
Sampai di rumah kediaman Salman. Asyi langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa berkata satu katapun kepada Salman, bahkan menolehpun enggan. Salman hanya menghela nafasnya dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah kekanak-kanakan. Kemudian Salman turun dan masuk ke dalam rumah mengikuti Asyi.
Di ruang tamu terlihat Mama dan Papa yang sedang menunggu kepulangan Asyi.
//Assalamualaikum Ma, Pa// ucap Asyi menghampiri mereka.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap mereka sambil berdiri menyambut kedatangan Asyi.
//Kamu darimana saja?// tanya Mama berjalan lebih dekat dengan Asyi.
//Maafkan Asyi karena lupa memberitahukan kalian. Asyi rencananya mau nginap di rumah Mira. Asyi bosan disini Ma. Tapi karena Mas Salman udah jemput, jadi ikut pulang aja// jelas Asyi dengan lembut.
//Ya gak apa-apa. Lain kali kamu bilang dulu ya. Mama khawatir banget sama kamu// ucap Mama mengelus pundak Asyi.
//Baik Ma// ucap Asyi sambil tersenyum.
//Ya udah kamu istirahat sana, pasti Salman udah ganggu istirahat kamu ya?// ucap Mama penuh perhatian.
//Asyi ke kamar ya Ma// ucap Asyi meninggal mereka.
Asyi langsung berjalan menaiki tangga kemudian masuk ke kamar. Salman langsung berjalan di belakangnya dan ketika mereka masuk kamar, Salman langsung mengunci pintu kamarnya.
Asyi tak ingin menoleh ke arah Salman, ia malah membuka jilbab dan cadarnya, kemudian ia berjalan ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Sebelum ke sana langkah Asyi terhentikan saat Salman menarik lengannya.
//Lepaskan// perintah Asyi yang masih enggan menoleh ke arah Salman.
Salman memegang kedua pundak Asyi dan memutar tubuh Asyi agar berhadapan dengannya. Asyi tetap saja menunduk wajahnya. Ia berusaha keras menjauhkan pandangannya dari suaminya, karena ketika ia melihat wajah suaminya, terukir jelas bayangan mereka bermesraan di depannya.
//Lihat aku// ucap Salman kesal.
Lagi-lagi Asyi enggan menatap Salman.
Salman merasa geram dan mengangkat dagu Asyi dengan tangannya. Mata Asyi kini sudah dipenuhi dengan air mata, namun ia berusaha menahannya. Ia lebih memilih memejamkan matanya daripada harus menatap wajah Salman yang akan mengorek luka di hatinya.
__ADS_1
//Buka matamu// ucap Salman masih menahan emosinya.
Asyi tetap memejamkan mata tak ingin menatap wajah Salman.
//Buka matamu sekarang// titah Salman meninggikan suaranya.
Perasaan Asyi kian terombang-ambing, pelahan-lahan ia membuka matanya, seketika itu juga air matanya meleleh di pinggir matanya. Ia tak ingin menghapusnya malah menatap wajah Salman sesuai dengan perintah Salman.
//Ada apa denganmu?// tanya Salman tertegun.
//Gak ada apa-apa// ucap Asyi datar sambil menepis tangan Salman dari dagunya.
//Katakan// ucap Salman menarik lengan Asyi.
//Gak ada apa-apa// ucap Asyi datar menatap Salman.
//Kenapa kamu kekanak-kanakan sekali// ucap Salman kesal.
Asyi tak menghiraukannya dan malah membalikan tubuhnya. Ia berjalan ke arah walk in closet. Namun lagi-lagi langkahnya terhentikan dengan suara Salman.
Asyi merasa emosinya tidak tertahankan lagi, kemudian ia menoleh ke arah Salman dan menatap mata Salman dengan penuh kebencian.
//Iya, saya hebat. Karena saya hebat bisa melihat suami saya bermesraan dengan wanita lain di depan mata saya. Karena saya hebat saya bisa merelakan suami saya menikah lagi. Puas// ucap Asyi penuh dengan emosi dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
//Kamu pikir Mas senang dengan pernikahan ini? Andai kamu gak selingkuh dari Mas, sudah pasti hal ini tidak akan terjadi// ucap Salman kesal.
Asyi tersenyum sinis dan kembali menatap wajah Salman dengan kemarahannya.
//Iya saya selingkuh, apa anda puas?// tanya Asyi melupakan emosinya.
//Sudahlah, biarkan saya sendiri dan nikmati hidup anda dengan istri baru anda// Asyi menyambung kembali ucapannya. Kemudian ia berjalan meninggalkan Salman.
//Apa maksudmu ? Kamu ingin Mas menceraikanmu dan kamu bisa kembali dengan mantanmu itu?// tanya Salman meninggikan suaranya.
__ADS_1
//Saya tidak meminta anda menceraikan saya. Saya hanya minta anda tinggalkan saya sendiri dan nikmati hidup anda bersama istri baru anda// ucap Asyi membelakangi Salman.
Salman merasa sangat kesal dan ia pergi meninggalkan Asyi sendirian di kamar. Saat Asyi melihat Salman yang sudah pergi meninggalkannya, tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas dan jatuh ke lantai. Ia menangis sejadi-jadinya. Perasaannya hancur, ditambah lagi dengan ucapan suaminya yang memfitnah dirinya berselingkuh. Perasaannya kini bercampur aduk, antara kecewa dan cinta. Satu sisi ia telah berdosa membuat suaminya murka terhadapnya. Dan satu sisi lagi perasaannya telah hancur berkeping-keping dengan sikap Salman yang berubah begitu drastis.
Ia ingin mencoba meraih kembali cinta Salman, tapi semuanya sia-sia. Penyesalan selalu datang terlambat menyelimuti hati yang hancur ini.
//Aku harus kuat, apapun yang terjadi. Ini demi calon buah hatiku// ucap Asyi mengelus perutnya.
Ia berusaha bangkit dan berjalan menuju ranjangnya. Namun matanya berkunang-kunang, pandangannya semakin kabur, tubuhnya kini semakin lemah.
Brukk.. Tubuhnya terjatuh di lantai.
Sementara Salman masih berdiam diri di halaman belakang, menatap langit yang begitu indah dengan bulan yang menyinarinya ditambah lagi bintang yang menghiasinya.
Perasaan Salman semakin terombang-ambing. Antara cinta dan dusta. Ia sangat frustasi dengan semua yang terjadi.
//Ada apa denganmu nak?// ucap Papa menghampiri Salman.
//Gak ada apa-apa, pa// ucap Salman menoleh ke arah Papa.
//Kalau begitu masuklah// pinta Papa lembut.
//Salman mau disini sebentar Pa// ucap Salman penuh harapan.
//Besok kamu akan menikah, jaga kesehatanmu. Udara malam hari tidak bagus untuk kesehatan// ucap Papa lembut.
//Baiklah Pa, ayo kita masuk// ucap Salman menuruti omongan Papa.
//Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin// ucap Papa menepuk pundak Salman.
//Baik Pa// ucap Salman sambil tersenyum.
Papa membalas senyuman Salman dan pergi meninggalkannya. Kemudian Salman berjalan ke kamarnya.
__ADS_1
Klek.. Salman membuka pintu dengan sangat hati-hati agar istrinya tidak menyadarinya.
//Ya Allah, Asyi// Salman terkejut dan berlari menghampiri Asyi yang pingsan di lantai. Ia segera mengangkat tubuh Asyi dan membaringkannya di atas kasur. Rasa panik kian melanda hatinya. Ia mencoba berbagai cara untuk menyadarkan istrinya, namun sia-sia. Tubuh Asyi semakin panas. Salman berusaha mengkompresnya karena ia tau tengah malam seperti ini tidak mungkin untuk dia membawa istrinya ke rumah sakit, karena semuanya pasti sudah tidur. Ia terus mengkompres Asyi sampai panasnya turun. Ia terus melawan rasa kantuknya demi merawat Asyi semalaman, tapi ia selalu gagal melawan rasa kantuknya, hingga pada akhirnya ia terkulai di samping Asyi.