
Waktu liburan telah berakhir. Maira harus kembali melanjutkan pendidikan di pondok pesantren, begitu juga dengan Mira yang harus menyelesaikan wisuda.
Semua keluarga berangkat menuju pesantren. Menorobos jalan tol hingga tiba di sebuah desa yang ada di Bandung.
Hubungan yang terjalin diantara mereka semakin kokoh saat Asyi resmi dipinang Salman. Mereka disambut hangat oleh KH. Mahmud dan keluarganya.
Asyi yang turun segera bertemu keluarga angkatnya, memeluk Ummi Aminah dan Aina untuk melepaskan rasa rindunya.
Sambutan mereka membuat Rama dan keluarganya seperti sudah lama bersua. Terlihat dari keramahan mereka yang membuat orang betah dan nyaman untuk berlama-lama.
"Ayo semuanya masuk istirahat dulu!" titah KH Mahmud menunjukkan ke arah pintu dengan tangan yang dirapatkan jari-jarinya.
"Terima kasih."
"Aina, tolong siapkan kamar untuk tamu-tamu kita!"
"Baik, Abi!"
"Abi biar aku bantu Aina juga." Asyi segera menyusul Aina setelah mendapat anggukan persetujuan.
"Aina, Teteh senang banget ketemu sama kamu," bisik Asyi mengimbangi langkahnya.
"Aina juga, Teh ... Oh ya, Teteh di sini lama kan?" menatap penuh harap.
"Nggak tau juga. Mungkin sampai acara wisudanya selesai."
"Yah Teteh, jadi Aina cuma sebentar doang kangen-kangenan sama Teteh," bahu merosot pasrah, wajahpun ikut serta melas.
"Jangan cemberut gitu dong Aina! Jelek tau," Asyi mencubit hidungnya.
"Ih, Teteh, sakit tau!" meringis sambil mengusap hidung mancungnya.
"Jangan cemberut lag, ok!" Mengangguk kepala. Mereka mempercepat langkah masuk ke kamar. Asyi membuka seprei dan Aina yang mengambil seprei baru di dalam lemari, lalu menyambar hingga kasur tertutup rapi. Dari satu kamar pindah ke kamar lain. Rumah KH. Mahmud memang tergolong besar dan mewah untuk wilayah setempat, pasalnya rumah itu dibangun khusus oleh almarhum orangtua Asyi agar setiap ia berkunjung bisa menginap di sana bersama dengan keluarganya juga.
Semuanya sudah terlihat sangat rapi. Mereka mengusap kening yang terlihat embun di sana, lalu kembali menemui KH. Mahmud yang sedang asik mengobrol.
"Abi, kamarnya sudah siap," sela Aina.
KH. Mahmud mengangguk, lalu menatap tamunya. "Ayo, istirahat dulu! Kalian pasti sudah sangat lelah."
Menoleh pada anak-anaknya. "Aina, Asyi tolong antarkan mereka ya!"
"Maaf sudah merepotkan," ucap Yusuf.
"Sama sekali tidak merepotkan. Asyi anak saya juga," imbuhnya tersenyum penuh keikhlasan.
Mereka semua berjalan mengikuti Asyi dan Aina, menunjukan kamar masing-masing. Begitu sampai di kamarnya, Salman menarik tangan Asyi, menutup rapat pintu kamar.
__ADS_1
"Mau ke mana lagi?" tanya Salman mengunci tubuh Asyi di daun pintu.
"Mau tidur sama Aina," jawabnya polos.
"Mau ninggalin Mas sendirian di kamar?" tatapan melas.
"Bukan ninggalin, tapi cuma beberapa hari doang." Asyi memberi alasan, menatap suami yang tak berjarak, mungkin jika Salman nakal, ia akan dihujani dengan cumbuan saking begitu dekat.
Salman menggeleng kepala.
"Kalau begitu cuma malam ini aja," nego Asyi.
Salman terus menggeleng kepala tangan kirinya mendorong pintu.
"Mas, please! Cuma semalam aja," pinta Asyi mengatup kedua tangan di dada.
Tetap menggeleng kepala tanpa bersuara. Asyi menarik napas panjang serah otaknya terus berputar membujuk suaminya. Dengan senyuman manja, ia mengalungkan tangan di leher suaminya.
"Mas, Ana uhibbuka fillah. Cuma semalam dan nggak akan lama," lirihnya, tatapan manja dan merayu.
Naluri Salman sebagai lelaki langsung hidup, ia mengira Asyi sedang berinisiatif, mengangkat tubuh kecil itu ala bridal style lalu membaringkannya di atas kasur.
"Mas, bukan ini loh maksudku," mata Asyi melebar saat tubuh Salman menguncinya di bawah.
"Mas nggak peduli, siapa suruh Sayang membangunkan imron yang sedang bobo manis di dalam." Tanpa menunggu persetujuan ia langsung menghujaninya dengan cumbuan.
Suara ketukan pintu sukses membuat mereka terperanjat.
"Teh, ini Aina." Asyi mendorong tubuh suaminya hingga terjungkal. Merapikan hijab dan cadarnya lalu beranjak ke arah pintu meninggalkan Salman yang terlentang, bibir cemberut sambil mengacak rambutnya.
Pintu terbuka selebar kepala, Asyi menatap Aina. "Ada apa?"
"Teteh nghak jadi tidur sama Aina?" tanya Aina penuh pengharapan.
Melirik Salman yang tak berkutik, Asyi kembali menoleh pada Aina. "Nggak bisa, Aina. Mas Salman nggak ngizinin."
"Yah, Teh. Padahal cuma semalam doang. Habis itu Teteh sama akang Salman lagi, nggak ada waktu untuk Aina," celotehnya memanyungkan bibir.
Asyi mendengus kasar saat melihat Aina yang merengek, ia sungguh tidak tega. "Ya udah, tunggu sebentar." Aina menganggukan kepalanya. Kemudian Asyi menutup pintu, berjalan menemui Salman yang masih terlentang meletakkan tangan di atas kepala.
"Mas, Ainaβ"
"Aina minta kamu temani dia?" potong Salman dengan cepat seakan dia tau apa yang ingin dibicarakan istrinya.
"Iya Mas, boleh ya!" Asyi duduk di samping, membelai dada Salman.
"Nggak," sahutnya dengan cepat.
__ADS_1
"Ayo dong Mas." Menggoyangkan tubuh kekar itu.
Salman mendengus kasar dan mengangguk terpaksa. "Mas izinkan. Tapi cuma malam ini aja. Lain kali nggak ada izin," tegasnya. Asyi tersenyum kegirangan memeluk tubuh suaminya
"Makasih, Mas."
Asyi berpamitan, meninggalkan Salman sendirian dan menutup rapat pintu agar ia bisa istirahat dengan tenang.
Kedua wanita itu sangat senang, berjalan kegirangan menuju kamarnya.
Malam semakin larut, dalam senandung cerita Asyi mengantarkan Aina pada mimpi indahnya.
Hp yang tersilent kini kembali disentuhnya, membuka dan melihat puluhan bahkan ratusan pesan dari suaminya. Ia tersenyum membayangkan raut wajah Salman yang cemberut akibat dirinya yang mengabaikan suaminya begitu saja.
[Sayang, rindu]
[Kok nggak direspon?]
[Pasti sibuk sama Aina]
[Mas dilupain]
[Sayang nghak kasihan sama Mas tidur sendirian]
[Malam ini cuma bisa peluk bantal deh, kesal]
[Udah tidur ya?]
Asyi terkekeh sendiri membaca ocehan Salman, lalu membalasnya.
[Aku cinta Mas. Dulu, sekarang dan nanti]
Kini Salman terbaring di kasur dengan wajah kesal sendirian di kamar, matanya terus mematangin hp. Begitu layar hp menyalainia segera membukanya. Tersenyum bahagia sambil membalas.
[Mas juga akan selalu mencintaimu]
[Tadi kemana aja]
[Tadi aku ngobrol sama Aina. Sekarang baru sempat balas karena Aina nya udah tidur duluan]
[Ya udah, Sayang tidur gih sana. Besok kita harus ke acara wisudanya Mira]
[Iya Mas, I love you π]
[I love you tou π π]
Mengakhiri pesan singkat, keduanya meletakkan ponsel di atas nakas, lalu berbaring di kasur yang berbeda, tersenyum memejamkan mata.
__ADS_1