
Keharmonisan dan romantisme terus saja terjadi antara Salman dan Asyi.
Setelah berliburan di Sabang dan menikmati berbagai kuliner khas Aceh. Kini saatnya mereka harus kembali ke Jakarta.
Hari terus berlanjut kini tidak terasa perut Asyi semakin membesar. Semua kegiatan kantornya ia hentikan demi kesehatannya dan kesehatan jabang bayinya. Rasa bahagia kini terus menyelimuti mereka semua.
Malam hari Asyi merasa sangat susah tidur, karena perutnya yang semakin membesar. Salman senantiasa berada di sampingnya untuk memberikan segala yang istrinya butuhkan.
Asyi sedang bersandar di ranjang sambil mengelus perutnya. Sedangkan Salman sedang duduk di sofa dengan ponsel di tangannya, ia sedang membaca email yang di kirim sekretarisnya.
//Auw// pekik Asyi mengelus perutnya.
//Kenapa sayang?// tanya Salman khawatir dan langsung menghampiri Asyi.
//Bayinya lasak// ucap Asyi menatap Salman.
//Dia mendendang sayang?//
//Iya, sini coba rasakan// ucap Asyi menuntut tangan Salman meletakkannya di perutnya.
//Dia bergerak sayang// ucap Salman bahagia.
//Iya, dia sangat aktif, mungkin setelah lahir lebih aktif lagi//.
//Ikut Abi nya// ucap Salman tersenyum.
//Nak, nanti setelah kamu lahir, jadinya anak yang sholeh ya. Karena kamu salah satunya jembatan kami menuju jannah-Nya// ucap Salman mengelus perut Asyi dan sesekali menciumnya.
//Amiinn// ucap Asyo tersenyum.
//Sekarang kalian tidur ya// pinta Salman penuh perhatian.
//Iya, tapi maunya dipeluk sama Abi// sahut Asyi manja.
Salman tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu manja. Ia sangat menyukai istrinya yang sangat manja terhadapnya.
//Tapi Abinya yang gak mau peluk ummi// goda Salman. Ia sengaja ingin membuat istrinya kesal.
//Ya sudah, sana pergi// ucap Asyi ngambek dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Salman menyungging bibirnya tersenyum karena telah berhasil membuat istrinya kesal.
//beneran ni?// tanya Salman menggoda Asyi.
Asyi tidak bersuara dan terus menyembunyikan wajahnya dalam selimut. Membuat Salman semakin ingin menggodanya. Perlahan Salman membuka selimut yang menutupi kaki Asyi dan menggelelitik kakinya.
//Hahaha.. Ampun// ucap Asyi membuka selimutnya. Dengan segera Salman menindihnya, ia mencium kening dan bibir Asyi kemudian ia tidur di samping Asyi.
//Good night sayang// ucap Salman memeluk tubuh istrinya. Asyi tersenyum merasa bahagia ia mencium sekilas bibirnya Salman dan langsung menutup matanya.
//Pintar sekali sayang menggoda Mas// ucap Salman tersenyum.
Asyi tidak ingin melanjutkan pembicaraannya lagi, ia tau kalau ini berlanjut itu akan berakhir menjadi intim.
beberap bulan kemudian...
Pagi hari seperti biasanya mereka selalu breakfast bersama keluarga.
Asyi yang sedang menikmati susunya tiba-tiba terjadi kontraksi di bagian perutnya. Ia berusaha menahannya tapi semakin ditahan sekamit kuat kontraksinya.
__ADS_1
//Auw..// jerit Asyi memegang perutnya.
Semua orang menatap Asyi yang mengerti kesakitan.
//Mungkin ini sudah saatnya// ucap Sara membuat Salman bingung.
//Salman, ayo kita bawa dia ke rumah sakit// pinta mama.
Salman mengangguk kepala dan membopong Asyi ke dalam mobil yang ia siapkan sebenarnya untuk pergi kerja, namun karena urusan Asyi lebih dari segalanya, ia memilih menemani istrinya ke rumah sakit.
//Bi tolong siapkan perlengkapan Asyi dan bayinya, masukan ke dalam mobil// ucap Sara sembari mengikuti Salman dan Asyi bersama Yusuf.
Bibi dengan segera menyiapkan perlengkapannya dan langsung memasukannya ke dalam mobil.
Setelah semuanya selesai, ia langsung mengemudi mobilnya menuju rumah sakit.
Kini tubuh Asyi yang semakin melemah ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit pada bagian tubuhnya.
//Mas, cepat, sakit sekali// kesuh Asyi.
//Ya, sabar sayang ya, kita akan segera tiba.// ucap Salman lembut berusaha menenangkan istrinya.
//mama sakit sekali// keluh Asyi menggenggam erat tangan Sara.
//Sabar nak ya, semua wanita pasti mengalami gejala yang sama saat mau melahirkan// ucap Sara mengelus kepala Asyi yang bersandar di pundaknya.
Asyi berusaha sekuat tenaganya untuk menahan rasa sakitnya hingga mereka sampai di rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Asyi langsung di bopong Salman dan di letakkan di bangkar kemudian mereka menuju ke ruang bersalin.
Salman selalu menemani istrinya saat ia sedang proses bersalin. Ia melihat betapa keras perjuangan istrinya di ruang bersalin.
//heuk..heuk.. Auuw.. Asyi gak kuat// jerit Asyi tiba-tiba ia menjadi lemah.
//Sayang, terus berjuang demi anak kita. Mas disini, sedikit lagi kita akan menjadi orangtua yang seutuhnya// ucap Salman lembut berusaha menguatkan Asyi, ia mencium kening istrinya.
Asyi mengangguk kepalanya, ia genggam kuat tangan Salman.
//Ya Allah tolonglah hambamu ini// bathin Asyi.
Setelah berjuang keras, akhirnya proses bersalin berjalan lancar.
//Oeek...oeeeek...// tangisan bayi menghiasi ruangannya. Membuat Salman menitihkan airmata bahagianya. Begitu juga dengan Asyi yang sangat bahagia dengan airmata bahagia yang menetes di pipinya meskipun tubuhnya lemas.
//Selamat bu, bapak, anak kalian laki-laki// ucap dokter langsung menyerahkan bayi ke ibunya untuk disusukan selama 45 menit.
Salman sangat bahagia, ia mengecup kening istrinya dan berkata //Terimakasih sayang.. Sayang sudah membuat mas menjadi seorang ayah//
//Bu mari sini bayinya biar saya bersihkan// ucapa seorang suster.
Asyi dengan senyum yang terukir di bibirnya menyerahkan bayinya. Salman terus menggenggam tangan istrinya, ia sangat bahagia bahkan tidak bisa diukirkan dengan kata-kata betapa bahagianya ia.
Setelah bayinya bersih dari darah dan Asyi juga telah mengganti pakaiannya, kemudian suster kembali menyerahkan bayi ke pada Salman dengan senang hati Salman menggedongnya dan langsung mengazan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Kemudian Salman membaca doa pada telinga kanan //allahummaj'alhu barran taqiyyan rasyidan wa anbit-hi fil islami nabatan hasanan// yang artinya "Ya Allah, jadikanlah ia (bayi) orang yang baik, bertakwa dan cerdas. Tumbuhkanlah ia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik".
Setelah itu ia juga membaca surah al ikhlas, al qadr dan surah ali imran ayat 36. Kemudian ia memberi nama "Sulaiman Al Farisyi".
Sungguh seorang ayah yang dibekal dengan ilmu agama yang kuat. Ia sangat paham dengan apa yang dianjurkan ketika seorang bayi lahir ke dunia.
__ADS_1
Asyi tersenyum bahagia, sembilan bulan sepuluh hari ia mengandung dengan letih dan sakit yang ia rasakan, kini terbayar sudah dengan lahiran seorang putra yang begitu tampan dan sehat.
//Nak, mana cucu kami?// tanya Sara dan Faridah menghampiri Salman.
//Lihatlah kedua orang itu, bukannya lihat ibunya yang terbaring di bangkar, malah langsung menghampiri cucunya.// ucap Yusuf sembari masuk dan menghampiri Asyi.
Asyi tersenyum menatap Yusuf kemudian melihat tante Faridah dan Sara yang begitu antusias ingin menggendong Sulaiman.
//Sini biar Oma yang gendong// pinta Faridah pada Salman.
//Eh akulah, dia ini cucu ku// ucap Sara berebut.
//Ini juga cucuku, kamu minggu dulu, biar aku yang gendong// ucap Faridah berusaha mengambil Sulaiman dari tangan Salman.
//Hai, sudah tua masih saja berebutan// ucap Yusuf mengambil Sulaiman dari tangan Salman.
//Aishh Papa, mama dong yang gendong duluan, kenapa jadi papa yang menggendongnya?// ucap Sara kesal.
//Yusuf, sini kasih ke aku, aku juga mau gendong cucu ku// ucap Faridah menadah kedua tangannya.
//Gak, kalian berantem aja dulu, biar cucuku aku yang gendong. Kalau kalian sudah ada yang mengalah baru aku kasih ke kalian// ucap Yusuf sembari tersenyum menatap Sulaiman.
Faridah dan Sara terdiam dan saling curi-curi pandangan. Keduanya sama-sama egois.
//Salman, siapa nama anakmu?// tanya Papa menatap Salman sekilas kemudian kembali fikus menatap wajah mungil cucunya.
//Sulaiman al Farisy, Pa// ucap Salman tersenyum.
//Nama yang bagus.// ucap Yusuf.
//Ma, Faridah, kalian tau, cucu kalian ini sangat tampan dan mirip sekali dengan ibunya// ucap Yusuf melirik Sara dan Faridah yang masih mempertahankan keegoisannya.
//Faridah, aku ngalah deh, kamu aja duluan yang gendong cucuku// ucap Sara menatap Faridah dengan penuh keikhlasan.
//Terimakasih Sara// ucap Faridah dengan bahagia ia langsung mengambil Sulaiman dari tangan Yusuf.
Secara perlahan Sulaiman ia gendong dengan kelembutan, tanpa sengaja ia meneteskan air mata bahagianya dengan air mata kesedihannya.
Ia merasa bahagia bisa melihat cucunya lahir ke dunia ini, satu sisi ia merasa sedih saat ia melihat bayi ia teringat puluhan tahun yang lalu, saat ia harus kehilangan bayinya. Ia kecup lembut kening Sulaiman dengan penuh cinta dan kehangatan.
//Sara, sekarang giliranmu// ucap Faridah menyerahkan Sulaiman.
//Terimakasih// ucap Sara menggendong cucunya dengan perlahan-lahan. Ia sangat senang menggendong cucunya yang sangat tampan.
//Asyi, benar yang dikatakan Papa, dia sangat mirip denganmu// ucap Sara menghampiri Asyi dengan Sulaiman di lengannya.
//Ma, dia itu anak Salman juga, kenapa mama bilang cuma mirip Asyi// protes Salman menghampiri mamanya.
//Kamu ini, anak laki-laki mesti mirip ibunya lah, anak perempuan baru nanti mirip kamu.// ucap Sara lembut.
//Kok gitu ma?// tanya Salman bingung.
//Iya memang gitu, nanti anak kalian patuh sama orangtuanya// jelas Sara tersenyum bahagia.
//Sayang, kita bikin anak perempuan satu lagi ya, biar mirip Mas// ucap Salman spontan menatap Asyi.
Wajah Asyi semakin memerah, ia sangat malu dengan tindakan Salman yang begitu terus terang di hadapan mereka semua.
__ADS_1
//Nah, itu benar. Mama setuju// ucap Sara tersenyum.