Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 25 : TERBONGKAR


__ADS_3

//Siapa ini Tan ?// tanya Intan memegang foto .


Mama terus terdiam dan meneteskan air matanya.


//Loh kok Tante nangis ?// tanya Intan bingung.


//Gak kok Intan. Ini bukan siapa siapa kok// Mama mengambil fotonya dan memasukan kembali ke dalam kotak.


Mama menghapus segera air matanya dan tersenyum.


Intan kebingungan, lalu dengan berani menanyakannya.


//Tante baik baik saja kan ?// tanya Intan mendekati.


//Iya, tante baik kok// tutur Mama menoleh ke Intan.


Intan hanya mengangguk kepala.


//Nak Intan, Tante baru ingat kalau hari ini Tante ada janji sama kawan tante. Jadi Tante gak bisa temani Intan di rumah// ucap Mama berbohong.


//Iya gak apa-apa Tante, kalau begitu Intan pamit aja ya Tante, lagian Intan juga ada janji sama teman// jelas Intan dan beranjak pergi.


//Maafkan tante ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya sayang// ucap Mama lembut.


Intan mengangguk kepala


//Assalamualaikum Tante//


Muah muah. Intan mencium kedua pipi Mama.


//Wa'alaikumsalam warahmatullah. Salam sama mamamu ya// ucap Mama melepaskan kepergian Intan.


Mama melihat mobil Intan melaju meninggalkan rumahnya dan segera menutup pintu.


Asyi berjalan ke ruang tamu dengan nampan berisi Jus dan kue untuk tamu, bingung melihat ke sofa tidak didapati seorangpun.


Mama berjalan mendekati Asyi.


//Ma, tamu kita kemana?// tanya Asyi lembut sembari meletakkan nampan di atas meja dan berdiri menatap ke arah Mama berjalan ke arahnya.


Plak..plak..


//Kenapa Mama menampar Asyi ?// Asyi terkejut dengan pipinya lebam.


//Kenapa katamu ? Itu pantas untukmu// tegas Mama marah.


Asyi kebingungan dengan sikap Mama yang begitu aneh hari ini.


//Dasar kamu pelacur. Berapa banyak lelaki yang sudah kamu tiduri sebelum kamu menikahi anak saya// Teriak Mama melotot ke arah Mira.


Mira terkejut dan meneteskan air matanya.

__ADS_1


//Ma, apa maksud Mama ?// ucap Mira lembut menahan tangisnya.


Mama mengambil foto tadi dan melempar ke wajar Asyi.


//Itu kamu lihat sendiri//


Asyi terkejut melihat foto itu dan air matanya semakin mengalir.


//Ma.. Maafkan Asyi, maafkan Asyi yang tak pernah jujur kepada Mama tentang masa lalu Asyi// Asyi berlutut di kaki Mama dengan air mata membasahi cadarnya.


//Lepaskan saya, saya tak pantas disentuh oleh pelacur sepertimu// Tegas Mama mendorong Asyi.


//Ma.. Maafkan Asyi ma, maafkan asyi// Asyi masih berlutut di kaki Mama.


//Simpan saja maaf mu, sekarang kamu bereskan barang dan keluar dari rumah saya// ucap Mama sambil menunjukkan jari telunjuk ke arah pintu.


//Rumah saya tidak punya tempat untuk wanita menjijikan sepertimu//


//Tapi Ma..// timpa Asyi berdiri


//Kamu sengaja menutup dirimu biar kelihatan baik dan anak saya mau menikahimu kan ? Dasar perempuan gak tau diri// Mama semakin marah.


Asyi hanya menangis dan berjalan ke kamar mengemas bajunya.


-----


Asyi turun dari tangga dengan sebuah koper dan meneteskan air matanya berjalan mendekati Mama.


//Ma, Asyi minta maaf atas sikap Asyi yang kurang berkenan di hati Mama selama ini//


//Ma, Terimakasih atas semua kebaikan dan perhatian Mama untuk Asyi selama ini. Bagi Asyi, Mama itu bukan hanya sekedar mertua Asyi, tapi Mama itu udah Asyi anggap sebagai Mama Asyi sendiri. Asyi akan mengenang semua kebaikan yang Mama berikan kepada Asyi. Asyi selamanya gak akan pernah membenci Mama, Asyi mencintai Mama selamanya seperti Asyi mencintai Mama kandung Asyi sendiri//


//Ma, Asyi pamit ya. Jaga kesehatan Mama ya. Assalamualaikum// Ucap Asyi suara serak dengan air mata yang terus mengalir membasahi cadarnya.


Asyi beranjak pergi meninggalkan Mama dengan hati yang hancur.


Sesampai di gerbang pintu, Asyi menoleh ke belakang dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


//Ya Allah kuatkan hati hambamu ini// gumam Asyi melangkah pergi.


Sesaat setelah taksi sampai, Asyi langsung naik dan hanya melihat rumahnya dari kaca jendela hingga tak terlihat lagi.


//Mbak mau kemana ?// tanya supir taksi


Asyi hanya menangis tersedu sedu.


//Ya Allah kemana Asyi harus pergi, Asyi gak mungkin kembali ke pesantren, ini akan menjadi beban untuk mereka ya Allah, tolong hambamu ini ya Allah// Gumam hati Asyi dengan air mata yang terus mengalir.


Tiba-tiba Asyi teringat orangtuanya.


//Pak kita ke Pemakaman// ucap Asyi serak.

__ADS_1


Sesaat kemudian


//Bu kita sudah sampai// Ucap Supir taksi menoleh ke belakang.


//Bapak tunggu disini ya// Ucap Asyi sambil membuka pintu.


//Iya bu//


Asyi beranjak ke pemakaman orangtuanya. Sesampai disana Asyi membacakan yasin dan berdoa kemudian beranjak pergi.


Asyi kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanannya ke rumah yang pernah ia dan Mamanya tinggal ketika Papa mengusir Asyi dan Mamanya karena hasutan dari Ibu tirinya.


Kini Asyi telah sampai di rumahnya. Asyi melihat sekeliling rumahnya, tidak ada yang perubahan, semuanya sama seperti dulu saat ia tinggal dengan Mamanya.


Air mata Asyi terus mengalir karena kerinduannya terhadap Mamanya seiring langkah kaki menuju rumah.


Tok..tok..tok..


//Assalamualaikum//


//Wa'alaikumsalam warahmatullah//


Bibi membuka pintu.


//Neng Asyi// ucap bibi Ina


Asyi menolek ke bi Ina dan langsung memeluknya dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


//Bibi, Asyi rindu sekali sama bibi// melepas pelukannya.


//Ayo masuk dulu, kita ngobrol di dalam saja//


/Sini kopernya biar bini yang bawa//


Asyi dan bibi beranjak ke ruang tamu. Asyi melangkahkan kakinya dengan pandangan melihat sekeliling ruangan, sesekali terisak tangis kerinduan pada Mamanya.


Asyi berjalan mendekati dinding yang masing terpajang foto keluarga bahagia, Asyi bersama Mama dan Papanya.


Air mata kerinduan terus mengalir meskipun Asyi baru pulang dari pemakaman kedua orangtuanya.


//Neng rindu ya sama Tuan dan Nyonya?// Tanya Bi Ina mendekat Asyi.


//Iya Bi, bahkan Asyi sangat rindu sama mereka// Ucap Asyi mata menatap foto.


//Neng, semuanya milik Allah dan kembali kepada Allah. Jika Neng rindu dengan Tuan dan Nyonya, Neng wudhu, sholat dan berdoalah sama Allah untuk Tuan dan Nyonya agar Tuan dan Nyonya bahagia di alam sana karena meninggalkan anak yang shaleha yang selalu berdoa dan pahala terus mengalir untuk mereka// tutur lembut Bi Ina.


//Anak shaleha Bi ? Asyi anak shaleha Bi ? Bi Ina salah, Asyi ini anak durhaka, Mama diusir Papa karena Asyi, Papa meninggal juga karena Asyi. Mungkin inilah balasan Allah kepada Asyi, semua yang Asyi cintai telah pergi dan bahkan membenci Asyi.// ucap Asyi menangis.


//Neng istigfar, jangan bicara seperti itu. Tuan dan Nyonya tidak pernah menyalahkan Neng. Ini semua sudah menjadi Qada' dan Qadar. Ikut Bi Ina, kita shalat biar hati Neng tenang// Ucap bibi penuh pengertian.


Asyi beranjak pergi dengan Bi Ina untuk melaksanakan Shalat dan berdoa kepada Allah.

__ADS_1


__ADS_2