
Suara azan membangunkan Asyi. Ia membuka matanya perlahan-lahan dan melihat dan Salman sedang tertidur di sampingnya, dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia tersenyum melihat wajah Salman yang begitu teduh dipandang di mata ketika ia tertidur. Sebenarnya bukan hanya ketika ia tidur, tapi ketika ia bangun pun terlihat wajahnya begitu enak dilihat. Tapi belakangan ini wajahnya agar sedikit mengerikan bagi Asyi, karena sikap dinginnya ditambah lagi bayangan Intan yang selalu terlintas dipikiran Asyi ketika menatap wajah Salman.
Asyi masih betah dengan senyuman di bibirnya. Ia berusaha memindahkan kain kompres di dahinya dan ia mengusap lembut wajah Salman. Ia berharap pelukan Salman akan senantiasa menemaninya setiap detik nafasnya. Ia seolah tak mengizinkan wanita lain berada diposisinya yang merasakan pelukan hangat suaminya.
Perlahan sentuhan Asyi membangunkan Salman. Salman membuka matanya dan segera mengecek kondisi Asyi. Ia letakkan tangan di atas dahinya juga ia sentuh lengannya. Asyi hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang begitu perhatian kepadanya.
//Alhamdulillah panasnya sudah turun// ucap Salman lega.
//Terima kasih Mas. Terima kasih sudah mau merawat Asyi// ucap Asyi lembut dengan senyum di bibirnya dan tatapan cinta di matanya kepada Salman.
Salman tersenyum sambil mengangguk sedikit kepalanya. Salman melihat jam di nakasnya yang sudah menunjukan waktu shalat subuh. Ia berusaha bangun namun lengannya ditarik oleh Asyi. Salman memalingkan wajahnya dan menatap Asyi.
//Kenapa?// tanya Salman lembut.
//Boleh Asyi jadi makmum shalat subuh?// tanya Asyi penuh harapan.
Salman tertegun dengan ucapan Asyi. Kemudian ia tersenyum dengan mengangguk sedikit kepalanya, tanda ia menyetujuinya.
Asyi tersenyum bahagia dan berusaha bangkit, namun Salman dengan segera membantu Asyi.
Asyi merasa sangat bahagia. Ia berharap andai waktu bisa berhenti sebentar, agar Salman bisa terus seperti ini terhadap Asyi.
__ADS_1
Asyi dan Salman melaksanakan shalat subuh berjamaah. Asyi mencium punggung tangan Salman dengan sangat lama hingga tanpa ia menitihkan air matanya. Rasa terharunya tidak bisa menghentikan air matanya untuk berjatuhan. Salman merasa tangannya basah dengan air mata Asyi, dengan segera ia mengangkat wajah Asyi dengan tangannya agar ia bisa melihat wajah Asyi.
//Kenapa kamu menangis?// tanya Salman bingung melihat pipi Asyi yang penuh dengan air mata.
//Asyi hanya terharu Mas// ucap Asyi tersenyum bahagia.
//Terharu boleh, tapi jangan sampai menitihkan air mata di pipimu// ucap Salman penuh perhatian sambil menghapus air mata di pipi Asyi.
//Iya Mas, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih atas perhatian Mas. Asyi sangat bahagia melihat Mas seperti ini// ucap Asyi lembut, tersenyum menatap Salman.
Jujur saja, ia tidak ingin beranjak dari sajadahnya. Ia masih ingin berduaan dengan Salman. Ia masih betah dengan sikap kelembutan Salman terhadapnya. Seakan semua rasa sakit dalam hatinya hilang seketika. Ia juga merasa heran, kenapa kebahagian bisa hancur seketika hanya dengan sedikit kekecewaan. Namun ia juga heran, hanya sedikit sikap lembut dan perhatian Salman bisa menyembuhkan semua rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini. Mungkin itulah sebabnya kenapa wanita diibaratkan seperti cermin, mudah pecah tapi bisa disatukan kembali. Begitu juga dengan hati wanita, mudah hancur ketika orang yang kita cinta mengkhianati kita, namun mudah untuk kembali hanya dengan sedikit sentuhan.
Cinta selalu menang dalam setiap kesempatan. Mau dia diawal ataupun diakhir. Kehangatan dari seseorang yang dicintai memang menjadi obat yang paling manjur setiap penyakit hati.
Asyi menggenggam tangan Salman dan menatap wajah Salman dengan penuh cinta.
//Jangan katakan itu. Mas pantas menerima ucapan terima kasih, bahkan sangat pantas.// ucap Asyi tersenyum.
//Tapi Mas hari ini harus menikah dengan wanita lain// ucap Salman menatap Asyi penuh makna.
Seketika wajah Asyi menjadi murung kembali. Kata-kata Salman langsung membuat Asyi drop, mood nya yang semula baik kini menjadi buruk. Dengan segera ia melepaskan tangannya dari Salman. Ia langsung membuka mukenanya dan melipatnya. Ia berjalan untuk meletakan kembali mukena dan sajadahnya.
__ADS_1
Perasaannya kian buruk, hatinya kini diselimuti awan hitam, yang seketika akan menghasilkan sayatan di hatinya dan air mata yang membasahi pipinya.
Asyi berusaha tenang dan membendung air matanya. Ia tak ingin memperlihatkan betapa hancurnya hatinya mendengar suaminya hendak menikahi wanita lain. Ia selalu tak bisa berakting senang dengan situasi yang sedang terjadi. Sungguh, hanya Allah yang tau betapa kerasnya usaha Asyi untuk menutupi kesedihannya dan berusaha mengikhlaskan suaminya menikahi wanita lain. Bahkan ia sempat berdoa agar cintanya terhadap Salman dipudarkan. Ia tak sanggup harus berperang perasaan setiap detik. Namun ia terlalu lemah untuk itu, semakin ia menjauh semakin kuat rasa cintanya, semakin ia mencoba tegar dan mengikhlaskannya, semakin besar pula keegoisannya. Ia merasa sangat egois, bahkan ia tak bisa mengontrolnya. Meskipun ia sadar, apa yang dilakukannya itu salah, dan tak pantas untuk seorang muslimah.
Keikhlasan sangat mudah diucapkan, tapi sangat sukar dilakukan. Semua orang bisa mengucapkan ikhlas, tapi tidak semua orang bisa melakukan sesuatu ataupun menerima apapun itu dengan ikhlas. Karena perkara ikhlas itu tersirat bukan tersurat.
Salman menatap Asyi yang pergi meninggalkannya, ia hanya mengucapkan //Maafkan Mas. Maaf untuk semuanya//.
Asyi memalingkan wajahnya dan tersenyum melihat Salman. Ia berusaha tersenyum meskipun hatinya masih terasa sangat sakit.
//Mas gak usah minta maaf. Semuanya sudah menjadi takdir diantara kita// ucap Asyi lembut penuh makna.
Salman mengangguk sedikit kepalanya.
//Mas lapar?// tanya Asyi berdalih.
//Lumayan// ucap Salman singkat.
//Kalau begitu, ayo kita turun// ucap Asyi sambil tersenyum.
Salman mengangguk kepalnya. Ia langsung berjalan mengikuti Asyi.
__ADS_1
Asyi sesekali menatap wajah Salman, meskipun ia sangat bahagia bisa akur lagi dengan Salman, tapi itu tidak menutup kemungkinan luka hati Asyi terbuka kembali. Pasalnya hari ini adalah hari dimana ia benar-benar harus bisa merelakan posisinya sebagai istri satu-satunya Salman harus ditempatkan oleh wanita lain. Ia harus tegar dengan semua badai rumah tangga ini, demi calon buah hatinya ia sanggup gak sanggup namun harus sanggup berada di samping Salman, meskipun berbagai keluhan datang. Namun apa boleh buat, disini pemeran utamanya Salman. Dia yang berhak memutuskan segalanya. Sedangkan Asyi hanya sebagai pendukungnya. Meskipun itu menyakitkan, tetap harus mendukung suaminya. Kata-kata "Balasan surga" selalu menempel di kepala Asyi yang mampu menompang hatinya, meskipun terkadang ia sulit untuk menghadapinya.
Permasalahan rumah tangga itu rumit, sangat rumit. Bahkan lebih rumit dengan merajut menggunakan benang yang kusut.