
\=\=\=\=
Syifa harap kalian bisa bersabar dalam menanti episode yang akan syifa Up.
Syifa berusaha keras luangin waktu buat up episodenya. Dan maaf ya gak bisa crazy up. Syifa hanya bisa up setiap selesai bikin cerita, bisa jadi sehari 1 episode, bahkan 2-3 episode, tapi bukan pada jam yang sama. So, Syifa minta maaf ya.
\=\=\=
Salman merasa bersalah terhadap istrinya. Ia berusaha mengejar istrinya.
//Mengapa kamu berubah seperti ini?// ucap Salman sambil menarik lengan Asyi.
Asyi memajam matanya sambil mengatur emosinya. Kemudian ia berbalik dan menatap wajah Salman dengan senyuman miris di bibirnya.
//Berubah? Tanyakan pada diri anda kenpa saya bisa berubah seperti ini// ucap Asyi berusaha santai.
//Bukankah kamu duluan yang menghancurkan hatiku? Dan kenapa kamu malah protes ketika aku menikah dengan wanita lain?// tanya Salman menatap Asyi dengan tajam.
//Protes? Haha.. Anda memang hebat. Saya akui saya salah karena telah berbohong kepada anda. Tapi apakah ini hukuman yang pantas anda berikan kepada saya? Saya tidak berpaling dari anda, saya hanya menyelesaikan masalah saya dengannya, tapi kenapa anda begitu kejam terhadap saya?// ucap Asyi penuh amarah dan tak kuasa menahan bendungan air mata yang sudah memenuhi matanya.
//Saya mungkin kejam. Tapi ini semua karenamu// ucap Salman sinis.
//Mas, masih adakah rasa cinta di hatimu? Masih adakah aku di dalam hatimu?// lirih Asyi penuh harapan.
Salman memilih bungkam tak ingin menjawab pertanyaan Asyi.
//hehe.. Baiklah, Asyi bisa menyimpulkan dari diamnya Mas. Mari Asyi antarkan Mas ke pernikahan Mas// ucap Asyi tersenyum miris.
//Mas masih sangat mencintaimu, tapi maaf, maafkan Mas// bathin Salman menatap Asyi sekilas karena ia tak ingin terlihat rapuh.
Asyi menarik lengan Salman dan berjalan beriringan. Ia menghapus air matanya dan berjalan dengan senyuman di bibir yang tertutup cadar. Ia mencoba memancarkan aura kesenangan di matanya, meskipun orang yang jeli pasti tahu ia hanya bersandiwara.
Di bawah sudah ada Mama dan Papa yang menunggu mereka, sedangkan Mira dan Rama menunggu mereka di depan rumah.
Salman dan Asyi berjalan bergandeng tangan, mereka menunjukkan rumah tangga yang harmonis di depan semuanya.
//Ayo Ma, Pa kita pergi// ucap Asyi menghampiri Mama dan Papa.
Mereka menganggukan kepala dan berjalan bersama Asyi dan Salman.
__ADS_1
Mama merasa ada sesuatu hal yang aneh dengan Asyi, kemudian ia menarik tangan Asyi.
//Ada apa ma?// tanya Asyi menoleh ke Mama sambil melepas tangannya dari lengan Salman.
Salman berhenti dan menatap mereka, namun Asyi memberi kode untuk ia segera menyusul Papa.
//Apa kamu yakin dengan hari ini?// tanya Mama khawatir.
//Iya Ma. Asyi sangat yakin// ucap Asyi lembut sembari tersenyum.
//Kalau misalnya kamu gak sanggup menghadiri acara pernikahan Salman, mending kamu jangan ikut// tutur Mama khawatir.
//Gak Ma. Apapun yang terjadi, insyaa Allah Asyi sanggup Ma.// ucap Asyi lembut sembari menahan isak tangis di hatinya.
//Asal mama tau, Asyi sanggup begini karena memang gak ada hak bagi Asyi untuk mencegah Mas Salman menikahi Intan. Karena Asyi sudah tidak ada lagi di hati Mas Salman bahkan rasa cintanya pun tidak tersisa lagi// bathin Asyi.
Mama tertegun kemudian ia memeluk erat tubuh Asyi.
//Sayang, maafkan anak Mama. Seharusnya dia gak mengambil tindakan yang seperti ini// ucap Mama.
//Gak apa-apa ma, ini sudah takdir// ucap Asyi lesu.
//Asyi apakah kamu kuat melihat suamimu menikah lagi? Mengapa kamu yang mengalami hal seperti ini, malah Mama yang gak sanggup menerima kenyataan yang terjadi// bathin Mama menatap Asyi penuh dengan kasihan.
Mama dan Asyi berjalan beriringan menuju mobil.
Mama masuk ke dalam mobil bersama Papa, dan Asyi bersama dengan Salman dengan mobil sport Salman. Begitu juga dengan Mira dan Rama, mereka satu mobil berdua.
Dalam perjalanan Asyi tak satu katapun ia ucapkan, suasana menjadi sangat hening sampai ke kediaman Intan.
Disana sudah berkumpul seluruh keluarga Intan.
Mereka yang sudah tiba langsung masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan tante Faridah dan Keysha langsung masuk beriringan.
Salman sengaja memilih akad di kediaman Intan, karena ini merupakan pernikahan yang ke dua, ia pun tidak ingin membuat heboh seluruh dunia maya.
Bagaimana tidak, seorang CEO muda, tampan dan mapan menjadi bahan pembicaraan para netizen, bahkan sebelum acara saja sudah tersebar berita pernikahan mereka.
Salman duduk di depan penghulu. Kemudian Intan yang diantar mamanya untuk duduk di samping Salman. Papanya Intan dan Papanya Salman menjadi saksi.
__ADS_1
Asyi duduk bersama dengan Mama, tante Faridah, Mira dan Keysha.
//Key, Ari mana?// tanya Mama menatap Keysha.
//Mas Ari lagi ke luar kota tan// ucap Keysha lembut sambil tersenyum.
Mama mengangguk kepalanya dan kembali menatap Salman dan Intan.
//Salman Alfarisyi bin Yusuf Alfarisyi. Apakah kamu bersedia menikahi Intan Bramantio binti Bramantio?// Tanya Penghulu menatap wajah Salman.
//Iya, saya siap// ucap Salman tanpa keraguan.
Dag.. Jantung Asyi kembali berdetak. Rasa sakitnya kembali terasa. Air matanya sudah memenuhi matanya, ia menatap langit agar air matanya tidak tumpah. Serasa jantungnya itu berhenti mendengar kata siap dari suaminya.
//Ya Allah, kuatkan hati hamba. Jangan biarkan hambar terjerat lebih dalam lagi dengan luka ini. Tolong hamba ya Allah, sesungguhnya hamba ini wanita yang lemah yang dipenuhi dengan rasa cemburu// bathin Asyi.
//Sayang jika kamu gak sanggup melihat proses akad suamimu, mari ikut tante keluar// lirih tante Faridah menggenggam tangan Asyi.
//Gak tan. Insyaa Allah Asyi sanggup kok// lirih Asyi tersenyum miris.
//Jangan bohong, ayo kita keluar// Tante menarik tangan Asyi.
//Gak tan. Kita gak bisa meninggalkan acara ini begitu saja// ucap Asyi berusaha melepas tangan dari tante Faridah.
//Ya Allah, kenapa kamu sangat keras kepala// lirih Tante memijat pelipisnya.
Asyi tersenyum dan kembali menatap Salman dan Intan.
//Intan Bramantio binti Bramantio, apakah kamu sudah siap menikah dengan Salman Alfarisyi bin Yusuf Alfarisyi ?// tanya penghulu menatap wajah Intan.
//Saya sudah siap// ucap Intan cengengesan.
//Ya Allah, sebentar lagi suami hamba akan resmi menikahi Intan. Bagaimana dengan hatiku? Apakah aku sanggup melewati ujian ini? Asyi, sadar Asyi.. Sadar..kamu harus kuat, ingat suamimu tidak lagi mencintaimu."bathin Asyi.
//Baiklah. Ikuti ucapan saya// ucap penghulu berjabat tangan dengan Salman.
//Bismillahirahma nirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan Salman Alfarisyi bin Yusuf Alfasyi dengan Intan Bramantio binti Bramantio dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cincin berlian 25 karat dibayar tunai// ucap penghulu.
//Saya terima nikah dan kawinnya Intan Bramantio binti Bramantio dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cincin berlian 25 karat dibayar tunai// ucap Salman dalam satu tarikan nafas.
__ADS_1
//Hilang sudah harapanku untuk memilikimu seutuhnya. Kini cintamu, perhatianmu, dan kasih sayangmu telah terbagi. Disini aku masih berharap kamu menoleh kepadaku dan mengatakan "Mas masih mencintai sayang sampai kapanpun. Seperti dulu kamu mengatakan kalimat tersebut setiap harinya. Sudahlah Asyi, sadarlah! itu semua hanya masalalu dan sekarang ini masa depanmu. Kamu harus tau diri, suamimu yang sekarang bukanlah suamimu yang dulu yang penuh cinta. Sekarang suamimu tak lagi mencintaimu. Semuanya telah sirna// bathin Asyi tak kuasa menahan bendungan air matanya. Ia mencengkram bajunya dengan erat, seakan ia berusaha menan perihnya luka di hatinya.