Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP : 14 KEBERANIAN


__ADS_3

Tanggal pernikahan sudah ditetapkan beberapa minggu yang lalu.


Sebagai calon pengantin Mira merasa kegalauan berkepanjangan. Apalagi ia belum fitting baju pengantin. Untung dia mempunyai kakak ipar yang siap siaga yang selalu membantunya.


Hanya berdua saja, kini mereka pergi ke butik untuk melakukan fitting baju pengantin. Ternyata sampai di sana, mereka langsung disambut oleh calon mempelai pria.


Tersipu malu tak berani menatap calon suaminya, Mira terus bergandeng tangan dengan Asyi hingga mereka masuk ke dalam.


Asyi duduk dengan santai di sofa menunggu mereka mengenakan pakaian di tempat terpisah.


Keluar secara bersamaan, Asyi terpukau saat melihat mereka berdua.


Prok ... Prok ...


Tepuk tangan gemuruh terdengar seiring dengan mata yang membelalak. Asyi meraba-raba ponsel yang terletak di sampingnya, lalu mengambil gambar mereka berdua.


"Subhanallah kalian sangat serasi. Cantik dan tampan," ucap Asyi memandang hasil gambar yang diambilnya, lalu mengirim ke suaminya.


Mereka tersenyum saling memandang dan saling memuji.


"Eh, kalian cepat ganti baju lagi! Terlalu lama seperti ini bahaya juga bagi pasangan yang belum nikah," cerocos Asyi menyeringai.


Senyuman tak pernah pudar dari bibir mereka, menatap sekilas lalu kembali masuk ke dalam kamar ganti.


Meskipun singkat, tapi itu menjadi pertemuan terakhir mereka sebelum masuk masa pingit yang melarang calon mempelai pria dan wanita untuk bertemu sampai hari H.


Seorang wanita menggendong anak kecil datang menghampiri Salman dan Asyi.


"Uncle, Aunty," sapa Nora.


Salman menggendong anak kecil dalam dekapan Nora. Mencium pipi gembulnya dengan gemas.


"Kalian kapan ni punya anak?" tanya Nora menatap keduanya.


"Segera," jawab Salman dengan cepat. Asyi malah tergeming apalagi melihat Salman sangat akrab dengan anak kecil, semakin membuatnya bersalah.


Asyi pamit pergi menemui Mira yang belum keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Melihat Asyi, Mira langsung bangun dan memeluknya.


"Mbak!"


"Ada apa, Mira?" tanya Asyi menatap wajah Mira. Terlihat begitu tegang.


"Aku deg-degan, Mbak," keluhnya.


Asyi tersenyum. "Dulu Mbak juga begitu saat mau menikah sama Mas Salman ... tidak hanya Mbak ataupun kamu, semua orang juga merasakan hal yang sama."


Hati Mira perlahan menjadi tenang.


"Sebaiknya kamu tidur, biar besok bisa bangun cepat dan lebih seger." Mira mengangguk kepala, berjalan ke arah ranjang merebahkan tubuhnya di sana.


Asyi tersenyum beranjak pergi. Ia berjalan ke kamarnya, melihat Salman masih belum masuk ke kamar, ia pun berjalan ke arah balkon untuk menenangkan diri. Sudah menjadi kebiasaan ketika hatinya sedang galau, menatap bulan sambil menangis.


Ia teringat dengan semua bibir yang memintanya untuk segera memiliki momongan. Hal yang wajar, tapi ia mengutuki dirinya yang belum sanggup untuk berdamai dengan dirinya. Sungguh sangat perih.


Tak ingin terlarut dalam duka, Asyi sesegera mungkin menghapus air matanya, kembali ke kamar, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Ceklek ...


"Sayang, belum tidur?" tanya Salman sambil duduk di samping Asyi


"Belum, Mas," menggeleng kepala. "Mas, apakah Mas ingin punya anak?" tanya Asyi menatap kedua mata Salman.


Salman kaget dengan ucapan istrinya yang baru kali ini didengarnya. "Apa maksudmu, Sayang?" mengernyit kening.


"Gimana kalau kita coba dulu malam ini?" Asyi memberanikan diri.


"Sayang, yakin?" tanya Salman heran.


Asyi menganggukan kepalanya.


"Sayang, kalau kamu belum siap jangan dipaksakan! Mas rela tungguin kamu sampai kamu benar-benar siap," imbuhnya sambil membelai rambut Asyi.


"Insya Allah, aku siap, Mas." Asyi mengukuhkan niatnya.

__ADS_1


"Yakin? Nggak ada yang maksa kamu kan?" tanya Salman memastikannya.


Asyi menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita shalat!" ajak salman.


Sebelum berjimak (hubungan suami istri) Mereka melaksanakan shalat sunnah mutlak 2 rakaat dan membaca surah yusuf sesudahnya.


Asyi bergumam dalam hati seraya meminta tolong agar Allah memudahkannya.


Salman menghampiri Asyi dengan memberikan segelas minuman yang telah ia minum sedikit kepadanya.


Asyi hanya tersenyum malu sambil meminum airnya.


"Sayang, Apa kamu siap?" tanya Salman dengan lembut.


Asyi menganggukan kepalanya. Salman mendekati Asyi dan mulai mencium bibirnya dengan lembut.


Kemudian berbisik di telinga Asyi, "Jika Sayang belum siap, Sayang boleh menolaknya."


"Insya Allah, aku siap, Mas," bisik Asyi.


Salman mendekatkan jarinya dan mematikan lampunya hingga suasana kamar menjadi samar-samar dengan cahaya yang minim dari luar jendela.


"Kita baca doa dulu ya!" titah Salman yang dibalas anggukan istrinya.


"Bismillahi Allahumma jannibnasy syaithaana wa jannib syaithaana ma razaqtana."


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Salman kembali.


"Iya, Mas," jawab Asyi lembut.


Kemudian mereka melakukan hubungan suami istri dengan kelembutan dan keikhlasan hati mereka. Mereka hanya mengharap ridha dari Allah. Karena hanya keridhaan Allah yang mendatangkan pahala kebajikan dari hubungan yang mereka lakukan saat ini.


Salman dan Asyi mengakhirinya seraya berdoa, "Alhamdulillahilladzi khalaqa minal maa i basyaraa."


Salman kembali mencium kening istrinya dan membelai rambutnya. "Terima kasih, Sayang sudah memenuhi hasrat Mas malam ini," ucap Salman lembut.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas. Datangiku bilang Mas menginginkannya," ujar Asyi penuh perasaan.


Salman mencium istrinya dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, kemudian berwudhu dan tidur.


__ADS_2