
Di dapur.
Asyi bersama dengan Keysha dan Mira telah selesai memasak makanan dengan porsi yang cukup besar, itu cukup untuk mereka semua, bayangkan saja, kalau biasanya mereka hanya berempat di rumah kecuali pembantu, sekarang sudah bertambah 5 orang lagi, wah pasti penuh meja makannya.
//Kalian sajikan di atas meja, biar Asyi panggil mereka//. Asyi melepaskan celemeknya dan melangkah pergi ke ruang tamu.
//Ma, Pa, tan, ayo kita makan// tutur Asyi lembut.
Asyi kemudian mengarah matanya pada sofa yang tadi ditempati ketiga pemuda tersebut.
//Kamu mencari mereka? Mereka lagi di kamar// ucap Papa bangun dari tempat duduknya.
//Papa, Mama sama tante langsung ke ruang makan aja, biar Asyi panggil mereka// ucap Asyi lembut yang beranjak pergi menelusuri anak tangga hingga sampai di kamarnya.
Ia mencoba membuka kamarnya untuk mencari Salman, namun is tidak ada disana, kemudian ia mencari ke seluruh sudut kamar pun tidak ada, hingga akhirnya ia berjalan ke walk in closet, karena berpikir suaminya pasti sedang berada disana untuk mengganti pakaiannya.
Sampai disana ia pun tidak menemukan Salman.
//Kemana Mas Salman sebenarnya, kenapa dari tadi gak ada// gerutu Asyi kesal.
Salman keluar dari kamar mandi hanya melilit handuk di pinggangnya berjalan ke walk in closet, ia terdiam saat istrinya gerutu kesal karena mencarinya. Dengan jailnya dia langsung memeluk erat punggung Asyi, dan meraba seluruh tubuhnya.
//Lepaskan// Asyi memberontak berusaha melepaskan pelukan suaminya.
//Gak mau// ucap Salman melepaskan cadar Asyi dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih melilit di pinggang Asyi.
//Jangan macam-macam, Asyi kesini bukan untuk melayani nafsu Mas// ketus Asyi kesal.
//Kenapa sayang jadi ketus begini// Salman membalikkan tubuh Asyi dan mengangkat dagunya agar tatapan mereka sejajar.
//Asyi masih marah sama Mas, jadi jangan sentuh Asyi// Asyi menepis tangan Salman dengan bibir yang mengerucut.
Salman menyungging bibirnya dan langsung mencium bibir Asyi. Asyi berusaha mendorongnya dan malah Salman menekan dengkul Asyi agar ia bisa bercium lebih lama dengannya. Asyi memiliki cara sendiri untuk mengakhirinya, dengan segera ia cubit pinggang Salman. Salman segera melepaskan ciumannya. Asyi tersenyum bahagia karena ia mereka sudah berhasil dengan segera ia melangkah kakinya untuk pergi dari hadapan Salman.
Salman langsung berlari ke arah pintu dan menguncinya. Asyi tercengang melihat sikap aneh Salman.
//Balikin kuncinya// Asyi menadah tangannya kesal dengan Salman.
Salman berjalan mendekati Asyi dengan menenteng kunci di tangannya.
//Sayang mau ini?// tanya Salman bersenyum menggoda.
Salman menenteng kunci di depan Asyi lalu ketika Asyi hendak mengambilnya, malah ia angkat tangannya tinggi-tinggi.
//Udah Mas, balikin sini. Semua orang nunggu kita di bawah// ucap Asyi melompat-lompat untuk meraih kunci di tangan Salman.
Salman tertawa terbahak-bahak melihat istirnya yanh dari tadi berusaha mengambil kunci dari tangannya.
Asyi merasa kesal dengan Salman yang menertawakannya akhirnya ia menyudahinya.
//Tertawa terus, senang ya// Asyi kesal dengan bibirnya yang terlihat manyun, namun begitu menggemaskan.
//Kasihan istri mungilku// ledek Salman sumringah.
//Ledek terus// gerutu Asyi kesel.
Salman merasa sangat geram dengan istrinya dengan segera ia melepas hijab Asyi lalu ia menggendong istrinya dan membaringakannya di atas kasur, kemudian ia menindihnya.
//Mas, jangan macam-macam// ucap Asyi gugup.
__ADS_1
//Gak macam-macam, cuma satu macam saja. Layani Mas// ucap Salman mencium leher Asyi.
//Mas tau, Asyi sangat marah dengan Mas// ucap Asyi menatap sinis Salman.
//Iya, mas tau, tapi mas mau// ucap Salman kembali mencium kening Asyi.
//Egois// ucap Asyi kesal.
Salman dengan segera mengakhiri cumbuannya dan menatap Asyi dengan jarak yang sangat dekat. Ia mengernyitkan keningnya bermaksud untuk menanyakan apa maksud istrinya mengatakan dia egois. Namun Asyi malah memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menatap suaminya yang begitu tampan baginya, ia tetap harus memberi pelajaran untuk suaminya.
//Maafkan Mas//
//Hmm//
//Jangan ngambek dong//
Asyi menoleh Salman langsung memalingkan kembali wajahnya.
//Ngapain sih ngambek-ngambek, kan mas gak jadi nikah juga sama Intan//
//Tapi Mas udah bikin hati Asyi hancur//
//Ya maaflah, Mas gak bermaksud menyakiti hati mu dan anak kita sayang// ucap Salman masih **** Asyi namun tangannya mengelus lembut perut Asyi.
//Bagaimana Mas bisa tau?// Asyi gugup.
//Iya tau dong sayang, itu bukan hal yang rumit// Salman tersenyum sumringah.
//Coba jelaskan sama Asyi tentang semuanya// pinta Asyi memohon.
//Baik, tapi setelah ini// ucap Salman tersenyum sambil mencium leher Asyi.
//Gak bisa Mas, mereka menunggu kita di bawah, dan lagian Mas juga harus ke masjid// ucap Asyi menolak Salman.
//Gak mau, Mas pun belum jawab pertanyaan yanh tadi//
//Yang mana?//
//Kenapa Mas bisa berakting begitu profesional dan dari mana Mas tau kehamilan Asyi//
//Tawaran dari pertanyaan sayang hanya ini. Setelah ini, baru sayang tau alasannya// ucap Salman kembali mencium lehernya.
//Siapa yang bikin tawaran, jika Mas gak mau kasih tahu, kita gak usah tinggal sekamar lagi//
//Sayang mau bikin mas puasa?//
//Bisa jadi kalau Mas keras kepala begini//
//Tapi Mas minta itu doang, lagian apanya yang salah//
//Gak salah, hanya kesal saja//
//janganlah kesal begitu, kasihan anak kita//
//Anak kita juga benci sama Papanya, Papanya yang bikin mamanya nangis tiap saat//
//Ok, Mas bakal kasih tau semuanya, tapi cium dulu dong// Asyi mengancam Salman dengan tatapan yang tajam.
//Jelaskan semuanya atau Mas gak dapat jatah selamanya//
__ADS_1
//Okokok.. Mas jelaskan// ucap Salman merebahkan tubuhnya di samping Asyi kemudian tangannya melingkar di pinggang Asyi.
//Mas tau sayang hamil ketika sayang pingsan di rumah sakit, Mas ingin menolongmu tapi gak bisa karena Mas harus berusaha bersikap dingin terhadapmu, saat itu mas yang suruh suster untuk menolongmu dan juga memerhatikanmu dari jarak jauh// ucap Salman sambil mencium aroma rambut Asyi, meskipun berhijab dan selesai masak, dia tetap wangi.
//Lalu kenapa Mas gak langsung beritahu Asyi?// tanya Asyi penasaran.
//Ini ide mereka, kata mereka Mas harus akting seperti aktor, untuk meyakinkan mereka semua kalau Mas ini marah terhadapmu.//
//Tapi kan bisa juga terus terang, Asyi gak bakal bocor kok//
//Sayang, kami gak bisa terus terang, nantinya kalian para wanita khilaf, rusak deh rencana kami. Sayang tau? Mas sangat tersiksa berpura-pura benci kepadamu, bahkan Mas sangat sedih ketika sayang sakit semalam, rasanya Mas ingin menyudahinya, tapi tinggal selangkah lagi, akhirnya Mas urungkan niat mas.//
Asyi tertegun mendengar semua penjelasan Salman, ia membalikan tubuhnya agar menatap wajah Salman dengan sempurna.
//Tapi Asyi tetap berterima kasih sama mas karena mas udah ngerawat Asyi semalam// Asyi tersenyum sambil mengelus pipi Salman dengan lembut.
//Sama-sama sayang// Salman tersenyum manis. Kemudian ia berusaha mencium bibir Asyi namun tertunda karena suara ketukan pintu.
Tok..tok..tok..
Asyi tersenyum melihat wajah Salman berubah menjadi kesal.
//Kak Asyi cepat turun, kami semua udah lapar ni// ucap Mira di balik pintu.
//Tuh dengar, mereka sudah menunggu menunggu kita. Cepat kenakan pakaian Mas, Asyi tunggu Mas di bawah.// ucap Asyi sambil tersenyum sumringah.
//Biarkan saja mereka, kita lanjutkan ini dulu//
//Jangan egois, kita masih banyak waktu untuk bersama// ucap Asyi melepas pelukan Salman.
//Jangan keluar dulu, kita keluar bersama// ucap Salman segera ke walk in closet untuk memakai pakaian.
Asyi hanya tersenyum melihat kekonyolan yang terjadi. Ia segera merapikan pakaiannya dan memakai hijab dan cadar yang dibuka paksa suaminya.
//Kak.. Abang.. Cepat dong keluar// pekik Mira.
Asyi mengambil kunci di nakas yang tadi di letakkan Salman, kemudian ia berjalan untuk membuka pintu.
//Kak, ayo cepat, kita udah lapar ni// Mira merajuk.
//Kamu duluan aja, kakak tunggu Mas Salman dulu ya// ucap Asyi lembut.
//Ok, tapi jangan lama-lama loh// ucap Mira kesal.
//Iya// ucap Asyi.
Tiba-tiba Salman datang dan berdiri di smping Asyi.
//Nah, ayo turun// ucap Mira menatap Salman.
tak.. Salman menjitak kepala Mira.
//Udah punya suami tapi masih aja suka gangguin orang pacaran//
//Bodoh amat, lagian siapa suruh pacaran siang siang begini, orang pacaran malam, dingin dan romantis//
//Suka-suka abang dong//
//Jangan kelihatan banget udah lama puasa dong bang// ledek Mira.
__ADS_1
//Sudah jangan dilanjutkan lagi, ayo kita turun// Asyi menarik lengan Mira dan Salman.
Mereka mengikuti Asyi menelusuri anak tangga dan melangkah pergi ke ruang makan.