Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 85 : HANCUR SUDAH


__ADS_3

\=\=\=\=\=


Terimakasih atas dukungan kalian.


Jangan cepat puas, karena banyak kejutan-kejutan yang akan Syifa sugukan dalam setiap episode.


Ikuti terus ceritanya, jangan lupa vote, like dan comment. Jika novel ini menembus deretan 10, Syifa akan buat novel ini penuh dengan canda tawa, tangisan dan air mata yang membuat kalian berharap kepada Allah sebagai jalan solusi terbaik, Inspiratif untuk setiap insan yang sedang membangun rumah tangga, dan jaga bagi para jomblo fisabilillah yang sedang berjuang menemukan jodohnya. Tidak hanya itu, Syifa juga akan menyugukan berbagai romantisme yang bikin baper pastinya. 😁


Happy reading!!! 😘


\=\=\=\=\=


Flashback Off:


Intan yang sedang berada di rumah sakit untuk membesuk kawannya yang sedang sakit, tidak sengaja melihat Asyi keluar dari ruangan dokter kandungan. Terlihat wajah bahagianya, otak Intan langsung berpikir kalau Asyi sedang hamil. Ia langsung mengikuti Asyi, kemudian ia menghubungi anak buahnya untuk memberi sedikit pelajaran kepada Asyi. Senyuman licik tergambar di bibirnya.


//Halo bos// ucap preman.


//Aku ada tugas untuk kalian// ucap Intan.


//Tugas apa bos?// tanya preman penasaran.


//Kamu beri sedikit pelajaran untuk seorang wanita, nanti foto dan lokasinya aku kirimin// ucap Intan tersenyum licik.


//Baik bos//


Tut..tut..tut.. Panggilan berakhir.


//Haha, tunggu saja. Lihatlah apa yang akan terjadi denganmu// bathin Intan tersenyum licik.


-----


Intan janjian dengan di sebuah cafe tidak jauh dari rumah sakit Mahendra.


//Kenapa kamu minta aku kesini?// tanya dr. Rijal bingung.


//wes..wes..wes.. Masa gak boleh aku bertemu teman lama// ucap Intan tersenyum penuh makna di bibirnya.


//Iya, tapi aku lagi kerja. Dan kamu jangan seenaknya suruh-suruh aku kesini// ucap dr. Rijal kesal.


//Tenang jangan marah, bentar lagi kamu juga akan senang// ucap Intan tersenyum licik.


//Maksudmu apa?// dr. Rijal mengernyit keningnya.


//Kita berdua bekerjasama saja untuk memisahkan Asyi dan Salman// Intan senyum licik.


//Bekerjasama?// dr. Rijal masih bingung.


//Yap. Aku tau kamu itu sangat mencintai Asyi dan begitu juga dengan aku yang sangat mencintai Salman. Dan nasib kita sama, kita mencintai orang yang sudah menikah, dan tugas kita untuk memisahkan mereka dan mengambil kembali apa yang menjadi milik kita// Intan menaikan alis kirinya sambil tersenyum licik.


//Aku masih gak ngerti, dan tunggu, dari mana kamu tau aku mencintai Asyi?// tanya dr. Rijal penasaran.

__ADS_1


//Apa di dunia yang aku gak tau. Semuanya aku tau, tidak terkecuali kamu// Intan tersenyum sumringah.


//Ok, sekarang katakan padaku apa rencanamu?// tanya dr. Rijal serius.


//Aku ingin kamu menjebaknya// ucap Intan dengan santai.


//Menjebak gimana? Come on dong, jangan berbelit-belit// ucap dr. Rijal kesal.


//Jadi gini. Kamu buat dia mengingat masalalunya dengan kenangan yang paling berharga dalam hubungan kalian, misalnya kamu kirimkan dia paket yang isinya barang kenangan kalian. Setelah itu pasti dia ngajak kamu ketemuan untuk membicarakannya. Dan tap, Salman akan menyaksikan semuanya, dan sisanya aku yang tangani// ucap Intan tersenyum licik.


//Ok. Deal// dr. Rijal dengan senyum liciknya sambil mengukur tangannya.


//Deal// Intan dengan senyum liciknya berjabat tangan dengan dr. Rijal.


Flashback on:


//Sial.. Aku aku gak bisa begini, semuanya gara-gara si Rina, beraninya dia khianati aku.// ucap Intan penuh amarah dan kebencian.


//Arrggg// jerit Intan memukul bantalnya.


Intan terdiam dan memikirkan orang-orang yang datang ke acara pernikahannya tadi.


//Hmm..Rijal kemana dia, kenapa dia gak kelihatan tadi?// ucap Intan menyerigai.


//Haa.. Pasti dia, iya pasti dia yanga membocorkan semuanya// gumam Intan kesal.


Intan meraih hpnya dan segala menghubungi dr. Rijal.


Tut..tut..tut..


//Argh.. Rijaaaallll// terik Intan kesal sambil melempar hpnya.


//Semuanya khianati aku// ucap Intan terisak nangis.


Intan semakin frustasi dengan sikap teman-temannya yang mengkhianatinya di tambah lagi bayang-bayang Salman dan Asyi, membuatnya semakin histeris. Ia tidak bisa menerima apa yang telah terjadi.


-----


Di kediaman dr. Rijal.


Dokter Rijal turun dari tangga dengan pakaian rapi dan senyuman di bibirnya, ia ingin pergi menghadiri akas nikah Salman dan Intan. Hatinya sangat bahagia, bahkan tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Yang jelas ia merasa selangkah lagi ia akan memiliki Asyi dengan sepenuhnya. Mengingat ibunya yang telah tiada, membuatnya sedikit lebih lega karena tidak ada lagi penghalang dari cintanya.


Meskipun selama ini banyak halangan yang ia temui dari mamanya, namun cintanya terhadap Asyi tidak akan pernah pudar, meskipun dia sudah bersuami, bahkan jika ia memiliki anak sekalipun.


Mahendra yang duduk di sofa dengan ponsel di tangannya, kemudian tak sengaja ia melihat anaknya yang senyum sumringah, langsung ia menyapanya.


//Rijal mau kemana?// tanya Mahendra menatap Ari dengan rasa penasarannya.


//Ari mau menghadiri akad nikah teman, Pa// ucap Ari menghampiri Mahendra yang sedang duduk di sofa.


//Kamu duduk dulu, ada yang ingin papa sampaikan kepada mu// ucap Mahendra lembut sambil meletakkan ponsel di atas meja.

__ADS_1


Dokter Rijal melihat jam di tangannya, kemudian ia segera duduk di samping Mahendra. Ia merasa ada sisa waktu untuk mendengarkan pembicaraan papanya.


//Ada apa pa?// tanya dr. Rijal penasaran.


//Nak kamu sudah dewasa, kapan kamu akan menikah?// tanya Mahendra lembut dengan tatapan yang serius.


//Insyaa Allah, Rijal akan menikah, tapi kalau sudah waktunya// ucap dr. Rijal santai dengan penuh percaya diri.


//Kapan itu? Papa harap kamu menikah dengan seorang gadis bukan janda// ucap Mahendra kembali menatap dr. Rijal dengan tajam.


//A...anu Pa. I..tu.. Rijal tidak bisa jamin, karena jodoh sudah diatur sama Allah, jadi kita jalani saja, mau single atau janda sama ja// ucap dr. Rijal gugup. Ia merasa permintaan Mahendra kali ini sedikit berlebihan.


//Iya, jodoh memang di tangan Allah, tapi papa tidak mengizinkan kamu menikah dengan janda, terutama dengan Asyi.// ucap Papa tegas dengan tatapan yang begitu tajam, seakan kata Asyi itu menusuk jantung dr. Rijal yang membuat matanya membelalak menatap Mahendra. Ia masih tidak percaya, darimana papanya tau kedekatannyan dengan Asyi. Namun ia mencoba menepisnya, ia menanamkan kata kebetulan dihatinya untuk menutupi rasa kecurigaannya terhadap Mahendra.


//Gak mungkinlah Pa, Asyi sudah menikah dan papa tau itu, jadi jangan khawatir ya// ucap Rijal meyakinkan Mahendra.


//Buktikan ucapan mu. Papa harap kamu tidak mengecewakan Papa dengan mengganggu istri orang, karena itu akan menjadi aib di keluarga kita, terutama hubunganmu dengan Allah, rugi saja kamu beribadah jika kelakuan kamu mengganggu istri orang// ucap Mahendra tegas dengan penuh makna.


//Ba..baik Pa// ucap dr. Rijal gugup seraya menundukkan wajahnya.


//Kalau begitu sekarang kamu ganti pakaian mu, jangan menghadiri akad nikah temanmu// ucap kembali Mahendra menatap de Rijal.


//Tapi Rijal mau kesana Pa. Ini pernikahan pertama baginya dan lagian ini weekend// jelas dr. Rijal.


//Pertama bagi mempelai wanita kedua bagi bagi mempelai pria// ucap Mahendra dengan sangat santai yang membuat dr. Rijal kaget bukan main.


//Seperti yang sudah Rijal katakan, jodoh mana ada yang tau// ucap dr. Rijal berusaha menenangkan hatinya.


//Tapi Papa harap kamu jangan mengadirinya. Papa tidak ingin kamu terlibat dalam masalah mereka// ucap Mahendra penuh harapan.


//Kenapa paa bisa berbicara seperti itu? Apa jangan-jangan papa sudah tau semuanya? Ah tidak-tidak mana mungkin Papa tau. Ini pasti cuma feeling aku aja// bathin dr. Rijal.


//Ahaha.. Gak mungkinlah, Pa//ucap dr. Rijal seolah tidak terjadi apa-apa.


//Hari ini pernikahan Intan dengan Salman suaminya Asyi bukan?// tanya Mahendra dengan santai menatap dr. Rijal dengan tajam.


//Papa tau darimana?// tanya dr Rijal kaget.


//Kamu kira hubungan Papa dengan Bramantio hanya sekedar rekan kerja?// ucap Papa menatap dr. Rijal yang masih penasaran dengan semua ucapan papanya.


//Kami ini berteman semenjak duduk di bangku sekola dulu. Jadi gak ada yang papa gak tau tentang dia// jelas Mahendra.


Dokter Ari hanya mengangguk kepala. Ia memang sangat dekat Intan dan keluarganya.


//Jadi Papa ingin kamu jangan datang kedana hari ini// perintah Papa dengan tegas.


//Tapi Pa// rijal merengek.


//Gak ada tapi-tapian// ucap Paa beranjak bangun.


Lalu ia menoleh ke wajah dr Rijal yang sudah menundukkan.

__ADS_1


//Kalau kamu nekat pergi dan mengganggu hubungan mereka lagi, Papa pastikan kamu tidak akan melihat Asyi untuk selamanya dam bahkan kamu juga tidak bisa melihat papa lagi// kecam Papa kemudian ia beranjak pergi.


Seketika itu perasaan dr. Rijal menjadi hancur, semua harapannya telah sirna. Ia melihat ponselnya yang sudah bergetar sejak dari tadi, muncul nama Intan, kemudian ia menoaktifkan ponselnya dan beranjak pegi. Ia masuk ke sebuah ruangan rahasia di kamarnya, ia menatap semua gambar kenangannya dengan Asyi. Seketika itu perasaannya menjadi rapuh, air matapun berlinang di pipinya. Bukan karena dr. Rijal seorang lelaki kemayu hanya saja perasaan cintanya yanh membuatnya lemah.


__ADS_2