Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 94 : CANDAAN MANJA


__ADS_3

Salman menyetir mobilnya menuju ke sebuah penginapan yang di tunjuk oleh penjual martabak tadi.


//Mas kita kok kesini?// tanya Asyi melirik sebuah penginapan.


//Malam ini kita tidur disini. Setelah shalat subuh kita pulang ke villa// ucap Salman dengan nada lembut dan maksud tertentu.


//Tapi tante Faridah..// ucapan Asyi dengan ekspresi khawatir nya terpotong dengan sanggahan Salman.


//Stts, sayang jangan pikirkan yang lain lagi. Malam ini kita tidur disini// ucap Salman memegang lembut tangan Asyi dan sesekali menciumnya.


//Tapi mas..// Asyi masih khawatir, ia tidak ingin membuat tante Faridah marah karena ia nginap di tempat lain.


//Sayang gak cinta sama mas?// tanya Salman memasang wajah melas.


//Cinta, tapi masalahnya// lagi-lagi pembicaraan Asyi terpotong.


//Mas selama ini gak bisa sedekat ini dengan sayang, hanya karena masalah kemarin mas harus berakting sebaik mungkin untuk mengungkapkan keburukan Intan dan Rijal. Sekarang giliran semua sudah clear, sayang malah gak mau tidur sama mas lagi// ucap Salman dengan wajah melasnya ia memalingkan wajahnya dan menatap kaca mobil.


//Ya Allah bagaimana ini? Dia suamiku dan disana tanteku.// bathin Asyi dilema.


//huff// Asyi menghela nafas, ia memegang wajah Salman dengan kedua tangannya, ia arahkan ke wajahnya agar ia bisa menatap kedua mata Salman.


//Jangan ngambek, malam ini kita tidur disini. Apapun yang mas lakukan, Asyi mau// ucap Asyi lembut.


//Sayang serius?// tanya Salman menatap kedua mata Asyi dengan penuh harapan.


Asyi mengangguk kepalanya.


//Iya mas. Mas suamiku, sudah sepantasnya sebagai seorang istri harus menuruti keinginan suaminya" ucap Asyi lembut dengan senyum manis di bibirnya yang tertutup cadar.


//kalau begitu ayo kita turun// Salman dengan segera turun, kemudian ia membuka pintu untuk Asyi.


Mereka berjalan menghampiri receptionist untuk memesan kamar.


//Assalamualaikum Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu?// tanya receptionist dengan lembut.


//Saya mau pesan kamar mbak//


//Untuk berapa orang?//


//Untuk 2 orang//


//Silakan bapak dan ibu memperlihatkan kartu nikahnya//


//ini dia mbak// ucap Salman menyerahkan kartu nikahnya.


//Baik. Bapak mau pesan kamar untuk berapa hari?// Ucap receptionist menyerah kartu nikah Salman kembali.

__ADS_1


//Untuk malam ini saja mbak//


//biayanya 300000//


Salman mengeluarkan uangnya dan memberikan ke receptionist.


//Mari saya antar// Resepsionis menuntun mereka ke sebuah kamar.


Sampai di depan kamar, recepsionis membuka pintunya.


//Pak, bu, ini kamarnya. Selamat beristirahat//


//Terimakasih//


Resepsionis berjalan meninggalkan mereka.


Salman dan Asyi langsung berjalan masuk ke kamar. Dengan segera Salman menutup pintu dan menguncinya. Setelah itu Salman berjalan menghampiri Asyi dan memeluk Asyi dari belakang.


//Mas// pekik Asyi kaget.


Salman tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


//Lepas Mas// ucap Asyi lembut berusaha melepaskan pelukan Salman.


//Biarkan Mas memeluk sayang sebentar. Mas sangat merindukan sayang// ucap Salman lembut ingin menggoda Asyi.


//Baiklah, tapi jangan erat sekali, sesak tau// Asyi membiarkan Salman memeluknya tak memberontak.


//Oh, udah pintar sekarang ya?// Salman tersenyum melihat kelihaian istrinya dalam memanfaatkan kesempatan.


Salman dengan senyum liciknya dengan segera menghampiri Asyi. Namun Asyi menutup tubuhnya dengan erat, sehingga Salman tidak bisa memaksanya membuka selimut. Namun bukan Salman namanya kalau tidak bisa membuat menaklukan istrinya.


Ia melirik ke arah kaki Asyi yang tertutup selimut, dengan senyum liciknya ia memikiki ide untuk membuka selimut yang menutupi kaki Asyi.


//masih gak mau buka selimutnya?// tanya Salman


//Gak//


//Ok, jangan salahkan mas//


Salman dengan senyum liciknya ia menarik selimut yang menutupi kaki Asyi.


//Masih kekeh gak mau buka?//


//Gak, mas curang//


//Baiklah, ini sayang yang minta loh//

__ADS_1


//Mas mau ngapain?//


//Buka selimutnya dulu, baru Mas katakan//


//Gak mau, itu paling triknya mas doang//


//Ok kalau begitu. Jangan menantang Mas ya//


Salman langsung meraba kaki Asyi dan menjilatnya, membuat Asyi geli.


//Mas lepaskan// ucap Asyi membuka selimutnya.


Salman merasa senang karena telah berhasil membuat Asyi membuka selimutnya.


Tanpa membuang waktu ia langsung **** Asyi. Asyi kaget dengan tubuh yang begitu cepat menangkapnya.


//Sayang kalah sekarang// ucap Salman menatap mata Asyi dengan tersenyum bahagia sambil menarik cadarnya dan melempar ke sembarang tempat.


//Itu karena mas curang// ucap Asyi menatap Salman.


//Bukan curang tapi pintar//


//Ya sudahlah, mas pintar. Mas turun dong// Asyi merasa tubuhnya sangat panas menatap Salman menindihnya dan jarak pandangan sangat-sangatlah dekat, membuat pipi Asyi merah merona.


Salman menggeleng kepalanya, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Asyi, namun dengan segera Asyi menutup bibirnya dengan tangannya.


//mau main-main ya// ucap Salman tersenyum licik.


Asyi tersenyum bahagia. Salman tak habis akal ia mendekatkan bibirnya ke kening, namun secepat kilat Asyi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


//sudah pintar bermain-main sekarang ya// ucap Salman tersenyum.


//Hahaha.. Mas kalah// ucap Asyi tertawa bahagia.


Salman merasa tertantang, ia langsung memutar otaknya, ia fokus kepada bagian dada Asyi, dengan segera tangannya hingga disana. Asyi merasa panas akhirnya membuka wajahnya.


//Mas menang// ucap Asyi berusaha menahan hasratnya.


//Kan sudah mas katakan, jangan pernah menguji kesabaran pria yang sudah diliputi nafsu// ucap Salman kembali mendihnya.


Salman semenjak dari tadi tubuhnya sudah panas, ingin sekali ia menerkam istrinya itu. Karena tindakan Asyi yang menggemaskan, hasratnya kini kembali meningkat. Wajar saja, cukup lama ia menahannya hanya demi rencananya untuk mengungkap kebohongan Intan dan Rijal.


Asyi tersenyum menatap Salman, kemudian mernagkulnya dan mencium bibir Salman sekilas, kita hendak ia lepas, Salman menekas pundaknya agar ciuman mereka sekali dalam dan lama.


Asyi kaget dengan gerakan Salman, ia memilih memejamkan matanya dan menikmati ciuman panas mereka.


Perlahan namun pasti tangan Salman mulai berjalan seluruh tubuh Asyi, tak ada lagi penolakan dari Asyi. Ia hanya menikmati setiap sentuhan dari suaminya. Sentuhan yang sangat lama ia rindukan. Seakan ia tak ingin membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa sentuhan Salman di tubuhnya.

__ADS_1


Bagitulah cinta, meskipun permainan yang dilakukan Salman sangat menyakitkan Asyi, tidak dipungkiri, seluruh hati dan tubuh Asyi tidak bisa membalas sikap Salman, meskipun itu hanya akting belaka. Tubuhnya dan janin dalam kandungannya sangat merindukan dekapan Salman, meskipun telah berusaha menahannya, namun semua itu hanyalah sia-sia. Hormon wanita hamil memang sungguh menggairahkan, tak jarang membuatnya langsung terangsang hanya dengan sedikit sentuhan.


Janin dalam kandungan Asyi tak berpihak padanya. Ia lebih memilih berpihak pada Salman, ayahnya. Sehingga hasratnya yang di timbulkan kian memuncak.


__ADS_2