
Asyi mengambil cincin berlian dan membaca suratnya.
"Dear Asyi..
Masih ingatkah kamu dengan cincin itu? Iya kurasa kamu takkan pernah bisa melupakannya, seperti aku yang takkan pernah bisa melupakanmu. Disini aku selalu mencintaimu dulu, sekarang bahkan selamanya. Cincin itu sengaja aku simpan sebagai kenangan kisah cinta kita. Kamu ingat saat dulu aku melamarmu dengan sebuah cincin itu? Itu hari yang yang paling bahagia dan aku berharap kamu bisa selamanya ada disampingmu. Tapi maafkan aku yang membuatmu kecewa hingga kamu mengembalikan cincin itu kepadamu. Jujur, saat itu aku merasa setiap detik itu sangat menyakitkan untukku. Bahkan aku terpaksa harus berpura-pura membencimu. Itu semua aku lakukan karena orangtuaku dan tantemu. Mereka yang memisahkan kita. Aku berusaha menuruti kedua orangtuaku itu karena kamu yang menginginkannya. Karena rindu yang teramat dalam yang ku alami, aku berusaha melarikan diri dan mencari-carimu kembali, namun aku gak menemukanmu. Hingga akhirnya aku berusaha mengejar semua impianmu, impianku, impian kita. Ingat gak ketika dulu kakimu terkilir? Aku yang berusaha mengobatimu dan kamu juga berkata padaku kamu ingin aku menjadi seorang dokter, agar aku bisa mengobati luka mu dan merawatmu. Kini aku telah menjadi dokter dan aku sangat senang, ketika aku kembali ke Jakarta kamu orang yang pertama aku tolong. Iya, aku yang membawamu ke rumah sakit, dan aku yang memberimu pertolongan pertama. Saat itu aku sangat senang, seakan janji kita berhasil ku tepati. Namun yang paling menyakitkan mimpi kita sirna saat aku melihatmu bersama dengan lelaki lain. Bahkan kamu membenciku tanpa mau mendengar penjelasanku. Kamu gak mengerti bagaimana sakitnya aku berpisah denganmu bahkan ketika aku merasa senang karena bisa bertemu denganmu kembali, kini aku harus mengalami hal yang paling menyakitkan untuk kedua kalinya. Mengapa takdir ini begitu kejam kepadaku? Mengapa hanya karena mereka berkuasa, aku tersakiti ? Kamu harus tau, aku benar-benar mencintaimu, dan bukan aku yang meninggalkanmu. Tapi kedua orangtuaku dan tantemu yang merencanakan perpisahan kita.
Asyi..? Kini aku tanya padamu.. masih adakah aku di hatimu? Masih adakah sisa cinta untukku walaupun aku tau kamu telah bersuami, namun aku akan menunggumu sampai kapanpun. Aku tak peduli dengan statusmu sekarang. Aku tetap mencintaimu dan menerimaku kembali. Ku mohon kembalilah. Aku benar-benar mencintaimu sayangku. I love you. Rijal Mahendra."
Asyi menutup suratnya dan mengambil cincin itu kemudian menciumnya.
"Kenapa bisa seperti ini? Kenapa kamu tidak jujur kepadaku? Kenapa takdir mempermainkan kita? Kenapa harus orang yang paling aku cintai menjadi dalang semua ini? Kenapa...kenapa..kenapa?// bathin Asyi bersedih air mata kini membasahi cadarnya.
Asyi tersadar dari lamunannya dan kembali membereskan dan meletakkannya di dalam laci.
Asyi berusaha menghapus air matanya kemudian mengambil hpnya untuk menghubungi tantenya.
//Assalamualaikum tan// ucap Asyi.
//Wa'alaikumussalam warahmatullah// jawab tante Faridah.
//Tante lagi dimana?// tanya Asyi dengan suara parau.
//Tante ada di ruangan tante. Ada apa denganmu? Kamu habis nangis?// tanya Tante Faridah penasaran.
//Tunggu Asyi disana// ucap Asyi menutup telponnya.
//Hai kenapa dengan anak ini? Tumben-tumbennya matiin telponnya// ucap tante Faridah bingung.
Asyi langsung bergegas pergi menuju ruangan tante Faridah.
Sampai di pintu Asyi melihat sekretaris tante Faridah, langsung Asyi menghampirinya.
//Tolong jangan biarkan siapapun masuk ke dalam sebelum saya keluar dari sini// perintah Asyi menatap sekretaris tante Faridah.
//Baik bu// ucap tante Faridah mengangguk kepala.
__ADS_1
Asyi hanya tersenyum dan berjalan masuk ke ruang tante Faridah.
//Tante// ucap Asyi dengan nada tinggi dan menghampirinya.
//Ada apa sayang?// ucap tante Faridah bingung
//Ayo kita duduk dulu// ucap tante Faridah menuntun Asyi untuk duduk bersamanya di sofa.
//Tante kenapa tante ngelakuin itu ke Asyi? Apa salah Asyi?// tanya Asyi tak kuasa membendung airmatanya.
//Ngelakuin apa? Apa yang tante lakuin ke kamu?// tanya tante Faridah bingung.
//Kenapa perpisahan Asyi dan Rijal itu semuanya dalangnya tante?// tanya Asyi menatap tante dengan airmata yang terus mengalir membasahi cadarnya.
//Sayang, tante ngelakuin itu untuk mu. Demi kebahagianmu// tutur Tante Faridah lembut.
//Tapi kenapa tante? Kenapa tante tega membiarkan orang yang Asyi cintai pergi meninggalkan Asyi dengan kebencian yang Asyi tanggung selama ini? Bahkan Asyi sempat rapuh dan terpuruk tan, tante tau ini. Tapi kenapa tante tega, kenapa tan?// Asyi berteriak histeris.
Tante langsung memeluk Asyi.
Asyi syok mendengar ucap tante dan melepas pelukan tante.
//Maksud tante apa ?// tanya Asyi menatap tante bingung.
//Papa Rijal itu manta suami tante sayang.// ucap tante Faridah berusaha menahan air matanya.
Asyi membulat matanya seakan tak percaya.
//Dulu tante sama papanya Rijal sama-sama saling mencintai. Kami menjalin kasih semenjak SMA. Bahkan tante dulu juga pernah mengandung anaknya Papa Rijal dari pernikahan kami. Kami sangat bahagia, tapi semuanya berubah saat Mamanya Rijal datang ke kehidupan kami. Mamanya Rijal menjebak suami tante, hingga dia hamil, terpaksa tante mengikhlaskan suami tante menikah dengannya. Tidak sampai disitu, dia memfitnah tante berselingkuh, bahkan yang lebih kejam lagi, dia menggugurkan kandungan tante, bahkan sampai tante gak bisa punya anak lagi. Hari-hari tante dipenuhi dengan luka dan air mata. Semua keluarga suami tante membenci tante bahkan suami tante pun ikut membenci tante. Tante gak sanggup mempertahankan rumah tangga tante. Tante terpaksa bercerai dengan suami tante. Tante hanya punya kamu sayang. Mama kamu, kakak tante menitip kamu ke tante. Dan kamu ini udah tante anggap seperti anak tante sendiri. Karena itu, tante gak bisa membiarkan kamu masuk ke dalam keluarga Rijal. Tante gak ingin kamu mengalami nasib seperti tante. Cukup tante saja yang mengalami nasib pahit ini.// ucap tante dengan air mata yang terus berjatuhan di pipinya.
Asyi tertegun dan langsung memeluk tubuh tante.
//tante maafkan Asyi. Maafkan Asyi.// ucap Asyi menangis tersedu-sedu.
//Tante maafkan kamu. Tante juga minta maaf sama kamu karena telah menyimpan rahasia ini// ucap tante Faridah mengusap kepala Asyi.
__ADS_1
Tante melepas pelukan Asyi dan menghapus air mata Asyi.
//Jangan nangis lagi ya. Rijal itu masa lalumu, dan suamimu sekarang itu masa sekarang dan masa depanmu// ucap tante Faridah tersenyum.
//Iya tan. Asyi gak nangis lagi. Tante juga gak boleh nangis lagi ya// ucap Asyi menghapus air mata di pipi tante.
Tante tersenyum dan kembali memeluk Asyi.
//Kamu bukan hanya keponakan tante. Tapi juga anak tante// ucap tante Faridah tersenyum.
//Terimakasih tante sudah menyayangi Asyi selama ini// ucap Asyi tersenyum.
//Tapi bagaimana kamu tau, kalau semua ini tante dalangnya// ucap tante melepas pelukannya.
//Rijal yang menceritakannya// jelas Asyi menunduk kepalanya.
//Kamu ketemu dia lagi?// tanya tante Faridah menatap Asyi.
//Gak..gak.. Dia kirim surat ke Asyi// jelas Asyi menatap tante Faridah.
//Kamu buang semua kenangan dia dan jangan biarkan Salman mengetahuinya. Kalau gak ini bisa menjadi malapetaka bagi hubungan kalian// tutur tante Faridah memegang tangan Asyi.
//Iya tan// Asyi mengangguk kepala.
//Tan, Asyi balik dulu ya. Takut ada yang nyariin nanti// jelas Asyi tersenyum.
//Iya sayang// ucap tante Faridah tersenyum.
Asyi segera pergi meninggalkan tante Faridah dan kembali ke ruangannya.
Tante Faridah berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya.
//Rijal, kamu akan menanggung akibat jika sesuatu terjadi dengan keponakan ku// gumam tante Faridah menaikan satu alisnya.
Sampai di ruangan Asyi langsung ke kamar mandi dan mencuci wajahnya, kemudian mengganti cadarnya yang telah basah karena air matanya.
__ADS_1