
Waktu yang telah di tentukan sudah tiba. Semua orang bersiap-siap menuju rumah Intan.
Di kamar Asyi mengenakan gaun seadanya, namun sangat serasi dengan jas yang dikenakan Salman.
Ia memakai makeup seadanya, namun menumpuk sedikit di bagian mata agar tidak kelihatan mata sembap karena tangisan berhari-hari.
Asyi membantu suaminya mengenakan pakaian, meskipun ia hanya menunduk wajahnya untuk menghindari tatapan mata dengan suaminya. Jujur saja, Asyi sangat terpukul dengan ini semua. Ia mencoba kuat meskipun hatinya seperti dicabik-cabik.
//Mas tampan sekali malam ini// puji Asyi terpaksa tersenyum.
Salman tak menghiraukan pujian istrinya dan beranjak pergi untuk menemui keluarganya yang sedang menunggunya di bawah.
Asyi hanya menatap punggung suaminya berjalan, sekali ia menatap langit-langit kamarnya untuk menahan bendungan airmata.
//Bismillah, Asyi kamu harus kuat, kamu gak boleh lemah seperti ini. Ingat, surga menantimu. Ikhlaskan semuanya// ucap Asyi menyamangati dirinya sendiri sambil tersenyum meskipun terpaksa.
Ia terus berjalan mengikuti suaminya. Ia terpaksa berakting senang untuk menutup luka hatinya.
Semuanya menatap Salman yang sedang turun dari tangga dan Asyi yang mengikutinya dari belakang.
//Ayo kita pergi// ucap Salman berjalan menghampiri keluarganya dan kemudian ia berjalan keluar.
Asyi berjalan satu mobil dengan suaminya. Mira dan Rama satu mobil, sedangkan Mama dan Papa satu mobil yang dikendarai oleh sopir.
Asyi dan Salman hanya diam tak bersuara. Salman fokus menyetir mobil dengan mata lurus menatap jalan. Sedangkan Asyi hanya menatap kaca pintu mobil dan sesekali melirik suaminya di samping yang begitu dingin.
Ia rindu canda, manja dan semua yang ada pada suaminya. Tapi hanya karena satu kesalahan semuanya hilang tak berbekas.
Mobil terus melaju sampai ke kediaman Intan. Salman langsung turun dari mobilnya tanpa sedikit kata yang keluar dari mulutnya.
//Huff.. Ya muqallibal qulub tsabbit qalbi 'aladiniyka wa'ala tha'atik.// Batin Asyi menghela nafas sambil mengusap dadanya.
Kemudian ia turun dari mobil dan mengikuti suaminya beserta keluarganya yang sudah duluan turun.
Mira berjalan di samping Asyi sambil mengusap pundak Asyi untuk menyemangtinya.
//Kakak yang tabah ya. Mira yakin, kakak pasti kuat melewati cobaan ini// ucap Mira dengan wajah kasihan.
//Insyaa Allah// ucap Asyi menatap Mira sorot mata menyembunyikan kesedihan.
Mereka terus berjalan mengikuti keluarga dan masuk ke dalam rumah Intan yang sudah mempersiapkan kedatangan mereka.
//Assalamualaikum// ucap Papa.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah. Ayo masuk masuk// ucap Papanya Intan menpersilahkan.
Mereka berjalan masuk beriringan.
//Silakan duduk// ucap Papanya Intan sambil duduk.
__ADS_1
Hati Asyi semakin berdegup kencang, dadanya kian sesak melihat Salman dan Intan yang duduk berhadapan. Pikirannya menjadi kacau. Namun tetap ia lawan rasa sakit dan cemburunya itu. Ia tau fitrah lelaki itu bisa menikah lebih dari satu wanita dan tak dipungkiri fitrah wanita itu sifat cemburu jika suaminya bersama wanita lain.
//Saya dan keluarga saya kesini berniat untuk melamar putri mu Intan untuk anak saya Salman, meskipun jadwal pernikahannya sudah ditentukan, namun bila kami tidak datang untuk melamar anakmu, seakan kami tidak punya tata kerama untuk menikahkan putra kami dengan anak gadismu. Meskipun putra kami sudah memiliki istri tapi, putrimu masih gadis dan ini merupakan pernikahan pertama untuknya. Jadi bagaimana, apakah lamar anak saya diterima? // tutur Papa lembut.
//Tidak perlu sungkan begitu. Kita tanyakan kepada anak-anak kita saja. Jika anak-anak kita setuju, maka kita akan mengikutinya saja. Jadi bagaimana denganmu Intan?// tanya Papanya Intan menatap wajah Intan.
Intan hanya tersenyum dan mengangguk wajahnya sedikit.
//Dan bagaimana denganmu nak Salman?// sambung Papa Intan menatap wajah Salman.
//Insyaa Allah saya siap om// ucap Salman lancar tanpa sedikit hambatan di lidahnya.
Duk.. Jantung Asyi berdetak kencang, hatinya kini kembali sakit. Dadanya semakin sesak. Ia menunduk wajahnya sambil mencenkram kuat bajunya, melihat suaminya yang begitu senang menjawab pertanyaan Papanya Intan tanpa sedikit hambatan di lidahnya, bahkan menoleh ke Asyi pun tidak. Asyi tak kuasa menahan bendungan airmata, hingga tetesan airmata pun turun dan segera ia menghapusnya.
Mira mengusap punggung Asyi untuk menguatkan hati Asyi. Asyi melihat wajah Mira dengan senyuman yang tertutup cadarnya.
//Kalau begitu acara pernikahannya akan kita gelar dua hari lagi dan kita lakukan ijab kabul di rumah ini// ucap Papanya Intan sambil tersenyum bahagia.
//Baik, kami mengikuti kamu saja// ucap Papa menatap wajah papa nya Intan.
//Dan untuk mahar dan lain sebagainya sudah dibicaran anak-anak kita. Kita hanya melakukan apa yang diinginkan oleh anak kita// ucap Papanya Intan.
//Baik kalau begitu, kami permisi pulang dulu ya. Kalau butuh sesuatu jangan sungkan hubungi kami// ucap Papa sambil berdiri.
//Dengan senang hati// ucap Papanya Intan sambil berdiri.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Papanya Intan mengantar mereka ke pintu keluar.
Mereka berjalan pulang ke rumah. Seperti biasa Salman hanya fokus mengemudi tanpa menoleh Asyi yang sedang duduk di smapingnya.
//Selamat ya Mas, dua hari lagi Intan akan menjadi Istrinya Mas// ucap Asyi lembut menatap wajah Salman yang begitu dingin.
//Hmm.. Terimakasih// ucap Salman datar.
Duk.. Jantung Asyi kembali berdetak. Hatinya kembali sakit. Namun ia tutupi dengan senyuman.
Mereka terus berjalan sampai ke rumah dan kembali masuk kamar masing-masing tanpa banyak berbicara.
----
Keesokan paginya setelah melaksanakan shalat subuh, Asyi kembali membaringkan tubuhnya yang lemah. Ia berniat untuk pergi ke kantor namun matanya terus terpejam tak sanggup untuk membukanya.
Salman berlalu tanpa menyentuh bahkan tanpa menoleh ke tubuh Asyi yang sedang tertidur. Ia buru-buru ke kantor tanpa sarapan pagi bersama keluarganya.
Kring.. Suara hp Asyi membangunkannya.
//Assalamualaikum// ucap Asyi sambil mengucek matanya.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap tante Faridah.
__ADS_1
//Ada apa tan?// tanya Asyi lembut.
//Kamu dimana sayang?// tanya tante Faridah khawatir.
//Ini lagi di rumah// ucap Asyi lembut.
//Kamu gak ke kantor? Ada yang tante ingin bicarakan denganmu// ucap tante Faridah.
//Gak tan, hari ini Asyi cuti// ucap Asyi.
//Are you ok?// tanya Tante Faridah khawatir.
//Ok// ucap Asyi singkat.
//Jangan tipu tante. Tante tau kamu lagi sakit, katakan sama tante, apa yang terjadi// desak tante Faridah.
//Gak ada apa-apa tan, percaya sama Asyi// ucap Asyi.
//Kamu pikir tante gak tau? Tante udah lihat semuanya di berita hari ini// ucap tante Faridah kesal.
//Berita apaan tan?// tanya Asyi bingung.
//Pernikahan suamimu// ucap tante Faridah kesal.
Asyi dengan segera mengambil Ipad nya dan membuka berita hari ini. Ia menutup mulutnya agar suara tangisan tidak keluar dari mulutnya dan ia biarkan airmatanya mengalir di pipinya.
//Asyi.. Sayang..nak// panggil tante Faridah.
//Iya tan// jawab Asyi serak.
//Kenapa kamu begitu bodoh membiarkan suamimu menikah lagi?// tanya tante Faridah kesal.
//Keinginannya tan. Asyi hanya berusaha mengikhlaskannya// ucap Asyi menahan tangisannya.
//Keinginannya ? Tapi kamu bisa mencegahnya kenapa kamu, ah.. Tante gak habis pikir denganmu// ucap tante Faridah semakin kesal.
//...// Asyi hanya terdiam.
//Dan siapa yang menulis berita busuk ini, katanya kamu selingkuh dan mengabaikan suaminya// ucap tante marah.
//Asyi gak tau tan, biarkan saja gosip itu beredar. Toh pada akhirnya kemenangan akan berpihak pada kebenaran// ucap Asyi menguatkan dirinya.
//Kamu kenapa sih? Bisa gak jangan pasrah begini. Kamu tau sakitnya dipoligami itu gimana? Tante dan mamamu udah pernah merasakannya. Masa kamu gak bisa mengambil contoh dari kami// ucap tante Faridah kesal.
//Karena Asyi mencontohkan keikhlasan mama makanya Asyi ikhlas Mas Salman menikah lagi tan. Lagian ini semua karena kesalahan Asyi, gak seharusnya Asyi bertindak konyol seperti itu// ucap Asyi lesu.
//Sayang, jangan nangis. Tante segera kesana ya. Tunggu tante. Assalamualaikum// ucap tante Faridah risau.
//Iya tan. Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Asyi.
__ADS_1