
Malam hari Salman masih uring-uringan. Matanya tidak mau bekerjasama dengannya. Susah tidur, kepikiran, hati terasa sakit, membuat Salman tidak nyaman. Ia menatap wajah istrinya yang sedang tertidur, dengan wajah polosnya membuat ia tersenyum. Namun mengingat semua yang terjadi, butir airmatapun jatuh disela-sela bulu matanya.
Flashback off :
Salman membuka hpnya dan melihat semua foto Asyi. Kenangan masa lalunya hingga foto dimana disaat mereka sedang berduaan di rumah sakit. Dokter Rijal mengirim semua bunga mawar putih untuk Asyi saat di rumah sakit.
Selain itu Salman juga melihat foto saat dokter Rijal memasangkan cincin di jari manis Asyi.
Salman mencoba berdalih agar hatinya tidak terlarut dalam kecemburuan yang mengakibatkan kebencian dan keretakan dalam hubungan mereka, namun apalah daya. Semuanya semakin memanas saat Salman menemukan kotak dalam laci Asyi.
Saat mencari sesuatu yang bisa membuka bingkai fotonya, ia menemukan sebuah kotak. Kemudian ia membukanya. Dada Salman semakin sesak, ia tak mampu membendung airmatanya lagi, sehingga airmatanya mulai berjatuhan dari sela bulu mata lentiknya.
Ia mengambil sebuah cincin yang sama dengan yang diberikan Salman saat di foto itu. Kemudian ia membaca surat yang ada di dalam kotak tersebut. Airmatanya semakin berjatuhan, hatinya semakin hancur. Ia tak menyangka istrinya bisa menyimpan kenangan masa lalunya.
Tak..tak..tak.. Suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Segera Salman memasukan kembali surat dan cincinya ke dalam kotak dan mengembalikannya ke tempat semula. Ia berusaha menghapus airmatanya agar tidak ketahuan oleh istrinya.
Salman harus menutupi semuanya, ia berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia tersenyum meski hatinya menjerit. Namun semua itu harus dilakukan, ia tak ingin semuanya menjadi rumit. Cukup dia saja yang tau dan merasakan kebohongan istrinya. Ia kebohongan, Asyi yang tak pernah menceritakan tentang dokter Rijal, dan ia berbohong ketika Salman bertanya siapa pengiriman bunga mawar putih di rumah sakit. Ia selalu mengatakan dari seorang perawat wanita dan lain sebagainya.
Flashback On :
Kini Salman berusaha tenang walau sakit. Istigfar selalu menghiasi bibir merahnya hingga ia terlelap.
Matahari kian menyinari seluruh sudut ruangnya. Salman dan Asyi sudah bersiap-siap menuju kantor.
Seperti biasanya Salman mengantar Asyi ke kantor dan kembali ke kantornya.
Semuanya kerjaan mulai menggelugutinya. Salman berusaha menenangkan hati dan pikiran agar lebih fokus bekerja.
Lima menit sebelum jam makan siang, ia mencoba menghubungi istrinya menanyakan tempat makan siang.
Kring..
//Assalamualaikum sayang// ucap Salman
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// jawab Asyi.
//Sayang kita makan siang dimana?// tanya Salman lembut.
//Maaf Mas, hari ini Asyi gak bisa ikut makan siang dengan Mas// jawab Asyi lembut.
//Loh, kenapa sayang?// tanya Salman bingung.
//Hari ini ada meeting// jawab Asyi.
//Mas ikut// ucap Salman tersenyum.
//Jangan Mas.. Mas makan siang sendiri aja, nanti pulang baru jemput Asyi ya// ucap Asyi.
//Baiklah. Hati-hati ya. Assalamualaikum// ucap Salman mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
//iya Mas.. Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Asyi mengakhiri panggilannya.
Salman kembali bekerjanya melihat beberapa berkas di mejanya dan menandatangani.
Drrrtt... Sebuah pesan masuk dari hp Salman.
Salman mengambil hpnya dan membuka pesan.
Nomor tidak dikenal :
"Jika kamu ingin tau istrimu ada dimana sekarang, maka datanglah ke taman pinggir kota."
//Siapa lagi sih ini?// ucap Salman sambil menghubungi nomornya.
//Sial.. lagi-lagi gak aktif// ucap Salman kesal.
Salman mengambil kunci mobilnya dan segera menuju ke taman pinggir kota.
Ia ingin membuktikan kebenaran dari pesan tersebut.
Sampai di taman, Salman sengaja memakirkan mobilnya sedikit lebih jauh dari tamannya. Agar tidak ketahuan kalau ia sedang mengikuti petunjuk dari pesan tadi.
Langkah Salman berhenti saat pandangan matanya tertuju pada seorang wanita bercadar dengan lelaki berjas putih. Tidak lain itu adalah istrinya dengan mantan kekasihnya.
//Kenapa kamu tega membohongi suamimu?// bathin Salman.
Salman memutar balik tubuhnya dan berjalan ke arah mobil.
Brak...
Mobil menabrak seorang wanita. Salman segera menghampirinya, kemudian mobil tersebut melaju dan meninggalkannya.
Asyi dan dokter Rijal mendengar suara tabrakan, langsung ia pergi mencari asal suara tersebut.
Ia syok melihat suaminya sedang bersama seorang wanita yang ia kenal beberapa bulan lalu.
Ia dan dokter Rijal segera berlari menghampirinya.
//Rijal cepat tolongin dia// ucap Asyi.
Salman menatap istrinya dan membiarkan dokter Rijal menanganinya.
Dokter Rijal memeriksa denyut nadi wanita tersebut di tangannya.
//Ayo kita segera bawa dia ke rumah sakit// ucap dokter Rijal menatap Salman dan Asyi.
Tanpa ragu Salman langsung menggendong wanita tersebut ke dalam mobilnya dan pergi ke rumah sakit.
Asyi menyusulnya dengan mobil dokter Rijal ke rumah sakit.
__ADS_1
Tanpa bertanya sepatah katapun mereka terus melaju ke rumah sakit dengan tergesa-gesa.
Salman turun dari mobil dan mengendong wanita tersebut menuju rumah sakit.
//Sus, tolongi dia// ucap Salman menatap suster dengan kedua tangannya masih menggendong wanita tersebut.
//Baik Pak, baringkan dia di sini// ucap suster mendorong brankar ke arah Salman.
Salman langsung membaringkannya, dan mengikuti saat suster mendorong brankar tersebut.
Sesampai di rumah sakit, Asyi dan dokter Rijal langsung menghampiri Salman yang sedang duduk dengan wajahnya yang menunduk di depan ICU.
Dokter Rijal segera masuk ke ruang ICU, sedangkan Asyi duduk di samping Salman dan mengusap punggung Salman. Namun Salman hanya menoleh sesaat ke arah Asyi kemudian kembali menunduk wajahnya.
Asyi merasa sangat prihatin dengan suaminya yang begitu terpuruk atas kejadian yang menimpanya. Asyi selalu mencoba menenangkan Salman, namun sia-sia.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ICU bersama dengan dokter Rijal.
Salman langsung bangun dan menghampirinya.
//Dok bagaimana kondisi dia// tanya Salman menatap dokter.
//Bapak siapanya pasien?// tanya Dokter lembut.
//Saya kerabatnya, dok// ucap Salman.
//Pasien harus segera dioperasi karena pembekuan darah di otak, jadi kami butuh persetujuan dari keluarga pasien// ucap dokter.
//Dok, keluarganya sedang melakukan perjalan bisnis ke luar negeri, bagaimana jika saya saja// ucap Salman.
//Dok, kita lakukan saja apa yang terbaik. kita tidak mungkin menunggu persetujuan kedua orangtuanya. Keselamatan pasien lebih penting// Ucap dokter Rijal.
//Baik, mari kita lakukan operasi sekarang juga// ucap dokter.
//Sus, tolong antarkan bapak ini untuk menandatangani persetujuan operasi// ucap dokter menatap suster yang baru saja keluar dari ICU.
//Baik dok// ucap suster.
//Mari pak// lanjut Suster menatap Salman.
----
Salman terus menunggu di depan ruang operasi dengan wajah khawatir. Berjalan mondar-mandir. Membuat Asyi cemas dan bingung.
//Mas kenapa panik sekali?// tanya Asyi lembut.
//Gimana gak panik? Dia yang menyelamatkan Mas dan ini semua karenamu// ucap Salman nada tinggi.
Mata Asyi membelalak tak percaya dengan ucapan Salman terhadapnya.
__ADS_1