Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 86 : KEDATANGAN TANTE FARIDAH


__ADS_3

Mahendra berjalan menuju sebuah kamar yang tidak pernah diizinkan siapapun masuk kecuali pembantu untuk membersihkannya.


Ia membuka pintu dan melihat keseluruh sudut kamar. Kamar itu adalah kamar dimana tante Faridah pernah tidur bersamanya semenjak mereka menikah dan kamar itu juga yang menyisakan air mata.


Setiap hati Mahendra mengingat tante Faridah, ia selalu datang ke kamar tante Faridah. Jika ia rindu ia kerap membuka lemari dan mencium baju tante Faridah, semakin rindunya terobati.


//Faridah, kini aku telah memenuhi permintaanmu// ucap Mahendra sambil menatap foto pernikahannya dengan tante Faridah yang terpajang di dinding kamarnya.


Flashback Off:


Tante Faridah mendatangi kantor Mahendra. Ia langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa menghiarukan sekretarisnya.


Tante Faridah langsung masuk ke ruangan Mahendra tanpa salam membuat Mahendra kaget dan matanya membelalak menatap tante Faridah, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tante Faridah yang selama ini menghilang dalam hidupnya kini tiba-tiba hadir di depannya. Sungguh membuat hari Mahendra tertegun, bahan rasa bahagia dan terharunya kian bergejolak di hatinya.


//Pak maafkan saya// ucap sekretarisnya merasa bersalan lalu menunduk kepala setelah menatap tante Faridah dan Mahendra secara bergantian.


//Kamu boleh keluar, dan cegas siapapun yang datang kesini. Selama ibu ini ada di ruangan saya// ucap Mahendra tegas dengan pandang lurus menatap tante Faridah tanpa mengedip matanya.


Sekretarisnya mengangguk kepalanya dan beranjak pergi.


//Kemari, silakan duduk// ucap Mahendra penuh perhatian dan tersenyum lembut di bibirnya.


Tante Faridah langsung berjalan mengikuti arah Mahendra dan duduk di sofa, sesuai dengan keinginan Mahendra.


//Kamu mau minum apa? Biar saya suruh orang membuatkan minuman untukmu// ucap Mahendra penuh perhatian.


//Tidak perlu// ucap tante Faridah menatap Mahendra dengan sinis.


Mahendra tersenyum lembut penuh makna dengan segera ia raih telpon.

__ADS_1


//Tolong antarkan mocca latte 2 ke ruangan saya, secepatnya// perintah Mahendra pada OB.


//Baik pak// ucap OB.


Mahendra menutup telponnya dan kembali duduk di samping tante Faridah.


//Bagaimana keadaanmu?// tutur Mahendra lembut.


//Sudah jangan basa basi, karena aku datang kesini bukan untuk mendengar mulut manismu itu// ucap Tante Faridah tegas dengan tatapan sinis.


//Lalu apa yang kamu inginkan? Tidakkah kamu rindu kepadaku?// ucap Mahendra lembut dengan tatapan rindu.


//Maaf, hatiku tidak tersisa untukmu, dan jika bukan karena terpaksa, aku juga tidak sudi melihat wajahmu// ucap tante Faridah menatap dengan tajam.


Tok..tok..tok..


OB langsung masuk dan menghampiri mereka. Kemudian ia letakkan minuman di meja, lalu langsung pergi meninggalkannya dengan kode lambaian tangan yang diberikan Mahendra, yang menandakan ia harus segera keluar dari ruangan tersebut.


//Minumlah, ini minuman kesukaanmu bukan?// ucap Mahendra dengan lembut dan senyuman di bibirnya.


//Tidak, terima kasih// ucap tante Faridah datar dengan melirik Mahendra lalu memalingkan wajahnya.


Mahendra mengetahui sifat keras kepala mamtan istrinya, ia hanya menyunggingkan bibirnya, dengan senyum lembut dan hati yang sangat bahagia. Walaupun sudah tua, ia masih dapat merasakan deg degan bila bertemu mantan istrinya.


//Aku kesini ingin mengingat kamu dan anakmu.// ucap Tante Faridah dengan sorotan tajam membuat Mahendra mengernyitkan darinya.


//Tolong kamu ingatkan anakmu untuk tidak mengganggu rumah tangga keponakanku. Cukup ibunya saja yang mengganggu rumah tanggaku dulu. Dan selama aku masih hidup, aku tak akan membiarkan hal yang serupa terjadi pada keponakanku// Tante Faridah melanjutkan ucapannya dengan sorotan mata yang tajam seakan lukanya ikut terkuak kembali.


//Maafkan aku, maafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan terhadapmu// ucap Mahendra lesu dengan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


//Aku tidak butuh maafmu, yang ku butuhkan ingatkan anakmu agar tidak mengganggu keponakanku// ucap tante Faridah sambil bangun dari tempat duduknya.


//Permisi// ucap tante Faridah mengambil tasnya untuk segera keluar ruangan tersebut. Ia merasa sedikit kepanasan, bukan karena ACnya yang mati, tapi hatinya yang terasa panas, apalagi bertatap langsung dengan mantan suaminya. Seakan membuat luka lamanya kembali terkuak.


Mahendra langsung berdiri dan menarik lengan tante Faridah, membuat jantung tante Faridah kembali deg-degan, namun ia tepis perasaannya, ia tidak ingin terjerat dalam luka lama.


//Jangan pernah kamu berani menyentuh ku lagi// ucap tante Faridah melepaskan tangannya dan bergegas melangkahkan kakinya untuk keluar.


//Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu, dulu, sekarang dan selamanya//Ucap Mahendra penuh percaya diri dan menatap punggung tante Faridah dengan kelembutan dan cinta yang masih tersirat dihatinya.


Ucapan Mahendra menghentikan langkah tante Faridah, setelah ia mempercepat langkahnya dan pergi meninggalkan Mahendra.


Rasa sakit hati dan cinta kini bercampur aduk di dalam hati tante Faridah, namun rasa bencinya akan menguburkan rasa cintanya terhadap Mahendra.


Melihat Faridah yang pergi meninggalkannya. Mahendra terduduk lemas di atas sofa. Ia kembali merasakan hatinya kosong. Tak terasa air matanya menitih di pipinya. Kerinduan yang ia tanggung selama ini, akhirnya terjawab sudah, meskipun hanya sesaat tanpa ada basa-basi.


Faridah langsung berjalan ke luar kantor dan masuk ke dalam mobil. Ia termenung mengingat ucapan Mahendra kepadanya. Seakan ada yang menggoyahkan pendiriannya untuk menutup hati kepada setiap lelaki.


Benar, semenjak Faridah bercerai dengan Mahendra ia lebih memilih menutup pintu hatinya untuk semua lelaki, ia tidak ingin menghabiskan hidupnya dengan ikatan pernikahan, ia lebih ingin hidup sendiri, karena trauma yang dialaminya, ia memutuskan untuk menghabis sisa hidupnya bersama dengan keponakannya.


Mengingat Faridah yang tidak bisa lagi mengandung menjadi salah satu alasannya untuk menolak pinangan dari setiap lelaki.


Saat ia keguguran di tambah lagi dengan berbagai konflik rumah tangga hampir membuatnya depresi, namun kehadiran Asyi membuatnya kembali ceria. Itulah sebabnya kenapa tante Faridah sangat menyayangi Asyi, bahkan ia tak segan-segan melabrak orang yang menyakiti keponakannya itu.


Kini setelah Faridah telah berhasil melupakan semua yang telah terjadi dalam hidupnya, malah di detik-detik ini ia merasa gagal dengan kembali bertatap muka dengan mantan suaminya.


Kalau saja bukan demi keponakannya, sungguh ia tak akan pernah ingin melihat lagi wajah mantan suaminya itu. Bahkan ia sudah tinggal di luar negeri bertahun-tahun demi menghilangkan wajah Mahendra dalam bayang bayangannya. Tidak ada yang tau betapa sulitnya ia menghapus rasa cintanya terhadap Mahendra yang pernah hidup bersama selama 5 tahun. Kisah cinta tidak begitu lama namun bisa meracuni berasa tahun hidup Faridah. Bukan karena ia tidak setia ataupun tidak sabar, namun batas kesabarannya sudah melampaui batas sehingga sabar itu sirna dengan perlakuan buruk suami dan keluarganya, bahkan yang menyakitkannya ketika ibu Mahendra mencoba membunuh anak dalam kandungan Faridah sampai ia tak bisa mengandung untuk selamanya.


Bertahan karena saling mencintai mungkin cukup untuk memupuk kesabaran. Tapi bertahan hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, itu nihil. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Semuanya sia-sia. Karena hanya air mata dan rasa sakit hati yang menjadi teman setiap hembusan nafas.

__ADS_1


__ADS_2