Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP : 11 BENIH BENIH CINTA


__ADS_3

Hari yang melelahkan membuat semuanya tertidur pulas.


Pagi-pagi Asyi menyiapkan baju kerja untuk dipakai suaminya—celana coklat, kemeja putih, jas warna coklat dan dasi liris coklat tua dengan jam tangan tali coklat menjadi pilihannya untuk hari pertama suaminya kerja.


Asyi melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Nasi goreng menjadi pilihannya di pagi ini.


Selesai menyiapkan sarapan di atas meja, Asyi kembali ke kamar untuk mengurus suaminya.


"Sayang, ini baju untuk Mas ya?" tanya Salman melihat baju tergeletak di atas kasur.


"Iya, Mas. Apa Mas suka dengan pilihanku?" Asyi jalan mendekat.


"Suka dong. Apapun yang kamu pilih semuanya Mas suka." Salman mengambil kemeja, lalu memakai di depan istrinya. Tak lagi merasa risih karena mereka sudah mulai terbiasa.


"Mas, sini biar aku kancingin bajunya." Salman melepaskan tangannya dari bajunya, lalu berdiri mendekati istrinya. Asyi tersenyum mengancing bajunya sampai selesai, melanjutkan dengan memakai dasi, Asyi terlihat sangat telaten.


Bahkan Asyi tak ragu memakaikan jas dan jam tangan pada lengan Salman, dilanjutkan juga dengan menyisir rambut. Ia berusaha menjadi istri yang sholehah yang bisa mengurus semua kebutuhan suaminya.


"Ayo kita keluar!"


"Tunggu dulu!" Salman menarik tangan istrinya, lalu memeluknya.


"Ada apa? Masih ada yang kurang?" Asyi kebingungan.


Salman menganggukan kepala. "Morning kiss-nya belum."


Cup ...


Asyi mencium pipi suaminya sekilas lalu melepaskan diri dari dekapannya.

__ADS_1


"Kok cuma di pipi sih?" Salman merengek


"Lalu di mana juga?"


"Di sini!" Salman merangkul pinggang kecil istrinya, dan mencium bibir pink itu.


Salman melepaskan ciumannya dan berbisik di telinga Asyi, "Sayang, Mas ingin ciuman seperti ini setiap pagi."


Wajah Asyi memerah dan hanya menganggukan kepalanya.


Asyi segera memakai cadar, lalu berjalan bergandeng tangan dengan suaminya menuju ke ruang makan.


Suara kicauan terdengar dari meja makan. "Ma, Tumben Bibi masak makanan kayak di restoran?" tanya Maira menatap makanan yang begitu lezat.


"Sebenarnya bukan Bibi yang masak Non, tapi Non Asyi yang masak."


"Ada apa ni pagi-pagi udah ribut?" Salman menarik kursi, Asyi pun duduk.


"Iya kah, Sayang?" Asyi mengangguk kepala.


"Wah, berapa banyak kejutan lagi, Sayang? Mas merasa seperti orang yang sangat bahagia."


"Wah, pamer kemesraan ni," cibir Mira.


"Kalian mau?" Salman menyeringai memegang tangan Asyi lalu mencium punggung tangannya.


"Ya salam, pakai diulangi lagi."


"Jangan bikin adik-adikmu haredang!" ucap Sara melirik mereka.

__ADS_1


Obrolan singkat selalu terjadi di mana pun mereka berkumpul. Asyi menjadi terbiasa dengan mereka, ia merasa sangat bahagia bisa masuk dalam keluarga itu, serasa ia tak lagi sepi hidupnya.


Usai makan, para istri mengantar suaminya ke depan mobil, salam takzim sang istri di sambut dengan kecupan di kening melepaskan kepergian suami mereka untuk menjemput rezeki.


Mobil telah hilang dipandang mata, Mira datang mengejutkan Asyi. "Mbak, ke mall yuk!"


"Lah, kenapa baru bilang sekarang? Mbak belum minta izin sama Mas Salman."


"Telpon aja!"


Asyi merogoh sakunya, mengambil benda pipih dengan cepat menghubungi Salman.


"Assalamualaikum, Mas."


"Wa'alaikumussalam. Ada apa? Rindu ya?"


"Bukan. Aku mau izin, Mira ngajak ke mall."


"Pergi aja. Di dalam laci ada black card. Sayang bawa itu aja untuk berbelanja. Tapi ingat Sayang jangan genit-genit."


"Mau cari suami lain," sahut Mira.


"Berani genit-genit sama yang lain, Mas hamili kamu biar nggak bisa macam-macam."


"Mas!"


"Hehehe ... Mas cuma bercanda kok."


"I love you."

__ADS_1


"I love you too."


Percakapan singkat berakhir. Mira dan Asyi bergegas bersiap-siap menuju ke mall tanpa sepengetahuan Maira. Mira sengaja enggan mengajaknya ikut bersama.


__ADS_2