Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 68 : SESUATU HAL BURUK TERJADI


__ADS_3

//Assalamualaikum// ucap Asyi memasuki rumah mertuanya.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Mama.


Asyi terus berjalan menghampiri Mama dan mencium punggung tangan Mama.


//Asyi sendiri? Salman mana ?// tanya Mama melihat ke arah pintu.


//Mama tanya seperti itu pasti Mas Salman belum pulang ke rumah// bathin Asyi.


//Mas Salman masih di rumah sakit Ma// ucap Asyi.


//Hah ? rumah sakit? Siapa yang sakit?// tanya Mama panik.


//Intan kecelakaan Ma// jawab Asyi lembut.


//Ya Allah, kasihan sekali anak itu. Malah orangtuanya lagi gak ada disini// ucap Mama panik.


//Oh ya gimana keadaannya?// tanya Mama penasaran.


//Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan sekarang hanya menunggu dia siuman// jelas Asyi lembut.


//Kalau begitu Asyi langsung istirahat aja. Mama mau telpon Papa dulu// ucap Mama.


//Baik Ma// ucap Asyi beranjak pergi ke kamarnya.


Di kamar Asyi langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Ia raih hp dan menghubungi suaminya. Namun tak sekalipun Salman mengangkatnya.


Asyi segera bangun dan membersihkan dirinya. Ia berharap setelah membersihkan dirinya, semuanya akan menjadi seperti semula.


Malam terus berlarut, namun Salman tak kunjung pulang. Di telpon berkali-kalipun tetap tidak aktif. Hati Asyi menjadi terusik. Kini ia menjadi uring-uringan. Ia mondar-mandir di depan pintu rumahnya menunggu kepulangan Salman.


Tiba-tiba Mama dan Papa turun dari mobil dan menghampirinya.


//Asyi belum tidur nak?// tanya Mama.


//Belum Ma. Asyi nunggu Mas Salman// ucap Asyi.


//Salman malam ini nginap di rumah sakit jagain Intan. Kasihan Intan gak ada yang jagain// jelas Mama.


Asyi tersenyum dan mengangguk kepalanya.


//Kalau begitu ayo kita masuk. Nanti masuk angin loh// ucap Mama tersenyum.


//Iya Ma// ucap Asyi berjalan masuk.


Di kamar Asyi merebahkan tubuhnya di kasur. Ia berbaring ke kiri dan ke kanan, namun tetap saja pikirannya tetap tidak tenang mengingat suaminya.


//Ya Allah! Mas, kenapa kamu tega meninggalkan aku sendirian// bathin Asyi sedih.


//Gak..gak..gak.. Kamu gak boleh berpikir yang macam-macam. Semuanya akan kembali seperti semula// ucap Asyi menyemangatkan dirinya.


Asyi mulai beristighfar dan terlelap.


Keesokan paginya Asyi menyiapkan sarapan untuk ia antarkan ke rumah sakit.


Ia terus berjalan ke rumah sakit untuk menemui Salman.


//Assalamualaikum Mas// ucap Asyi menghampiri Salman yang sedang duduk di ruang rawat Intan.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// jawab Salman menatap Asyi kemudian memalingkannya.


//Mas, Asyi bawain sarapan untuk Mas// ucap Asyi sambil duduk di samping Salman.


//....// Salman hanya diam.


//Mas boleh marah sama Asyi, tapi Asyi mohon.. makan dulu sedikit// ucap Asyi memohon.


//Pulanglah// ucap Salman datar.


//Gak Mas, Asyi gak mau pulang sebelum Mas makan// ucap Asyi menatap Salman.


//Aku dimana?// tanya Intan membuka matanya perlahan-lahan.


Salman segera beranjak melihat Intan.


//Kamu udah sadar Intan?// tanya Salman tersenyum.


Intan tersenyum dan mengangguk kepalanya.


//Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kamu siuman// ucap Salman tersenyum bahagia.

__ADS_1


Asyi menahan emosinya dan menghampiri Intan dan Salman.


//Cepat sembuh ya// ucap Asyi tersenyum.


//Terimakasih// ucap Intan tersenyum.


Salman menekan tombol untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokter menghampirinya dan memeriksa keadaan Intan.


//Assalamualaikum Intan, bagaimana keadaanmu?// tanya dokter Rijal.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah. Alhamdulillah saya sudah baikan dok// ucap Intan tersenyum.


//Kalau begitu biar saya periksa// ucap dokter Rijal.


//Kalian boleh tinggalkan ruangan ini sebentar?// pinta dokter Rijal menatap Asyi dengan senyuman.


//Baik dok// ucap Salman berjalan keluar.


Asyi langsung berjalan mengikuti Salman.


Di luar Asyi berusaha menjelaskan kepada Salman. Namun selalu gagal.


//Salman, kondisi Intan sekarang semakin membaik. Tolong jangan berbicara yang membuatnya kepikiran dulu, karena kepalanya baru saja operasi.// jelas dokter Rijal.


//Baik. Terimakasih ya// ucap Salman kembali masuk.


//Selamat pagi Asyi// ucap dokter Rijal tersenyum.


Asyi tak menghiarukannyan kemudian ikut menyusul Salman.


Dokter Rijal hanya tersenyum dan kembali jalan.


----


//Mas pulang aja dulu, biar Asyi yang jaga disini// ucap Asyi menghampiri Salman.


Salman menatap wajah Intan yang memberi anggukan untuk Salman pulang.


//Baiklah, aku pulang ya// ucap Salman tersenyum melihat Intan.


Salman berjalan melewati Asyi tanpa menoleh Asyi yang berdiri di depannya.


Asyi berjalan mendekat Intan dan tersenyum melihatnya.


//Bagaimana Intan? Apa kamu lapar?// tanya Asyi penuh perhatian.


Intan menganggukan kepala.


Asyi tersenyum dan mengambil mangkuk bubur yang di sampingnya.


Asyi mengatur posisi brankar agar kepala Intan lebih tinggi biar bisa lebih leluasan makan tanpa harus bergerak.


Asyi menyuapi Intan perlahan-lahan sampai buburnya habis.


//Bagaimana Intan? Enak?// tanya Asyi lembut sambil meletakkan kembali mangkuk buburnya.


Intan menganggukan kepalanya.


//Terimakasih ya// ucap Intan sambil tersenyum.


//Sama-sama Intan// jawab Asyi menatap Intan.


Intan mencoba meraih hpnya di samping Asyi.


//Jangan bergerak// Ucap Asyi menghentikan Intan.


//Biar Asyi saja// sambung Asyi mengambil hp.


Asyi memberi hp ke Intan. Intan mengambil hpnya dan berusaha menghubungi orangtuanya.


//Assalamualaikum Ma// ucap Intan.


//Wa'alaikumussalam warahmatullah// jawab Mamanya Intan.


//Mama lagi dimana? Intan sekarang dirawat di rumah sakit// ucap Intan lemah.


//Mama lagi di bandara saya. Sore nanti Mama mendarat di jakarta// ucap Mamanya Intan.


//Sayang yang sabar ya nak. Jangan banyak gerak, kalau butuh sesuatu minta tolong sama suster aja// lanjut Mamanya Intan.

__ADS_1


//Iya Ma. I love you. Assalamualaikum// ucap Intan mengakhiri panggilannya.


//I love you too. Wa'alaikumussalam warahmatullah// ucap Mamanya Intan.


Intan menyerahkan hpnya Asyi agar ia meletakkan kembali hpnya.


//Sekali lagi terimakasih Asyi// ucap Intan tersenyum.


//Sama-sama// jawab Asyi.


//Asyi gimana rasanya punya saudara?// tanya Intan menatap Asyi.


//Untuk apa kamu bertanya seperti itu?// Asyi menanya balik ke Intan dengan lembut.


//Ingin rasanya aku memiliki saudara. Ketika orangtua ku gak ada seperti sekarang ini, setidaknya ada saudara ku yang merawatku ketika sakit// ucap Intan lesu sambil menundukan wajahnya.


//Ada Asyi disini. Asyi akan merawatmu. Anggap saja Asyi sebagai saudaramu// ucap Asyi memeluk Intan.


//Terimakasih Asyi. Aku sangat senang. Bolehkah aku memanggilmu kakak?// tanya Intan tersenyum bahagia.


//Tentu. Kamu sekarang akan menjadi adik ku dan Asyi akan menjadi kakak untuk mu// ucap Asyi tersenyum sambil melepaskan pelukannya.


Intan tersenyum bahagia menatap Asyi.


//Oh ya kak, boleh bantu aku bangun?// ucap Intan.


//Kamu mau kemana?// tanya Asyi lembut.


//Aku mau jalan-jalan kak, aku bosan kak di kamar terus// jawab Intan penuh harapan.


//Tunggu ya, biar kakak panggil dokter dulu. Kita tanya apa kamu bisa keluar jalan-jalan// ucap Asyi lembut sambil menekan tombol di samping brankar.


//Ada apa Asyi?// tanya dokter Rijal menghampirinya.


//Dok, adik saya mau keluar jalan-jalan di sekitar sini, apa boleh?// tanya Asyi lembut.


//Biar saya periksa dulu// ucap dokter Rijal memeriksa Intan.


//Coba gerakkan kakimu// pinta dokter Rijal.


//Gak bisa dok, ini terlalu berat// ucap Intan menatap dokter.


Dokter Rijal segera memeriksa kaki Intan. Sesaat kemudian ia menggeleng kepala.


//Dok, apa yang terjadi dengan kaki saya?// tanya Intan panik.


//Kamu jangan panik dulu. Kaki mu hanya kaku sementara. Setelah kamu sembuh, kakimu juga akan ikut sembuh// ucap dokter Rijal tersenyum.


//Sebaiknya kamu istirahat dulu ya. Biar Kakak yang bicara sebentar dengan dokter// ucap Asyi menatap Intan.


//Dok mari// ucap Asyi.


Mereka berjalan keluar dari ruang rawat Intan.


//Rijal sebenarnya apa yang terjadi dengan Intan?// tanya Asi menatap dokter Rijal.


//Seperti yang kamu dengar tadi// ucap dokter Rijal membolak balikan bola matanya.


//Jangan bohong. Aku tau kamu sedang berbohong// ucap Asyi menatap tajam.


//Iya aku jujur. Sebenarnya dia lumpuh// ucap dokter Rijal.


//Apa? Dia lumpuh? Bagaimana bisa terjadi?// tanya Asyi menurunkan nada suaranya.


//Itu semua karena benturan keras di kepalanya, sehingga saraf kakinya tidak berfungsi// ucap dokter Rijal.


//Ya Allah.. Sampai kapan dia bakal seperti itu?// tanya Asyi menatap dokter Rijal.


//Aku gak tau. Kondisi begini bisa satu tahun bahkan mungkin seumur hidup// ucap dokter Rijal.


Tubuh Asyi menjadi gemetaran tak sanggup lagi berdiri, sehingga ia mencari tempat untuk duduk.


//Maafkan aku Asyi. Semuanya diluar kendali aku// ucap dokter Rijal mendekat Asyi.


//Iya, Ini bukan salahmu kok// ucap Asyi lesu.


//Kamu pergilah// pinta Asyi menatap dokter Rijal.


Dokter Rijal langsung berjalan dan kembali ke ruangannya.


Asyi masih duduk sendiri dengan rasa kekecewaan dalam dirinya.

__ADS_1


//Ya Allah bagaimana kalau Intan tau yang sebenarnya? Apa dia sanggup menerima cobaan yang begitu berat ini?// bathin Asyi.


__ADS_2