Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat
EP 102 : BERSEMI


__ADS_3

Tante Faridah berjalan ke taman tempat pertama ia dan Mahendra bertemu. Ia masih memikirkan apa yang dikatakan keponakannya. Ia duduk di kursi taman, dengan memejamkan matanya mengingat hal indah yang pernah ia lalui bersama dengan mantan suaminya dulu. Terkadang ia berdecak kesal ketika mengingat pengkhianatan Mahendra terhadap dirinya, bahkan perilaku dingin ia rasakan saat kehadiran ibu Rijal dalam kehidupannya.


Mahendra berjalan dan duduk di kursi taman. Ia duduk membelakangi tante Faridah. Ia terkadang tersenyum mengingat semua kenangan manis antara dirinya dan Faridah. Terkadang ia bersedih mengingat perilaku kasarnya terhadap Faridah. Ia menyesal dengan semua tindakan bodoh yang ia lakukan, ia menyesal telah melepaskan sosok istri yang begitu setia dan mencintainya. Berbeda dengan ibunya Rijal yang mencintai hartanya.


//Ah.. Begitu bodohnya aku, kenapa aku bisa meninggalkan wanita yang paling aku cintai dulunya// Mahendra berdecak kesal sambil mengacak kasar rambutnya.


Faridah merasa familiar dengan suaranya kemudian ia membalikkan wajahnya.


//Kamu// Faridah tersentak melihat Mahendra yang sedang duduk di belakangnya.


Mahendra memalingkan wajahnya dan menatap wajah Faridah. Ia sedikit tersentak melihat Faridah, ia sedikit malu dengan Faridah yang telah mendengar ucapkan.


//Faridah// ucap Mahendra gugup.


//Kamu ngapain kesini?// pekik Faridah matanya membulat.


//Aku kesini untuk menenangkan pikiranku. Kamu sendiri ngapain kesini?// tanya Mahendra lembut.


//Aku juga ingin menenangkan pikiranku// ucap Faridah lemas sambil menunduk kepalanya.


//Hmm.. apa kamu memikirkan aku seperti aku memikirkanmu?// tanya Mahendra lembut semabari menatap ke lain arah.


Jantung Faridah berdetak tidak karuan, sebenarnya ia juga memikirkan Mahendra. Tapi ia tidak mungkin mengatakan itu semua.


//Sudah ku duga. Kamu memang tidak pernah memikirkan ku lagi. Aku memang seorang lelaki ****. Beribu-ribu kata maaf pun yang keluar dari mulutku, tetap saja gak bisa menghapus semua kesalahanku padamu// ucap Mahendra melas.


Faridah tertegun dengan ucapan Mahendra, tapi apa yang harus ia katakan? Apakah ia harus jujur dengan hatinya sendiri? Atau harus berbohong dengan luka yang masih tertoreh di hatinya.


//Sebenarnya aku sudah memaafkanmu// lirih Faridah sambil menunduk kepalanya.


Mahendra terkejut dengan ucapan Faridah, ia tidak tau harus bahagia atau sedih. Yang pasti kata-kata itu benar-benar membuatnya senang.

__ADS_1


//Benarkah itu?// ucap Mahendra menatap Faridah sembari tersenyum bahagia.


//hmm// Faridah mengangguk sedikit kepalanya.


//Ku mohon katakan sekali lagi// ucap Mahendra penuh harapan.


//Aku sudah memaafkan mu// ucap Faridah menatap Mahendra.


//Terimakasih. Aku sangat senang mendengarnya. Terimakasih banget// ucap Mahendra tersenyum bahagia.


Faridah tersipu malu menatap Mahendra. Cinta yang selama ini tersimpan rapi kini terkuak kembali.


Mahendra langsung berlutut di depan Faridah.


//Faridah, will you marry me?// ucap Mahendra penuh harapan.


//Hei, apa yang kamu lakukan. Jangan bikin aku malu. Kita bukan ABG// cerocos Faridah melirik ke seluruh arah. Ia takut orang-orang akan melihatnya.


//Aku gak akan berdiri sebelum kamu menerimaku kembali// Mahendra memohon.


//Terimakasih Faridah. Aku sangat bahagia// ucap Mahendra langsung duduk di samping Faridah.


//Hmmm// Faridah menunduk kepalanya karena malu. Ia merasa seperti ABG yang sedang dimabuk cinta.


//Aku tak ingin menunggu lama, lusa aku ingin segera menikahimu// ucap Mahendra penuh harapan dengan senyumannya yang masih terukir di bibirnya.


//Kenapa harus secepat itu?// tanya Faridah menatap tajam Mahendra.


//Aku takut untuk berlarut-larut, nanti kamu akan berubah pikiran dan pergi meninggalkan aku// ucap Mahendra kalut.


//Hah.. Kamu ini kenapa? Aku bukanlah orang yang ingkar janji// ucap Faridah meyakinkan Mahendra.

__ADS_1


//Aku tau itu. Tapi aku tak sabar ingin kembali kepadamu// ucap Mahendra penuh harapan dengan senyuman manis terukir di bibirnya.


//Kamu seperti anak muda, padahal usiamu sudah tua// lirih Faridah.


//Biarkan. Yang penting aku bisa terus bersamamu. Aku tak ingin membuat kesalahan yang sama terhadapmu. Aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan mu// ucap Mahendra penuh penyesalan.


//Sudah, jangan ungkit masa lalu lagi, itu akan membuatku semakin sakit dengan luka yang kamu dan keluarga toreh terhadapku// ucap Faridah melas.


//Saat mama sekarat mama memanggil manggil namamu. Mama meminta dipertemukan denganmu. Kami sudah mencarimu keseluruh Indonesia, tapi kami tidak menemukanmu. Hingga akhirnya Mama sangat merasa sangat menyesal atas tindakannya. Mama juga minta maaf kepadamu sebelum mama meninggal// lirih Mahendra merasa pilu.


//Saat itu aku frustasi dan memilih ke luar negeri. Dalam pikiran ku, aku hanya ingin meninggalkan Indonesia ini agar aku bisa melupakanmu. Setelah aku berhasil menutup lembaran kisah cinta kita, tapi kehadiranmu kini membukanya kembali. Aku sedikit takut, kalau aku akan kembali seperti dulu lagi. Terasing dan dihina diusia yang sudah tua ini// lirih Faridah menahan bendungan air matanya.


//Kamu tau, Rijal itu bukanlah anak kandungku. Ibunya telah menjebakku untuk menanggung anak yang bukan darah dagingku// perkataan Mahendra membuat Faridah tersentak dan matanya melebar menatap Mahendra, ia masih tidak percaya dengan semua yang dikatakan Mahendra.


//Apa kamu serius?// tanya Faridah penasaran.


//Iya. Saat itu aku dijebak olehnya. Dia karyawan kantorku, waktu itu cuaca sedang hujan, aku lembur di kantor, dia menyugukan kopi untukku, saat itu aku pingsan dan ketika aku bangun dia sudah menangis histeris tanpa busana di sofa. Aku frustasi saat itu, aku merasa jijik terhadap diriku sendiri. Tapi kuasa Allah, Allah membuka semuanya duduk di bangku SMP, dia mengalami kecelakaan dan harus ditransfusi darah, ternyata darah kami tidak ada yang cocok satupun, hingga akhirnya aku memutuskan untuk melakukan tes DNA dan ternyata benar, dia bukan anak kandungku.// jelas Manderan menahan sesak di dadanya.


//Lalu kenapa Rijal masih bersamamu?// tanya Faridah bingung.


//Saat itu aku mentalak ibunya. Tapi aku tidak tega melihat Rijal. Aku mengasuhnya dan aku mencukupkan kebutuhannya. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri, aku tak ingin jika dia menjadi jahat karena ikut ibunya, makanya aku didik dia menjadi pria yang baik, tapi aku lepas kontrol, cintanya kepada Asyi sempat membuatnya buta. Tapi kini dia sudah kembali ke jalan yang benar// jelas Mahendra lembut.


//Aku salut dengan mu. Diposisi sedang marah kamu masih bisa memiliki hati yang lembut// ucap Faridah sembari tersenyum.


//Tapi aku tidak lembut denganmu. Bagaimana kamu akan memaafkan ku?// tanya Mahendra menatap Faridah.


//Nikahi aku// ucap Faridah tersipu malu.


//Dengan senang hati// ucap Mahendra tersenyum sumringah.


//Oh ya, aku harus pulang// ucap Faridah bangun dari kursi.

__ADS_1


//Biar ku antar. Ucap Mahendra menawarkan dirinya sambil bangun dari kursi dan menatap wajah Faridah.


//Terima kasih// ucap Faridah sembari tersenyum.


__ADS_2