjukkan Sulaiman. Ia memberi kode kepada Mira karena ia sangat menginginkan anak.
//Sabar ya Mas. Kita usahakan// ucap Mira lembut.
//Terima kasih Dek.// Ucap Rama mengelus pipi Mira dengan penuh kasih sayang.
//Mas! Bagaimana kalau Sulaiman tidur bersama kita saja// ucap Mira tersenyum.
//Memangnya Abang sama Kakak ngizinin?// tanya Rama mengernyit keningnya.
__ADS_1
//Tenang aja, biar Mira yang bicara sama mereka// ucap Mira tersenyum bahagia. ia memilik trik sendiri untuk merayu Salman dan Asyi agar menuruti keinginannya.
Oeek..oeek..
//cup..cup..cup.. Sulaiman sayang jangan nangis// ucap Mira mengelus pipi Sulaiman. Tapi Salman tetap saja menangis. Membuat Mira takut, sedangkan Rama tersenyum melihat istrinya yang begitu panik.
//Coba periksa popoknya// ucap Rama lembut.
Mira langsung memeriksa popoknya.
//Dia ngompol Mas// ucap Mira tersenyum.
//Sini biar Mas yang gantiin popoknya// ucap Rama beranjak pergi.
//Gak usah, Mas. Ini tugasnya istri// ucap Mira beranjak pergi.
//Jadi tugasnya suami apa?// tanya Rama menatap Mira.
//Tugasnya Mas, jagain Sulaiman aja// ucap Mira tersenyum.
//Yasudah kalau begitu// ucap Rama kembali duduk dan menemani Sulaiman.
Mira mengambil tas Sulaiman dan meletakkannya di kasur. Ia mengeluarkan popok, tisu basah dan bedak tabur bayi.
Ia dengan hati-hati menggantikan popok Sulaiman.
//Wah, telaten sekali istri Mas. Belajar dimana?// ucap Rama menatap Mira dengan senyuman di bibirnya.
//Di youtube// ucap Mira santai.
//Hah? Jadi selama ini adek selalu buka youtube hanya untuk belajar yang beginian?// tanya Rama mengernyit keningnya.
Mira tersenyum sembari menganggukan kepalanya.
//Wah, istri Mas memang hebat. Jadi gak sabar pingin punya anak sendiri// ucap Rama penuh harapan.
//Dah siap// ucap Mira yang telah selesai mengganti popok Sulaiman.
//Wow.. Perfect// ucap Rama tersenyum sambil mencium pipi Mira.
//Gimana? Sudah cocok belum jadi ibu?//
__ADS_1
//Sudah dong.//