Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 9 : CEMBURU


__ADS_3

Perjalanan yang mengenangkan terasa begitu cepat berakhir. Kini Asyi dan Salman kembali ke tanah air.


Langkah mereka masuk ke dalam rumah disambut hangat oleh Sara, Salman segera memeluknya, disusul juga Asyi.


"Cepat banget pulangnya sih?"


"Seminggu loh Ma. Mama sih kasih cutinya seminggu, coba deh kalau sebulan, puas banget kami liburannya, iya nggak Sayang?" senggol lengan Asyi.


"Dasar pengantin baru, maunya berduaan terus?"


"Hehehe ... Iyo dong, Ma," balas Salman tertawa.


"Ya udah, kalian masuk ke kamar sana! Nikmati sisa liburanmu!" titah Sara.


"Mama pengertian banget," Salman mencium pipi Sara sekilas, menarik tangan Asyi lalu beranjak pergi.


Meskipun lelah, Salman tak kunjung merebahkan tubuhnya. Menatap Asyi yang sudah tidur, ia berjalan ke ruang kerjanya untuk mengecek email perusahaan.


Ia tidak tega jika harus membiarkan orangtuanya yang sudah tua terus bekerja menggantikannya.


Asyi yang masih terlelap tiba-tiba harus terbangun dengan sebuah ketikan pintu.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Den, Non, Ibu menunggu kalian di meja makan," ucap Bi Asih dari balik pintu.


Asyi berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.


"Baik, Bi. Sebentar lagi kami keluar."


Bibi mengangguk kepala dan pergi meninggalkannya.


Asyi menutup pintu kembali, mengedarkan pandangan mencari suaminya yang tak kunjung muncul.


Tak ingin membuat mertuanya menunggu lama, ia turun sendiri menghampirinya di ruang makan.


"Loh, Salman mana, Nak?" Sara melihat Asyi sendirian, selesai meletak piring, ia pun duduk.


"Nggak tau, Ma. Aku udah coba cari tapi nggak ada," menatap kebingungan.


Salman berjalan mengendap-endap menghampiri istrinya, lalu berbisik, "Apa kamu merindukan suamimu ini?"


Asyi terperanjat, ia memalingkan wajah, tanpa sengaja tercium oleh Salman.


Wajah Asyi memerah bercampur malu dilihat mertuanya, dan segera mendorong Salman.

__ADS_1


"Ya ampun, pengantin baru, makin mesra aja ni," Sara menyeringai.


Asyi salah tingkah, buru-buru duduk di kursi.


"Ma, papa ke mana?" tanya Salman melihat kursi yang biasa di duduki Yusuf kosong.


"Papa lagi jemput Mira sama Maira." Sara menyendok nasi ke dalam piring.


"Oh ya, nanti malam kita makan di luar ya. Mama adain acara kecil-kecilan untuk keberhasilan Mira dan Maira," sambungnya menatap anak dan menantunya.


"Siip, Ma."


"Kalian nanti ke butik, belikan baju yang bagus ya!"


"Baju kan masih banyak, ngapain beli lagi?" protes Salman.


"Acara ini spesial, Mama sama aja udah beliin baju, kelian juga harus beli dong, biar kita seragam," sahut Sara penuh semangat.


Mereka hanya mengangguk setuju.


...****************...


Sore hari, Salman masuk ke dalam mobil setelah menuntun istrinya. Mereka berjalan ke sebuah butik. Dalam perjalanan suasana terasa hening karena Asyi tak kunjung bersuara.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Salman kebingungan.


"Mama ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk menantunya. Mama ingin kita berpenampilan bagus menyambut Maira dan Mira. Jangan berpikir macam-macam! Ini semua untuk adik-adik kita."


Asyi mengangguk paham. Kini mobil sudah memasuki lahar parkiran sebuah butik. Salman turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istri tercintanya. Dengan bergandengan tangan, mereka masuk ke dalam butik.


Mata mereka berkeliaran hingga Salman jatuh pada sebuah gaun yang terpajang pada manekin. Gaun hitam dengan hiasan swarovsky di lengan dan pinggangnya membuat siapa saja yang memakainya terlihat cantik.


Salman duduk di sofa bersila kaki menunggu istrinya selesai mengenakan gaun hitam yang menjadi pilihannya.


Sesaat kemudian yang ditunggu tiba, Salman terperanjat saat melihat gaun itu begitu cantik menempel di tubuhnya.


"Cantik sekali," gumam Salman dengan pandangan tak lepas dari istrinya.


"Mas!"


"I—iya, Sayang." Salman terkejut.


"Gimana?" tanya Asyi melirik baju yang dikenakannya.


"You look so beautiful," Salman bangun berjalan mendekatinya.

__ADS_1


Asyi tersipu malu, ia bergegas kembali ke ruang ganti.


"Mbak, tolong bungkus pakaian yang dipakai sama istri saya!" pinta Salman pada karyawan butik.


Tangan menenteng paper bag, lapar pun datang menuntun mereka menuju ke restoran.


Keduanya duduk dengan santai sambil memesan makanan. Mengumbarkan kemesraan kala berdua, saling berbicara tentang cinta dan gombalan. Kerap kali Asyi dibuat tersipu malu oleh suami tampannya itu. Sungguh menggemaskan.


Dari jauh sepasang bulu mata lentik sedang menatap nanar. Ia memberanikan diri menghampiri mereka.


"Salman!" sapa seorang wanita.


"Iya." Salman memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Asyi.


"Man, kamu apa kabar? Lama banget kita nggak ketemu ya?" Wanita itu nampak bahagia seperti teman lama yang baru bertemu.


"Maaf, Mbak ini siapa ya?" Salman dengan sorot mata kebingungan dan sesekali melirik istrinya yang hanya terdiam.


'Aku Nana Wijaya, masih ingat nggak?" Wanita itu memperkenalkan diri sambil duduk di samping Salman.


"Oh iya, baru ingat, kamu anaknya Bapak Putra Wijaya temannya papa kan?"


Mengangguk kepala. "Yups, akhirnya kamu ingat juga sama aku." Bahu merosot lega.


"So, by the way kamu kenapa nggak datang ke acara perjodohan kita?" tanya Nana sembari melirik Asyi yang sedari tadi membisu.


Asyi dengan mata melotot terkejut mendengar ucap Nana lalu menunduknya kembali.


Salman kaget mendengar ucapan Nana dan melirik Asyi. "Kenalkan, ini istriku, namanya Asyi," menggenggam lembut tangannya. Asyi tersenyum merasa bahagia.


"Ini istri mu, Man? ... Wanita bercadar seperti ini?" menatap sinis.


"Iya, ini wanita yang aku inginkan selama ini," timpa Salman menguatkan genggamannya.


"Wah selera kamu rendah sekali, Man. Apa bagusnya wanita seperti ini, mending aku jelas keliatan cantik dan keluarga kamu pun kenal dekat dengan keluargaku, tak perlu diragukan lagi, daripada dia, mungkin saja luarnya aja cadar dalamnya siapa tau," ketusnya dengan nada sombong.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini! Aku tidak suka dengan wanita yang terlalu sombong sepertimu," tegas Salman dengan tatapan ingin membunuh.


"Man, buka matamu! Dia itu nggak pantas untukmu."


"Memangnya kamu siapa berhak menilai istriku? kenal pun kagak. Mending kamu pergi deh dari sini daripada aku makin marah. Bisa-bisa kontrak kerja perusahaanku dengan perusahaan PT. Wijaya gagal," kecamnya masih tetap stabil.


Nana menggempal tangannya, lalu pergi meninggalkan Salman dan Asyi.


Asyi melepaskan tangan yang digenggam suaminya dan izin ke toilet.

__ADS_1


Perasaan yang sangat peka, Salman segera bangun dan memeluk istrinya dari belakang.


__ADS_2