
Assalamualaikum semuanya, ada kabar baik untuk kita semua. Novel Kiano mengejar Cinta sudah terbit di lapak hijau. Jangan lupa mampir ya!
Oh ya sedikit informasi, krn novel ini seting di tanah kelahiran Author sendiri, Author mau bagi² hadiah juga. berupa dres mewah, bagi pembaca laki² bisa hadiahkan ke pasangan kalian. bagi cewek pake sendiri dong 😂
Gimana caranya?
Caranya gampang banget, tinggal ikuti cerita ini sampai tamat di lapak sebelah. Follow, like, dan komen setiap bab supaya tau siapa aja nama² yg ikuti cerita ini sampai tamat dan bisa di undi, jika bolong komen 1 bab aja, maka akan di diskualifikasi. Oh no, jgn sampe kalian gak kebagian hadiah kali ini. dan satu lagi, share cerita ini ke semua sosial media kalian tag juga nama Syifa_sifana. Thank you 😘
*****
Jika harta dan tahta tak mampu kuraih restu,
Apakah aku harus terlahir kembali agar kita sama?
Sampai di sini aku menyadari, yang berat itu bukan rindu, tapi restu.
———
Kisah seorang pemuda tanah Jawa yang terpikat cinta dengan seorang gadis Aceh.
Antara Cinta dan restu. Mana yang akan dipilih Kiano dan Cut? Haruskah mereka melawan takdir atau berhenti melawan waktu, melepaskan cinta yang sudah bersenyam dalam hati?
"Aku bersumpah, jika laki-laki itu bukan kamu, sampai mati aku tidak akan menikah lagi," ucap Cut dalam deraian air mata.
"Cut, jangan katakan itu!" hardik Kiano. "Kamu pantas bahagia, turuti keinginan waled, percayalah aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
"Tidak ada kebahagian. Hatiku sudah patah, semua impianku bersamamu telah pupus. Jika kamu ingin kita berhenti berjuang, aku akan lakuin itu. Tapi jangan pernah berharap aku menarik sumpahku," tegas Cut beranjak pergi. Menangis pilu.
__ADS_1
"Aku juga bersumpah aku tidak akan menginjakkan kaki ke tanah Aceh lagi. Biarkan aku menanggung cinta, biarkan tanah ini menjadi saksi atas cinta yang tak pernah direstui, atas cinta kita yang hanya akan menjadi angan-angan. Aku berharap jika tidak di dunia ini, biarkan dunia lain mempertemukan kita. Selamat jalan Cut. Aku mencintaimu, selamanya."
...****************...
“Ya Allah, kenapa pak TM bisa menyuruh laki-laki itu untuk menggantikannya?” gerutu Cut kesal merasa dirinya yang selalu ditindas oleh laki-laki yang baru dikenalnya. Seorang dosen pengganti sementara, yang dipuja oleh banyak kaum hawa, mudah bergaul dengan kaum adam, hingga dirinya menjadi salah satu nominator dosen terbaik sepanjang masa. Wajah yang tampan menjadi banyak incaran para kaum hawa apalagi saat mengetahui dirinya yang masih menyandang status single dan tajir melintir. Siapa coba yang tidak ingin memiliki pendamping hidup seorang laki-laki yang nyaris sempurna.
Banyak mahasiswi yang berdesak-desakan mencari perhatiannya. Setiap kelasnya selalu saja penuh, tak ada satupun yang bolos, bahkan yang sakit bisa menjadi sehat ketika dosen itu yang mengajar. Sungguh ajaib. Tapi berbeda halnya dengan Cut, yang ingin sekali rasanya mencabik-cabik wajah laki-laki yang tak berdosa itu. Selalu menyusahkannya dalam berbagai hal. Seakan ia menjadi mahasiswi paling bodoh di sejagat kampus. Berbagai makalahnya ditolak bahkan disuruh buat ulang hingga puluhan kali. Mahasiswa mana yang tidak kesal melihat dirinya diintimidasi? Meskipun ia berkerudung tak bisa juga harus selamanya diam dalam sabar tanpa harus menegakkan keadilan.
“Jika ada di antara kalian yang ingin protes, silakan temui saya di ruangan saya!” Dosen itu mengakhiri kelasnya. Ia melirik Cut sekilas kemudian beranjak pergi.
Cut mengepalkan tangannya, ia segera memasukkan semua buku ke dalam tas, kemudian beranjak bangun. Sahabatnya buru-buru memasukkan buku juga ke dalam tas, lalu menghampirinya. Ia khawatir kali ini sahabatnya itu akan nekat. Cut memang wanita yang keras kepala, apalagi kalau ada orang yang mengusiknya, ia akan melawan, tak peduli siapa yang akan dihadapinya.
“Cut, tunggu!” Sabrina berlari menghampirinya. Napas tersengal-sengal kerena menyeimbangkan langkah kaki Cut yang terlalu cepat baginya. Cut melirik sekilas, lalu tetap fokus berjalan menuju ke ruangan dosen yang telah menantangnya itu.
“Cut, qe yakin mau berurusan sama bapak itu?”
Cut menganggukkan kepala. “Bapak itu nantang. Cut harus hadapi, dia pikir Cut takut apa?”
“Cut, jangan! Awak nggak mau nilai qe anjlok gara-gara berurusan sama bapak itu.” Sabrina menatap seraya menggeleng. Ada kekhawatiran yang mendalam dari sorotan mata itu.
Cut tersenyum. “Tenang aja. Cut kali ini berjalan di atas kebenaran. Cut nggak mungkin selamanya harus ditindas seperti ini.” Dia melepaskan tangan Sabrina. Kembali meraih gagang pintu lalu mendorongnya. Sabrina merapalkan doa, kening yang mengerut sudah jelas menandakan ia sedang ketakutan – khawatir dengan keadaan Cut di dalam sana.
“Pak, saya tidak terima dengan perlakuan Bapak terhadap saya!” kata Cut langsung to the point saat menghampirinya yang sedang duduk. Tak butuh sapaan formal jika hati telah tersakiti. Dosen itu meliriknya sekilas, lalu beralih pada pintu yang terbuka. Segera ia bangun, berjalan pelan ke arah pintu.
“Kamu mau masuk juga?” tanyanya pada Sabrina yang masih berdiri. Sabrina terkejut menggeleng kepala. Dosen itu pun langsung menutup pintu dengan rapat, membuat kedua mata Sabrina mengerjap beberapa kali.
“Mampus qe kali ini.” Sabrina meneguk keras saliva.
Cut memperhatikan sikap Dosen itu. Tetap tenang dan fokus pada tujuan semula.
__ADS_1
“Kamu mau protes apa?” tanya Dosen itu, berjalan dengan tangan yang disakukan ke dalam saku celananya, lalu duduk di depan Cut. Kedua tatapan mereka saling bertemu, saling menantang.
Cut mengeluarkan semua makalahnya lalu meletakkan di atas meja Kiano. “Saya ingin Bapak memeriksa semua makalah saya!” titahnya dengan tegas.
Dosen itu menatap tumpukan makalah di depannya. Dia mengambil satu persatu, meliriknya sekilas lalu melempar ke sampingnya.
“Sombong sekali,” gerutu Cut menggertakkan gigi. Pria di depannya itu tidak layak menjadi dosen di matanya karena selalu meremehkan setiap usahanya, bahkan lebih tepat tak menghargainya.
“Pak, tolong hargai saya!” Cut mulai meninggikan suaranya. Dosen itu menatapnya dengan tajam.
“Kamu minta saya menghargai makalah sampah ini?”
Cut terkekeh mendengar ucapannya. Dosen itu pun mengerutkan keningnya. “Ternyata Bapak memiliki dendam pribadi terhadap saya.” Cut menatapnya sekilas. Dia membuka semua lembaran makalah itu lalu memperlihatkan semua nama penulisnya. “Bapak lihat ini! Ini semuanya makalah mahasiswa kesayangan Bapak.”
Dosen itu menarik napas dalam, kali ini ia sudah masuk ke dalam jebakannya sendiri.
“Kenapa, Pak? Kecewa kah dengan tindakan saya kali ini?” Cut tersenyum kemenangan bisa membalasnya.
“Saya ingatkan ke Bapak, kalau Bapak tidak suka dengan saya, bilang jauh-jauh hari. Saya datang ke sini untuk belajar, begitu juga dengan tugas Bapak untuk mengajar. Kalau Bapak tidak suka melihat wajah saya, bersabar sampai semester ini berakhir, setidaknya kita tidak akan pernah bertemu lagi. Karena saya tidak akan sudi bertemu dengan Bapak,” sarkasnya beranjak bangun.
“Satu hal lagi, sebaiknya Bapak profesional. Yang salah tetap salah, yang benar tetap benar. Jangan pernah menyalahkan kebenaran hanya demi dendam pribadi,” pungkas Cut sebelum melangkah pergi.
Dosen itu berdesis memandang punggung Cut. “Kamu yakin tidak ingin bertemu dengan saya lagi?” Cut tak juga menghentikan langkahnya meskipun ia ingin sekali mencebiknya kembali. “Kamu lupa kalau pak TM sudah menyerahkan kamu kepada saya?”
Cut tersentak, ia segera membalikkan tubuhnya, menatap Dosen itu dengan alis yang mengerut.
“Saya sekarang dosen pembimbingmu.” Kedua mata Cut membelalak. Ia menarik napas panjang lalu mengeluarkan perlahan.
“Saya akan keluar, saya akan memilih dosen lain sebagai pembimbing saya,” tegas Cut.
__ADS_1
“Kamu yakin?” Ia mengangguk penuh percaya diri. “Cobalah! Kalau kamu gagal, kamu akan menjadi pacar saya.”