Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 7 : PERJALANAN HONEYMOON


__ADS_3

Baru sehari di Jakarta, mereka sudah mendapatkan sebuah amplop putih berisi tiket honeymoon. Semula ingin menolak karena mereka ingin membina sebuah hubungan dengan perlahan-lahan dan terlebih lagi ingin mengenal satu sama lain. Tapi karena sebuah hadiah dan harapan dari orangtua membuat mereka tak kuasa menolaknya.


Kegirangan sang orangtua ikut mengantarkan mereka langsung ke depan pintu bandara.


Sara memeluk erat tubuh menantunya sambil berbisik, "Nak, lakukan tugasmu sebagai istri ya! Walaupun kamu malu, tapi dia halal bagimu. Semoga nanti kalian bisa memberi kami seorang cucu setelah kalian honeymoon."


Asyi tersentak, meneguk pelan salivanya dan mengangguk kepala.


Sementara Yusuf dengan terang-terangan menepuk pundak anaknya. "Salman, lakukan yang terbaik, kami tunggu kabar baik setelah kepulanganmu."


"Ah, Papa! Baru 2 hari nikah, nggak mau cepat-cepat ke sana dulu," balas Salman seakan tau maksud mereka.


"Perbuatan baik nggak boleh ditunda-tunda. Lagian, perkara itu nikmat dan mendatangkan banyak pahala karena kalian sudah halal," goda Yusuf menyeringai.


Salman tersenyum malu saat melihat Asyi ikut menekukkan wajahnya. Salam takzim mengakhiri perjumpaan mereka.


...****************...


Perjalan yang panjang kini mengantarkan mereka sebuah negara romantis—Paris.


Dari bandara, langsung menuju ke sebuah hotel mewah.


Pintu kamar terbuka memperlihatkan kasur yang bertabur mawar dengan dua handuk putih yang disulap menjadi dua ekor burung yang saling bercumbu membentuk love. Bau harum menerobos penciuman membuat semua orang bergairah.


Lelah seharian berada di dalam pesawat, Salman meminta Asyi untuk mandi, memanjakan dirinya.


Kamar mandi pun dihiasi dengan kelopak mawar merah, mertuanya memang sangat berniat mewujudkan honeymoon yang romantis untuk keduanya.


Menyingkirkan mawar, ia membasahi tubuhnya. Rasanya begitu nyaman.


Usai mandi, ia kebingungan untuk keluar kamar mandi sedangkan dirinya hanya melilitkan handuk di dada hingga menutupi sebagain ke bawah.


Kaki telanjang itu berjalan ke arah pintu, memanggil-manggil suaminya. "Mas, Mas, boleh tolong ambilkan bajuku? Aku tadi lupa bawa baju ke kamar mandi."


Tak ada balasan suara. "Kok Mas gak jawab ya? Mas ke mana ni? Apa jangan-jangan ketiduran ya?"


Menerka-nerka dengan hati yang husnudzon, Asyi menguatkan tekatnya, meraih gagang pintu hingga ia membuka pintu dan menyodorkan kepalanya keluar untuk melihat posisi Salman.


Dia mengernyit kening saat tak mendapati Salman, bahu merosot lega dan segera keluar dari kamar mandi. Kaki telanjang itu berjalan menuju sebuah kemari, membukanya lebar lalu memilih gamis longgar.


Melepaskan handuk dan memakaikan bajunya, seseorang yang baru saja membuka pintu, tangannya semakin gemetaran saat pertama kali melihat lekuk tubuh istrinya.


Asyi membalikkan tubuhnya, dia tersentak dan segera menarik resleting bajunya.

__ADS_1


Salman mengedar pandangannya, seakan ia baru masuk dan tidak melihat apapun yang berada di balik gamis itu.


"Mas, sejak kapan Mas berdiri di situ?" Asyi berdegup deg-degan berharap Salman tak melihatnya.


"Ba—baru aja," Salman terbata-bata karena tak pandai berbohong. "Oh iya, Mas mau mandi dulu!"


Tak mendengar respon Asyi, ia bergegas ke kamar mandi, jantungnya berdegup kencang, jiwa lelakinya semakin memuncak. 'Syahwat? seperti orang yang sedang kelaparan, bisa datang kapan saja.'


"Sial! Harus mengurungkan waktu."


Asyi masih bingung, ia duduk di sofa sembari membayangkan Salman. "Apa Mas melihat tubuhku, ya?"


Mencubit-cubit gamisnya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi, Asyi segera menoleh, melihat Salman yang masih dengan handuk kimono, ia memalingkan wajah, membiarkan Salman mengganti pakaiannya sendiri.


Rasa deg-degan masih menyelimuti diri mereka, Salman yang sudah rapi pun menghampiri istrinya yang dari tadi tak beranjak dari duduknya.


"Apa kamu lapar?" tanya Salman dengan lembut, duduk di sampingnya.


Asyi mengangguk kepala. Salman meraih tangan Asyi, lalu menuntunnya keluar. Langkah demi langkah hingga mereka tiba di restoran.


Tak begitu terang, tapi ini sangat romantis, mereka bisa melihat kota Paris dari atas.


Duduk berhadapan menunggu menu yang dipesan mereka. Bibir Asyi tergerak di balik cadar. "Mas, boleh kutanya sesuatu?" Sorotan mata penasaran.


"Apa Mas yang menjadi Imam subuh di Masjid saat HUT Pesantren?"


"Iya." Mengangguk cepat. Asyi terperanjat, hatinya seketika haru. "Kenapa? Suara Mas jelek ya?"


Menggeleng kepala. Hingga tak terasa air mata menetes dari sela bulu matanya.


"Sayang, Kenapa menangis?" Salman keheranan dan mengusap air matanya.


"Gak kok, Mas. Aku hanya terharu."


"Sayang, mikirin apa?"


"Sebenarnya aku teringat dengan seorang lelaki yang membuat kukagum kepadanya dan berharap dia menjadi Imamku."


Salman terkejut dan kecewa. "Maafkan Mas, Sayang. Seharusnya Mas nggak egois."


"Kok minta maaf? Mas nggak salah kok." Untuk pertama kali Asyi berinsiatif menggenggam tangan suaminya.


"Mas mau tau nggak siapa orangnya?" Salman mengangguk meskipun ia cemburu. "Dia itu seorang Imam sholat subuh saat HUT Pesantren." Salman tersenyum lebar. "Dia itu, Mas."

__ADS_1


Salman mengangkat ke dua tangan Asyi, lalu menciumnya. "Hampir saja Mas cemburu. Terima kasih, Sayang."


Asyi tersenyum mengangguk kepala.


Makanan ya dipesannya tiba, mereka berdua menyantapnya. Beradu pandang dan kata-kata penuh cinta selalu menghibur telinga.


Tak membuang waktu, usai makan mereka jalan-jalan melihat menara yang berdiri kokoh setelah seratus tahun lebih lamanya.


Udara malam semakin dingin, mereka pun kembali ke hotel.


Ruang tertutup hanya mereka berdua, bau yang menggairahkan memuncakkan nafsu. Terutama bagi Salman yang sudah dihantui pikiran kotor saat tubuh istrinya terekspos.


Menutup pintu kamar, Salman meraih pinggang Asyi, memeluknya dari belakang membuat Asyi kaget.


"Bolehkah kita—." Suara Salman semakin berat, jantung Asyi berdetak tak karuan.


Salman melepaskan tangannya, ia bergegas ke kamar mandi. Bibir Asyi bergetar ingin memanggilnya namun seakan tak menimbulkan suara. Ia merasa bersalah, sebagai seorang istri seharusnya ia bisa paham keinginan suaminya.


Salman yang sudah berhasil menetralkan nafsunya, kini ia keluar dari kamar mandi, matanya menangkap sosok wanita tanpa penutup kepala dan cadar, memakai kimono yang terlihat belahan kaki jenjangnya.


Ia meneguk keras salivanya berjalan mendekati istrinya.


"Mas," ucap Asyi segera bangun, menarik bajunya. Ia terlihat risih dengan pakaian itu.


"Tumben sekali kamu memakai pakaian seperti ini?"


Asyi menundukkan wajahnya sambil bermain dengan jari-jarinya. "Aku sengaja pakai ini untuk Mas."


Salman tersenyum puas. Ia merasa Asyi sudah siap untuk melayani dirinya. "Apa kamu yakin?" memegang ke dua pundaknya.


"Kita coba dulu."


Segera berjalan kembali ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu berdiri menghadap kiblat dan melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat.


Jantung semakin berdebar saat mereka sedang beradu pandang di tepi ranjang.


"Apa kamu yakin?" tanya Salman kembali.


Asyi mengangguk kepala. Salman mengucapkan basmalah lalu mencium kening Asyi yang segera dipejamkan mata. Perlahan turun hingga Asyi tak kuasa menahannya dan seketika mendorong dada Salman.


Air mata berderai membasahi pipinya kala bayangan masa lalu belum bisa keluar dari kepalanya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukannya," ucap Asyi terisak tangis.

__ADS_1


Salman menjadi terenyuh, ia segera mendekap Asyi. "Jangan menangis! Mas tidak akan memaksamu jika kamu belum siap."


__ADS_2