
Di kediaman Salman.
Salman yang baru saja pulang langsung masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaian kerjanya. Ia melihat seluruh sisi ruangan namun tidak ditemui istrinya.
//Kok tumben dia gak ada di kamar?// bathin Salman mengerutkan keningnya.
//Apa jangan-jangan lagi makan ya?// sambungnya.
//Ah iya, inikan waktunya makan malam// ucap Salman beranjak pergi.
Ia turun ke bawah dan langsung berjalan ke ruang makan. Ia bingung melihat kursi yang biasa diduduki istrinya kosong. Kemudian ia berjalan menghampiri mamanya dan duduk di samping pulangnya.
//Asyi gak ikut makan Man?// tanya Mama sambil menuangkan minum.
//Asyi gak ada di kamar Ma, Salman pikir dia disini sama Mama// ucap Salman menoleh ke mama.
Mama mulai panik, ia segera memanggil bibi.
//Bi..// panggil Mama.
//Iya Bu// ucap bibi menghampiri Mama.
//Asyi kemana?// tanya Mama menatap Bibi.
//Saya tidak tau Bu// ucap Bibi sambil menundukkan kepala.
//Loh, kok bisa di rumah ini gak ada yang tau Asyi dimana?// tanya Mama panik.
//Anu.. Bu, tadi pagi non Asyi pergi sama non Mira bu, dan saya tidak melihatnya lagi sampai sekarang// ucap Bibi gugup.
//Mira.. Mira..Mira//. Mama langsung mengambil hpnya dan menghubungi Mira.
Tut..tut..tut...
Mama merasa kesal karena Mira gak mengangkat telponnya. Ia kembali ke meja makan dengan wajah paniknya.
//Salman segera kamu jemput Asyi pulang ke rumah// perintah Mama.
//Oh ya, kamu jangan pulang jika tidak membawa istrimu pulang// sambung Mama panik.
//Baik Ma// ucap Salman langsung beranjak pergi meninggal Mama dan Papanya.
//Mama tenangkan dirimu// ucap Papa berusaha menenangkan mama.
//Gimana bisa tenang Pa? Asyi belum pulang jam segini// ucap Mama khawatir.
//Iya, tapi dia bersama Mira// ucap Papa lembut.
//Mira? Pa! Kita gak tau benaran Asyi sama Mira atau gak. Anak itu ditelpon gak dijawab-jawab// ucap Mama kesal.
//Sudah, tenangkan dirimu// ucap Papa sambil membelai pundak Mama.
Mama menoleh ke Papa sekilas dan masih terus gelisah memikirkan menantunya.
__ADS_1
Salman terus mengemudikan mobilnya menuju ke kediaman adiknya. Sesampai di sana ia berharap Asyi ada disana dan tidak membuat orangtuanya panik.
Tok..tok..tok..
Mira yang sedang duduk menonton TV di ruang TV merasa aneh dengan ketukan pintu, karena belum ada orang yang bertamu ke rumahnya pada malam hari, apalagi sudah jam 9 malam.
//Mas siapa yang ketuk pintu?// tanya Mira menatap Rama.
//Gak tau dek. Biar Mas bukakan pintu// ucap Rama beranjak pergi.
Klek..
//Assalamualaikum// ucap Salman menatap Rama.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Rama.
//Ram.. Dimana Asyi?// tanya Salman panik.
//Ada di kamar, ayo masuk// ucap Rama lembut mempersilakan Salman untuk masuk.
//Di kamar mana?// tanya Salman sambil beranjak masuk.
//Ada di atas// ucap Rama menutup pintu dan menoleh ke arah Salman.
Salman langsung berlari tanpa menghiraukan orang di sekitarnya.
//Abang// panggil Mira kaget melihat Salman yang berlari melewati dan langsung mengarah ke tangga.
//Kenapa?// tanya Mira bingung.
//Urusan rumah tangga mereka, biarkan saja// ucap Rama kembali menonton TV.
Mira mengerti maksud Rama dan mengangguk kepalanya kemudian ia kembali menonton TV bersama dengan suaminya.
Di atas Salman sudah berdiri di depan pintu kamar Asyi. Ia merasa gugup saat hendak membukakan pintu. Namun ia mengumpulkan segala keberaniannya dan langsung membuka pintu kamar Asyi yang tak di kunci. Ia melihat Asyi yang sedang duduk menatap langit dari jendela kamarnya dengan lampu hanya remang-remang.
Asyi sengaja mematikan lampunya agar tidak seorangpun tau dia sedang bersedih. Ia merasa kegelapan akan membawanya lebih tenang dalam mengadu isi hatinya.
Asyi yang menyadari ada orang yang masuk, ia langsung menghapus air matanya.
//Mira, kamu ngapain ke sini?// tanya Asyi menoleh ke arah seseorang yang sedang berdiri di pintu.
Salman terus berjalan dan menghidupkan lampu kamar.
Asyi merasa kaget dengan kehadiran Salman langsung ia membalikan wajahnya dan kembali menatap langit. Salman langsung berjalan menghampiri istrinya.
//Jangan mendekat// ucap Asyi yang melirik sekilas Salman dan langsung kembali menatap langit.
//Ayo ikut pulang dengan Mas// ucap Salman lembut.
//Malam ini Asyi nginap disini// ucap Asyi datar tak ingin melihat Salman.
//Pulanglah// ajak Salman lembut.
__ADS_1
//Asyi mau tidur disini// ucap Asyi sambil berjalan ke arah kasur dan merebahkan dirinya.
Salman melihat Asyi yang berjalan tanpa menoleh ke arahnya.
//Kamu ikut Mas pulang sekarang// ucap Salman kesal dan meninggikan suaranya.
Asyi tak menghiraukannya dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Salman merasa jengkel dan langsung berjalan ke arah Asyi. Ia membuka selimut yang menutupi tubuh Asyi dengan kasar.
Asyi kembali bangun dan menatap kedua mata Salman. Ia berusaha tenang agar ia tidak meneteskan air mata di depan Salman.
//Baik, Asyi pulang// ucap Asyi melihat Salam sekilas dan beranjak pergi. Ia merapikan kembali pakaiannya, dan mengambil tas lalu pergi meninggalkan Salman. Kemudian Salman berjalan mengikuti Asyi.
Di ruang TV Asyi menemui Rama dan Mira untuk berpamitan.
//Mas Rama, Mira. Terima kasih untuk hari ini, kakak pulang dulu ya// ucap Asyi lembut sambil tersenyum.
//Loh kok pulang? Gak jadi nginap disini?// tanya Mira menghampiri Asyi.
//Asyi harus pulang, mama panik nyariin Asyi// ucap Salman menghampiri mereka.
//Kak, aku lupa kabari mama// ucap Mira kikuk.
//Gak apa-apa, nanti biar kakak jelasin ke Mama. Kalau begitu kakak pamit ya// ucap Asyi menatap Mira dan Rama secara bergantian.
//Iya kak, hati-hati ya// ucap Mira sambil memeluk tubuh Asyi.
Asyi mengangguk kepalanya sedikit sambil membalas pelukan Mira.
//Kalau ada apa-apa kakak langsung kesini ya. Pintu rumah kami terbuka lebar untuk kakak// ucap Mira sambil tersenyum.
//Terima kasih Mira// ucap Asyi lembut.
//Iya kak// ucap Mira tersenyum sambil mengangguk kepalanya sedikit.
//Kakak pamit ya. Assalamualaikum// ucap Asyi menatap Rama dan Mira bergantian. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan mereka
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Rama dan Mira.
Asyi terus berjalan dan masuk ke mobil Salman. Ia memilih duduk di belakang agar tidak berpapasan dengan suaminya.
Salman langsung berjalan ke arah mobil, membukakan pintu dan duduk di depan. Ia melihat istrinya tidak berada di sampingnya kemudian ia menoleh ke belakang.
//Kenapa gak di depan?// tanya Salman menatap Asyi.
//Gak nyaman// ucap Asyi datar.
//Cepat pindah ke depan// perintah Salman.
Asyi menatap mata Salman dengan penuh kekesalan dan ia pindah ke depan. Ia langsung memasang seatbelt dan pandangan menatap ke arah jalan. Ia lebih memilih membungkam mulutnya daripada harus berdebat dengan suaminya.
Sebenarnya ia tau, tindakannya membantah suami adalah ladang dosa baginya. Namun ia terlalu terbawa emosi. Mengingat betapa sakitnya hatinya ketika melihat suaminya bersama dengan wanita lain. Mereka tertawa lepas seakan tidak ada beban dikeduanya. Merekapun berbicara sangat lembut bahkan penuh cinta, berbeda halnya dengan Asyi, yang harus menerima sikap datar suaminya setiap hari.
__ADS_1