Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 60 : KEMESRAAN


__ADS_3

Semua kebahagian kini menyelimuti pasangan Salman dan Asyi. Hari-hari mereka dipenuhi dengan hal-hal romantis hingga membuat semua yang melihatnya merasa iri dengannya.


Asyi mulai begelut dunia bisnis. Sebagai seorang direktur utama, ia memiliki kharisma kuat. Bahkan ilmu-ilmu yang ia miliki kini dapat digunakan dengan baik. Banyak tender ia menangkan bahkan ia mampu menyelamatkan perusahaannya yang hampir bangkrut.


Namun itu semua tak lepas dari bantuan sang suami di belakangnya. Mereka saling menyokong satu sama lain. Bahkan ide-ide brilian keduanya sering dikeluarkan saat keduanya sedang membahas bisnis. Mereka melakukannya dengan santai dan ikhlas sehingga tak kelihatan kelelahan di wajahnya.


Setiap pagi Salman mengantar istrinya ke kantor. Membuka pintu mobil, membiarkan istrinya mencium punggung tangan suaminya dan tak lupa Salman membalasnya dengan kecupan di keningnya. Tak peduli berapa banyak mata yang memandang mereka, mereka selalu melakukan rutinitasnya bahkan Salman sempat memutar balik mobilnya jika lupa mencium kening istrinya.


Semuanya dilakukan sebagai bukti cinta keduanya. Bahkan romantisme keduanya dipublikasikan untuk mengurungkan segala niat buruk pihak luar dalam hubungan mereka.


Salman turun dari mobil sportnya berjalan ke ruang Asyi. Mata semua karyawan wanita terbelalak melihat ketampanan Salman saat melewati mereka. Pesona Salman tidak bisa dipungkiri, banyak wanita patah hati karenanya.


Tok..tok..tok..


//Masuk// ucap Asyi yang sedang sibuk melihat laporan di atas meja.


//Assalamualaikum bu, saya ingin membahasa beberapa project dengan ibu, apa ibu ada waktu?// tanya Salman lembut.


//Maaf Pak, sekarang jam makan siang. Silakan balik nanti saja// ucap Asyi tanpa melihat Salman. Asyi tak ingin ketika jam makan siang ada orang yang menganggu dengan membahas project tanpa membuat janji.


//Benarkah?// ucap Salman berjalan menghampiri Asyi dan mencolek wajahnya.


//Bapak jaga sikap ya!// ucap Asyi meninggikan suaranya dan menoleh Salman dan membuatnya kaget.


//Haruskah bu?// tanya Salman menggoda Asyi sambil duduk di atas meja Asyi.


//Ah.. Mas! Jahat// ucap Asyi memukul dada Salman.


//Loh, ibu pukul saya. Duh kejam sekali ibu// Goda Salman.


//Mas ini// ucap Asyi geram dan mencubit pinggang Salman.


//Auww.. Sakit sayang// jerit Salman.


//Biarin, lagian siapa suruh goda-goda Asyi// ucap Asyi kesal.


//Ini yang dinamakan goda// ucap Salman melepaskan cadar Asyi dan mencium bibirnya.


//Mas, ini di kantor// ucap Asyi sambil melepaskan ciuman Salman.


//Biarin, siapa yang mau pergok suami istri lagi mesum// ucap Salman tersenyum.


//Mas ini ya bener-bener. Entah kesambet apa tadi di jalan// ucap Asyi malu.


//Kesambet pengen makan kamu// bisik Salman.


Asyi merasa dirinya benar-benar telah tergoda dengan omongan Salman sehingga pipinya kian merah merona. Namun tak ingin merasa kalah dari suaminya, Asyi berusaha bangun dan menatap wajah Salman dari dekat, bahkan hidung mancung keduanya saling bersentuhan. Asyi memegang lembut wajah Salman.


//Kita lanjut di rumah saja nanti// ucap Asyi lembut dan mencium bibir Salman, kemudian duduk berusaha duduk kembali, namun tangan Salman merangkul pinggang Asyi agar tubuhnya bisa terus berdekatan.


//Kalau begitu ayo kita pulang dan tuntaskan di ranjang// ucap Salman tersenyum.


//Apa Mas gak bisa menahan sedikit hasrat Mas?// tanya Asyi lembut.

__ADS_1


//Sayang yang menggoda, dan sayang harus bertanggung jawab// ucap Salman lembut.


//Baiklah, lepaskan tangan Mas. Biar Asyi lanjutkan pekerjaan Asyi sedikit lagi, kemudian kita pulang// pinta Asyi tersenyum manja.


//Bagaimana kalau dengan sekali ciuman mesra?// tawar Salman.


//Benarkah?// tanya Asyi.


Salman mengangguk kepalanya.


//Asyi takut Mas ketagihan dan malah kita langsung ke hotel tanpa makan dulu.// ucap Asyi.


//Jika itu harus, kenapa tidak?// ucap Salman.


Asyi tersenyum dan langsung mencium Salman.


//Bu ini ada bebe..ra..pa// ucap sekretaris Asyi terpotong karena melihat Salman dan Asyi sedang berciuman, namun tak terlihat nyata karena wajah Asyi terhalang dengan kepala Salman.


Mendengar suara sekretarisnya Asyi langsung melepas ciumannya, namun tak langsung menatap sekretarisnya karena tidak ingin wajahnya terlihat.


//Bu Maaf mengganggu// ucap sekretaris sambil memalingkan wajahnya.


//Ada apa?// tanya Asyi yang masih menyembunyikan wajahnya di dada Salman.


//Ini bu, saya butuh tanda tangan ibu// ucap sekretaris Asyi menundukkan wajahnya.


//Letakkan di mejamu. Biar nanti saya yang tanda tangan. Kamu boleh pergi// ucap Asyi.


//Huff..huff..huff.. Hampir saja// ucap Asyi nafas tersengal-sengal dan kembali duduk.


//Hahaha// Salman tertawa melihat ekspresi Asyi.


Asyi merasa kesal berusah meraih kertas dan meremesnya kemudian melempar ke wajah Salman.


Brak..


Salman malah tertawa terbahak-bahak. Sikap Salman kembali membuat Asyi kesal dan mencubit hidung Salman.


//Auww.. sayang lepasin// jerit Salman.


//Biarin// ucap Asyi kesal.


//Auww// jerit Asyi saat Salman merenggut tubuh Asyi kedalam pelukannya.


//Mau lagi?// goda Salman tersenyum.


//Lepasin Mas, malu dilihat orang// ucap Asyi berusaha melepas tangan Salman.


//Gak mau// ucap Salman manja.


//Iiihh.. Bener bener dah ya// ucap Asyi geram.


//Cium dulu// Goda Salman.

__ADS_1


//Gimana kalau kita makan dulu// dalih Asyi membolak balik matanya.


//Ok. Kali ini Mas lepaskan// ucap Salman melepaskan Asyi dan kembali berdiri di sampingnya.


Asyi merapikan kembali pakaiannya dan memakai cadar.


//Sini biar Asyi bantu// ucap Asyi membantu Salman merapikan bajunya.


//Terimakasih sayang// ucap Salman tersenyum.


Asyi membalasnya dengan tersenyum dan mengambil tas di mejanya.


//Ayo mas// ucap Asyi menggandeng tangan Salman.


Salman menganggukan kepala dan tersenyum.


Keduanya berjalan keluar dengan mesra.


//Oh ya Mas, tunggu sebentar// ucap Asyi berjalan ke meja sekretaris.


//Ayo// ucap Asyi merangkul lengan Salman.


Keduanya berjalan dengan tangan Asyi yang melingkar di lengan Salman. Semuanya mata tertuju pada mereka.


//Aku malu banget// ucap Sekretaris mengusap wajahnya.


//Loh kenapa?// tanya salah satu karyawan


//Aku gak sengaja masuk ke ruang bu Asyi// ucap Sekretaris menyesal.


//Bukannya kamu sering keluar masuk ruangan beliau?// tanya salah satu karyawan bingung.


//Iya sih. Tapi masalahnya aku ngelihat bu Asyi sama suaminya lagi bermesraan// ucap sekretaris lesu.


//Hah? Kok bisa?// tanya salah satu karyawan kaget.


//Aku gak sengaja masuk, lagian siapa suruh pintunya gak di tutup// jelas sekretaris.


//Hemmm// dehem Salman yang sedang berdiri di depan mereka. Membuat mereka terkejut.


//Lain kali jangan suka bergosip di kantor// ujar Salman menatap mereka.


//Maaf Pak, Bu// ucap Sekretaris dan salah satu karyawan sambil menunduk wajahnya.


Salman mengangguk kepala dan beranjak pergi bersama Asyi.


//Huff.. hampir mati aku// ucap Sekretaris mengelus dadanya.


//Mereka mesra banget ya// ucap salah satu karyawan matanya masih terus memandang Salman dan Asyi.


//Kamu mah// ucap sekretaris kesal.


Salman membuka pintu mobil dan mempersilakan Asyi masuk. Kemudian berjalan menuju sebuah restoran.

__ADS_1


__ADS_2